Bapak Ini Bertobat Karena Anaknya Yang Tuli dan Bisu (Kisah)

by
Kisah Seorang Ayah Yang Bertobat Karena Anaknya Yang Tuli dan Bisu

Kisah Seorang Ayah Yang Bertobat Karena Anaknya Yang Tuli dan Bisu

Ayah ialah panutan dan pahlawan nomor satu di mata anak-anaknya, maka jangan heran jika anak-anak anda mengikuti semua yang anda lakukan, baik perbuatan yang dicintai Allah maupun yang sangat dibenci-Nya. Sebagai seorang panutan, bagaimana jika ternyata sosok ayah yang ada dikeluarga bukanlah sosok yang baik?

Alih-alih menjadi panutan bagi anak-anaknya, malah ada seorang ayah yang tidak segan-segan melakukan perbuatan dosa di depan anaknya tanpa rasa menyesal sama-sekali. Lalu, apakah semua anak yang tumbuh dengan sosok ayah yang demikian akan menjadi anak nakal pula?

Ternyata tidak. Maha Besar Allah dengan segala kuasa dan ketentuan-Nya. Adalah seorang laki-laki yang tinggal di Madinah berusia 37 tahun dan sudah menikah juga memiliki seorang anak laki-laki. Tidak seperti kebanyakan anak lainnya, Marwan yang masih berusia 7 tahun ini terlahir bisu dan tuli sehingga memiliki sedikit keterbatasan dalam hal berkomunikasi.

Meskipun begitu, Marwan tumbuh menjadi anak yang baik dan taat akan agama. Dari kecil ia dididik ibunya yang Shalihah dan juga hafal dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Karena sudah dari kecil diajari untuk selalu mengingat dan takut kepada Allah SWT, Marwan sering kali merasa takut dan bersedih ketika melihat ayahnya, atau orang Madinah menyebutnya dengan Abi melakukan perbuatan-perbuatan  yang dilarang oleh Allah SWT.

Selama ini, sang Ayah memang dikenal sebagai orang yang lalai. Ia lebih sering meninggalkan shalat wajib daripada melaksanakannya. Ketika melaksanakan shalat pun biasanya didasari atas ketidakenakannya dengan orang lain, atau hanya karena ingin mendapatkan pujian karena  sudah melaksanakan shalat. Tidak hanya itu saja, sang ayah juga akrab dengan dukun sehingga semakin jauh saja ia dengan jalan Allah.

Ayah Marwan ini bisa menjadi sosok seperti itu karena terjebak dengan pergaulan yang kurang baik. Hampir seluruh temannya merupakan teman yang serupa dimana jarang sekali melakukan shalat dan lebih sering mendatangi dukun  untuk mendapatkan pertolongan. Padahal satu-satunya tempat untuk meminta pertolongan dan perlindungan ialah Allah Ta’ala.

Hingga pada suatu hari selepas adzan maghrib, dimana hanya ada Marwan dan ayahnya di rumah. Sang ayah sudah akan bersiap-siap untuk keluar rumah seperti biasa untuk berkumpul dan bersenang-senang dengan teman-temannya. Marwan mengajak ayahnya berbicara dengan bahasa isyarat seperti biasa: “Abi mengapa engkau tidak shalat maghrib?”

Kemudian Marwan juga menunjukkan tangannya ke atas yang mengisyaratkan bahwa Allah di atas sana selalu melihat dan mengawasimu. Melihat sang ayah hanya diam, tidak lama kemudian, Marwan menangis tersedu-sedu. Melihat anaknya menangis, sang ayah berusaha untuk merangkul dan menenangkan Marwan.

Namun Marwan menolak untuk dipeluk ayahnya dan malah berlari ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Marwan terlihat berwudhu dengan khusyuk meskipun wudhu nya belum sempurna, dan lagi-lagi sang ayah masih terus diam melihatnya. Selesai berwudhu, Marwan kembali memberikan isyarat agar ayahnya tidak terburu-buru untuk keluar dan menunggunya sebentar.

Kemudian dibentangkanlah sajadah di depan ayahnya, dan shalat maghriblah Marwan di depan ayahnya. Melihat itupun sang ayah masih saja diam tertegun dan belum melakukan apa-apa, namun sudah dengan perasaan yang bercampur aduk tidak karuan. Setelah selesai shalat maghrib, Marwan bangun dan mengambil Al-Qur’an, tanpa ragu Marwan membuka satu halaman dan menunjukannya pada sang ayah.

Adapun surat yang ditunjukkan oleh Marwan ialahQur’an Surat Maryam ayat 45, yang artinya:

“Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzabdari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaithan”

Setelah menunjukkan ayat tersebut, Marwan kembali menangis tersedu-sedu. Tampak jelas bahwa selama ini Marwan menyimpan kekhawatiran yang sangat besar setiap kali ayahnya melakukan dosa didepannya. Merasa bersalah, malu dan tidak tahan dengan yang dilakukan oleh anaknya, sang ayah pun ikut menangis. Tangisan kedua laki-laki ini tumpah sehingga suara tangisannya seperti memenuhi rumah mereka yang hening.

Tidak lama kemudian, Marwan bangkit dan mulai mencium kening ayahnya, begitupun dengan tangan ayahnya.Lalu berkata lagi melalui isyarat tangannya: “Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah meninggal dan dikubur, dan sebelum datang adzab.”

Mendengar hal itu, sang ayah langsung merasa ketakutan yang luar biasa besar. Perasaan takut ini benar-benar tidak bisa digambarkan hingga membuatnya merasa merinding, juga sangat bersalah.Kemudian sang ayah bangkit dan menyalakan lampu disetiap ruangan rumahnya dengan diikuti Marwandengan perasaan yang sedikit aneh.

Kemudian, Marwan memberikan isyarat lagi, ia berkata: “tinggalkan urusan lampu terlebih dahulu dan marilah kita ke Masjid Nabawi.” Sang ayah menjawab, mari kita ke mesjid yang dekat dengan rumah saja. Namun Marwan terus menerus meminta untuk pergi ke Mesjid Nabawi, sehingga sang ayah merasa tidak tega untuk menolaknya dan akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Mesjid Nabawi juga.

Dengan menggandeng Marwan, sang ayah berangkat ke Mesjid Nabawi dengan perasaan campur aduk, merasa takut, merasa bersalah dan masih banyak lagi perasaan lainnya yang tidak bisa digambarkan. Dalam perjalanan ini pun Marwan tidak pernah mengalihkan pandangannya dari ayahnya.

Sesampainya di Masjid Nabawi, Marwan dan  ayahnya mencari tempat untuk shalat karena seperti biasa Masjid Nabawi selalu dipenuhi oleh Umat Muslim yang tidak hanya berasal dari Madinah saja. Setelah selesai mengumandangkan iqomah, Imam Mesjid membacakan salah  satu Firman Allah, yakni Surat An-Nur ayat 21 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah syaitan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitanitu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan  munkar.Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakii-Nya. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”

Mendengar firman tersebut, lagi-lagi sang ayah tidak bisa menahan tangisya. Marwan yang berada persis di samping ayahnya juga tidak bisa menahan tangisnya, maka pecah lagilah tangisan ayah dan anak ini. Marwan dan ayahnya duduk di Masjid Nabawi ini lebih dari satu jam dan masih terus menangis. Namun tangisan kali ini merupakan tangisan penuh makna dan pengantar kepada kehidupan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Hingga pada akhirnya Marwan mengatakan : “sudahlah wahai abiku, ku mohon”

Sadar karena telah membuat anaknya menjadi khawatir dengan tangisannya yang keras dan tak kunjung reda, sang ayah pun berusaha untuk diam dan menenangkan anaknya hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.

Untuk sang ayah, malam itu merupakan malam paling berarti dalam hidupnya karena akhirnya bisa menjadi seseorang yang jauh lebih baik, dan menjadi lebih istimewa karena anaknya satu-satunya yang membuatnya menjadi seperti itu.

Merasa penasaran, sang ayah menanyakan pada istrinya apakah istrinya yang menyuruh Marwan untuk menunjukkan surat tersebut dan membuatnya menjadi bertobat. Namun dengan mengucapkan nama Allah, sang istri yang shalehah itu berkata tidak sekalipun meminta Marwan untuk melakukannya.

Maha Besar Allah, semoga kita termasuk dalam hamba yang diberikan hidayah.