9 Etika Yang Wajib Dilakukan Saat Anda Jadi Orang Kaya Menurut Imam Ghazali

by
Orang Kaya
Seorang pemuda kaya yang tetap rendah hati dan rajin ngaji
Orang Kaya
Seorang pemuda kaya yang tetap rendah hati dan rajin ngaji

Islam agama yang syamil dan kamil komprehensip dan sempurna. Hingga, ketika Anda menjadi orang kaya pun ada tatakrama yang harus Anda patuhi. Harta yang sudah Anda peroleh, baik secara susah payah maupun secara mudah, adalah karunia Allah. Rizki yang berupa kekayaan itupun harus diperlakukan secara baik tanpa menabrak rambu-rambu dari Sang Pemberi rizki. Sebagai pemilik harga, Anda tidak boleh serta merta bertindak sak karepe dewe. Karena, setiap yang dimiliki manusia terkandung tanggung jawab yang harus dipikul. Sikap etis dalam memiliki kekayaan termasuk dari implementasi tanggung jawab tersebut.

Imam Ghazali mengupas etika yang harus dipraktekkan ketika seseorang menjadi orang kaya. Tata krama sebagai orang kaya itu ditulis oleh ulama terkenal bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali dalam salah satu risalahnya berjudul Al-Adabu fid Dîn, persisnya dalam fasal Âdâbul Ghanî (dalam Majmû‘ Rasâil al-Imâm al-Ghazâlî, Kairo: al-Maktabah at-Taufîqiyyah). Beliau menuliskan 9 adab penting yang harus diejawentahkan oleh orang mereka yang tergolong aghniya (orang-orang kaya).

  1. Senantiasa mengedepankan sikap tawadlu’ (luzûmut tawadlu’).
  2. Menghilangkan sifat sombong (nafyut takabbur). Orang yang memiliki kelebihan, termasuk kelebihan harta benda, diharuskan untuk melestarikan sifat rendah hati, tidak angkuh, terhadap orang lain baik miskin maupun kaya seperti dirinya. Sifat ini bisa muncul jika si kaya menginsafi bahwa kekayaan hanyalah titipan atau sekadar amanat.
  3. Selalu bersyukur (dawâmusy syukr). Lawan dari syukur adalah kufur alias mengingkari kekayaan sebagai karunia yang sangat berharga. Kufur biasanya dipicu oleh sifat tamak, tak puas dengan apa yang sedang dimiliki.
  4. Terus bekerja untuk kebajikan (at-tawâshul ilâ a‘mâlil birr). Di antara modal orang kaya yang tak dimiliki orang miskin adalah kekuatan ekonomi. Karena itu hendaknya kekuatan ini dimanfaatkan untuk kemaslahatan orang lain, bukan dibiarkan menumpuk, bukan pula untuk kegiatan mubazir atau yang menimbulkan mudarat.
  5. Menunjukkan air muka yang berseri-seri kepada orang fakir dan gemar mengunjunginya (al-basyâsyah bil faqîr wal iqbâl ‘alaihi). Sikap ini adalah bukti bahwa si kaya tak membedakan pergaulan berdasarkan status ekonomi seseorang.
  6. Menjawab salam kepada siapa saja (raddus salâm ‘alâ kulli ahadin). Orang kaya juga dituntut untuk membalas sapaan yang datang dari setiap orang, terlepas dari latar belakang keturunan, kekayaan, status sosial, profesi, dan lain-lain. Manusia memang diciptakan setara dan sama-sama mulia, dan demikianlah seharusnya tiap orang saling bersikap.
  7. Menampakkan diri sebagai orang yang berkecukupan (idh-hârul kifâyah). Artinya, orang kaya tak sepatutnya bersikap memelas atau menunjukkan tanda-tanda sebagai orang yang butuh bantuan. Tentu ini berbeda dari sikap hidup sederhana, yang menjadi lawan dari berfoya-foya dan terlalu bermewah-mewahan.
  8. Lembut dalam bertutur dan berperangai ramah (lathâfah al-kalimah wa thîbul muânasah). Artinya, tidak mentang-mentang kaya dan bisa melakukan banyak hal dengan kekuatan ekonominya, orang kaya lantas boleh berbuat apa saja, termasuk berkata kasar dan merendahkan orang lain.
  9. Gemar berinfaq untuk urusan kebaikan (al-musâ‘adah ‘alal khairât). Contoh dari sikap ini adalah bersedekah, membangun fasilitas umum, memberi bantuan modal usaha, menanggung biaya pendidikan orang miskin, dan lain-lain.