Demi Kejar Sholat Jamaah Awal Waktu, Kapolda NTB Pilih Tinggalkan Acara Festival Senggigi

by
kapolda ntb tinggalkan acara festifal demi shalat jamaah

Kapolda NTB Umar Septono Pilih Tinggalkan Acara Festival

Tidak banyak orang yang bisa konsisten dengan perkataan yang diucapkannya, entah itu pada dirinya sendiri atau dihadapan khayalak. Satu hal yang mampu kita pegang dari konsisten ialah kepercayaan yang tidak pernah luntur. Siapapun yang konsisten dengan pilihannya, sudah bisa dipastikan bahwa ia tipikal orang yang punya komitmen tinggi dalam hidupnya. Dengan begini, ia tau kemana arah dan tujuan yang mesti dicapai.

Bukan hanya masalah jabatan atau pangkat yang tinggi, pamor atau eksistensi yang melegenda di mata masyarakat dunia. Sebuah konsistensi adalah prinsip hidup yang berani dibayar dengan harga mati.

Prinsip seperti inilah yang kerap kita jumpai pada diri seorang pemimpin beberapa lembaga bahkan pemimpin negara. Mereka begitu antusias memegang teguh prinsip dalam hidupnya. Tak peduli seberapa susah rintangan yang harus dikalahkan, belum lagi waktu yang terkadang tidak memungkinkan untuk menjalankan prinsip-prinsip tersebut.

Tugas kenegaraan misalnya, hal ini seringkali disebut sebagai hal mutlak yang tidak bisa dinomorduakan dengan apapun itu. Terkadang keluarga menjadi salah satu syarat yang mau tidak mau harus ditinggalkan. Sedemikian pentingnya, seorang abdi negara yang menjadikan hidupnya untuk melayani orang banyak, mengurus segala keperluan, dan masalah yang terjadi dilapangan. Itulah serentetan kewajiban yang harus dipenuhi oleh prajurit negara: polisi.

Namun, Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB) Brigjen. Pol. Drs. Umar Septono, S.H., M.H mencoba membuka mata banyak orang, bahwa menjalankan dua kewajiban yaitu kewajiban dunia terhadap tugas yang diembannya dan kewajiban beribadah kepada Allah SWT bukanlah hal yang tidak mungkin.

Secara tidak langsung, ia telah menjadi contoh untuk para bintara menerapkan prinsip ini. Ya, tak peduli seberapapun penting acaranya, seberapa terkenal pembicaranya, sholat lima waktu adalah hal pertama yang wajib ia tunaikan sebagai rasa syukurnya terhadap Sang Khalik.

Brigadir Jenderal Umar Septono, Kapolda NTB yang lahir di Purbalingga ini juga menjadi perbincangan netizen. Diketahui ia bersama salah satu anggota polisi memutuskan untuk meninggalkan acara Festival Senggigi 16 September 2016 lalu.

Seperti yang dilansir oleh kicknews.today menginformasikan bahwa orang nomor satu di kepolisian Nusa Tenggara Barat ini mulai gelisah saat adzan asar telah berkumandang dan festival belum usai. Terlebih pada saat itu Festival Senggigi dihadiri oleh ribuan orang. Jadi mau tidak mau ia harus menerobos keramaian itu agar bisa melaksanakan sholat berjamaah di masjid.

Baca: Kapolda NTB: Shalat Jamaah 5 Waktu Di Masjid Itu Harga Mati!

Mengingat acara festival ini dihadiri oleh banyak orang, sudah pasti mobil dinasnya tidak bisa keluar. Brigadir Jenderal Umar Septono meminjam salah satu anggota polisi yang bertugas. Kemudian mereka berboncengan menyusuri jalanan yang tengah membludak oleh perayaan festival.

Kegelisahan yang terlihat jelas di wajah kapolda umar disebabkan oleh tempat festival yang jauh dari masjid. Otomatis setelah adzan asar berkumandang ia masih harus mencari masjid yang lokasinya dekat dengan tempat Festival Senggigi diadakan.

kapolda ntb tinggalkan acara festifal demi shalat jamaah

Awalnya, kejadian in tidak disadari oleh pengunjung festival. Bahkan banyak pengguna jalan dan masyarakat sekitar yang berpapasan dengan beliau namun tidak menyadari jika itu adalah Kapolda Nusa Tenggara Barat yang notabene merupakan jenderal bintang satu. Sungguh, hal ini menjadi bukti nyata bahwa prinsip yang dipegang teguh oleh seorang Brigjen Umar tidak mengenal waktu dan agenda yang mutlak ia jalankan sebagai pimpinan tertinggi di kepolisian NTB ini.

Tidak cukup sampai di situ, untuk menunaikan tanggung jawabnya sebagai pemimpin, ia pun menuntut dirinya untuk tegas dalam menetapkan peraturan. Adanya sanksi keras yang dilakukan terhadap pelanggaran peraturan ini bertujuan agar polisi mampu memenuhi dua kewajiban mutlak mereka dengan baik, yaitu kewajiban menjalankan tugas negara dan kewajiban menjalankan ibadah kepada Sang Pencipta.

Brigjen Umar Septono juga menggemparkan pengguna sosial media setelah video ceramahnya yang berdurasi selama 1 menit 1 detik dilihat ribuan kali di channel youtobe dan facebook. Video ini diambil saat beliau mengisi acara pengajian rutin yang biasa digelar bersama jajarannya. Lewat video viral ini beliau menyuntikkan kata-kata motivasi kepada bawahannya.

Motivasi untuk selalu sigap menjadi pengabdi negara, melayani masyarakat dengan baik. “Masyarakat tidak butuh Jenderal, mereka butuh Bintara-Bintara yang ikhlas melayani dan tersenyum” begitu kata Kapolda NTB, Brigjen Pol Umar Septono saat melaunching aplikasi kepolisian yang berbasis TI di gedung Sasana Dharma, Selasa (25/10).

Kapolda dermawan yang dikenal getol dengan prinsip solat lima waktunya ini memang sering ditunjuk sebagai pengisi acara pengajian. Dalam video singkatnya ia mengajak seluruh jajaran kepolisian dan masyarakat untuk menyadari pentingnya membangun relasi dengan tuhan yang maha esa. Dan menunaikan sholat tepat waktu adalah salah satu cara yang bisa dilakukan dengan segala kesibukan dan rutinitasnya sebagai Kapolda.

Baca: Kapolda NTB Gendong Sendiri Korban Kecelakaan Tabrak Lari

“Kita mulai dari Habluminallah.. Lima waktu saya di awal waktu, berjama’ah, di masjid, di barisan depan, sebelah kanan. Itu harga mati!”, seru Umar saat mengisi acara pengajian rutin bersama anggota kepolisian. Ya, baginya melaksanakan sholatlima waktu secara berjamaah di masjid adalah harga mati yang tidak bisa tawar menawar.

Hal ini menjadikan Brigadir Jenderal Umar dikenal sebagai kapolda yang rajin beribadah, tegas, ramah, sekaligus mampu mengaplikasikan pentingnya membangung hubungan dengan tuhan yang maha esa dengan kewajiban tugas duniawi yang tetap dilakukan.

Pentingnya menunaikan sholat tepat waktu adalah kewajiban untuknya. Itulah mengapa ia berani meninggalkan Festival Senggigi yang notabene adalah perayaan besar dan penting bagi masyarakat nusa tenggara barat. bahkan ia rela mempertaruhkan pangkat dan jabatan yang dimilikinya demi memenuhi hak-hak Allah. Ya, hak-hak Allah ialah mendapatkan pengakuan dari seorang hambanya yaitu ibadah yang ikhlas tanpa penundaan.

Brigadir Jenderal kelahiran Purbalingga ini pernah mengutip salah satu ayat suci Al-Qur’an yang berbunyi bahwa Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada Allah.

Prinsip sholatlima waktu yang berjanji akan ia bayar dengan harga mati ini menyadarkan banyak orang disekitarnya. Bagaimana tidak?

Di tengah rutinitas yang padat, halangan yang begitu banyaknya, seorang Umar Septono membuktikan bahwa ikatan erat yang terjalin antara hamba dengan sang pencipta tak mudah dirobohkan begitu saja.

Hal lain yang membuat nama Brigadir Jenderal ini begitu lekat di hati masyarakat ialah kedermawanan yang dimiliki. Ia kerap kali mengunjungi warga yang sakit di pelosok desa untuk memberikan bantuan, menggendong sendiri korban kecelakaan tabrak lagi sekaligus menanggung biaya pengobatannya, dan membawa tukang sapu dalam apel bersama anggota kepolisian Nusa Tenggara Barat.

Baca: Kapolda NTB: Laki-laki Yang Shalat di Rumah Namanya Muslim Sholihah Alias Bencong