Kapolda NTB Gendong Sendiri Korban Kecelakaan Tabrak Lari

by
Kapolda NTB Angkat Sendiri Korban Kecelakaan
Kapolda NTB Gendong Sendiri Korban Kecelakaan Tabrak Lari
Kapolda NTB Gendong Sendiri Korban Kecelakaan Tabrak Lari

Nama Kapolda NTB Brigadir Jenderal Polisi Drs Umar Septono SH, MH tengah menjadi perbincangan hangat di media masa. Ya, apa yang dilakukannya membuat para netizen kagum dan tak segan untuk memujinya. Bagaimana tidak? Orang nomor satu di kepolisian NTB ini tanpa ragu-ragu mengulurkan bantuannya kepada sesama. Sikapnya yang penolong, penyayang namun tegas adalah beberapa hal yang melatarbelakangi eksistensi brigadir jenderal NTB ini sebagai salah satu pemimpin yang dikenal rendah hati dan dermawan kepada siapapun. Bahkan, beberapa stasiun televisi dan media lokal yang meliputnya pun dibuat terkagum dengan kesahajaan beliau sebagai orang penting yang memiliki pangkat tinggi namun tetap rendah hati.

Salah satu hal yang berhasil mencuri hati netizen ialah aksinya yang begitu spontan menggendong anak kecil korban kecelakaan tabrak lari. Dengan baju dinasnya, ia langsung turun dari mobil kemudian menghampiri 3 korban yang tengah tergeletak di pinggir jalan. Salah satu dari ketiga korban tersebut ialah anak kecil laki-laki yang sedang menangis karena ada memar dan goresan luka di tumitnya. Kapolda yang tak pernah mangkir dari shalat berjamaah tepat waktu ini menolong langsung korban kecelakaan sebagaimana dikatakan oleh ajudannya Briptu Ramdan yang dikutip dari forums.merdeka.com sepulang dari tugas dinasnya di Lombok.

Baca: Kapolda NTB: Shalat Jamaah 5 Waktu Di Masjid Itu Harga Mati!

Saat itu, beliau baru saja selesai melaksanakan tugas dinasnya di lombok tengah. Brigjen umar Septono berpatroli untuk memantau kinerja para anggotanya yang sedang menjalankan tugas pengamanan tahun baru 2016. Tepatnya pada hari jum’at tanggal 1 Januari 2017. Tanpa disengaja, saat beliau sedang mengamati kondisi sekitar terdengar riuh dan keramaian dipinggir jalan. Melihat kejadian itu, beliaupun langsung tergerak hatinya. Ternyata pada hari itu ada sebuah kecelakaan lalu lintas di Jalan Lingkar Selatan Mataram dengan 3 orang korban tergeletak bersimbah darah. Parahnya lagi, kecelakaan ini merupakan kecelakaan tabrak lari. Sehingga tidak ada seorangpun yang bertanggung jawab menanggung biaya pengobatan para korban ini.

Ketika Kapolda Umar Septono melihat kejadian kecelakaan tersebut, beliau langsung memerintah supirnya untuk memutar balik menujulokasi kejadian berada pada sisi jalur yang lain dari arahnya di Jalan Lingkar selatan yang memang satu jalur. Ajudannya tanpa aba-aba segera menuruti perintah sang Kapolda.

“Sebenarnya sudah lewat, namun bapak memerintahkan untuk berbalik arah ke lokasi kejadian kecelakaan itu” kata Ramdan. Hal inilah yang mengundang banyak animo masyarakat. Seorang Kapolda yang penyayang terhadap sesamanya. Tanpa peduli masalah strata dan kondisi lain yang melatarbelakanginya. Sebenarnya, ia bisa saja menyuruh bawahannya untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Mengurus semua keperluan yang dibutuhkan oleh korban. Tapi lain halnya dengan Umar Septono, ia tak ragu untuk turun tangan mengatasi problema yang ditemuinya di lapangan.

Dia menjelaskan, tanpa basa basi Kapolda langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri para korban. Melihat salah satu korbannya anak kecil, beliau langsung menggendongnya. Ya, Brigjen Umar Septono adalah seorang ayah. Hati nuraninya ikut terpanggil ketika melihat seorang anak kecil tergeletak pulas sembari menangis menahan sakitnya goresan luka karena tergores aspal. Sungguh, ia sekali lagi telah membuktikan bahwa menjadi pelayan masyarakat bukan sekedar tugas yang harus ia penuhi. Melainkan kewajiban yang dengan senang hati ia jalankan. Tampa pamrih dan balasan.

Kapolda NTB Angkat Sendiri Korban Kecelakaan

Seusai menghampiri dan menggendong anak kecil tersebut, Brigjen Umar Septono berjalan cepat menghampiri mobil dan menyuruh ajudannya untuk membawa ketiga korban tersebut ke rumah sakit Bhayangkara. Menurutnya, pertolongan ini sangat darurat mengingat ketigakorban kecelakaan tabrak lari itu sudah lumayan lama menunggu bantuan.

“Bapak bilang naikan ke mobil dinasnya, tapi saya menyarankan untuk pakai mobil lain yang lebih besar karena korbannya berjumlah tiga orang agar sekalian dapat di angkut semuanya” terangnya. Kebetulan saat itu ia bersama ajudannya memakai mobil dinas berjenis sedan, jadi tidak memungkinkan apabila ketiga korban dibawa menuju Rumah Sakit Bhayangkara secara bersamaan.

Melihat hal ini, ajudan Brigjen Umar pun tak tinggal diam, ia mencarikan bantuan dengan menyetop pengendara mobil yang kebetulan melintasi tempat kejadian perkara. “Saya berhentikan mobil APV yang kebetulan lewat dan beliau sendiri yang minta tolong kepada pengemudi mobil tersebut untuk mengantar korban ke Rumah Sakit Bhayangkara” ujarnya saat diwawancarai oleh wartawan. Dari pernyataan Ramdan tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa sosok Umar Septono adalah seorang pemimpin yang luar biasa. Tanpa segan, bahkan ia sendiri yang meminta tolong kepada pengemudi agar berbaik hati mengantarkan warganya menuju rumah sakit terdekat. Pemandangan tidak biasa ini tentu menuai simpati dari pengemudi mobil APV tersebut.

Sesudah ketiga korban diangkat ke mobil APV, Umar Septono meminta ajudannya untuk segera menelpon pihak rumah sakit. Hal ini dimaksudkan agar pihak rumah sakit segera mempersiapkan perlengkapan untuk ketiga korban kecelakaan yang sedang dalam perjalanan. Sehingga ketiga korban pun akan mendapatkan pelayanan medis setibanya di rumah sakit. “Waktu itu kita sedang mengejar Sholat Ashar juga, Alhamdulillah setelah beres dan anggota lalu lintas datang, kita bergegas ke Masjid terdekat dan masih bisa menunaikan Sholat berjamaah disana” imbuhnya.

Baca: Kapolda NTB: Laki-laki Yang Shalat di Rumah Namanya Muslim Sholihah Alias Bencong

Kapolda dermawan yang dikenal tak pernah absen dari solat berjamaah lima waktu di masjid ini terlihat begitu piawai menyelesaikan dua kewajiban yang diembannya sekaligus. Dalam berbagi kesempatan, ia kerap kali memotivasi jajarannya untuk tidak meninggalkan kewajiban terhadap sang pencipta. Ya, semangat yang ia tularkan kepada anggota polisi lainnya untuk lebih dulu membangun komunikasi yang baik dengan sang pencipta. Habluminallah istilahnya. Itulah mengapa, ia getol menyerukan sholat lima waktu di lingkungan tempat ia bertugas. Tak peduli seberapa sibuk agenda yang harus dijalani, sepenting apapun materi yang disampaikan dalam rapat atau pertemuan dengan lembaga-lembaga penting dalam negeri. “Khalifah” kapolda NTB ini rela meninggalkannya demi memenuhi panggilan tertinggi yang tiada bandinganya. “Karena panggilan paling tinggi hanya satu, Allahuakbar, Allahuakbar. Panggilan mana lagi yang lebih tinggi,” ucap Kapolda.

Baca: Demi Kejar Sholat Jamaah Awal Waktu, Kapolda NTB Pilih Tinggalkan Acara Festival Senggigi

Tidak sampai disitu, selepas melaksanakan sholat ashar berjamaah. Kapolda Umar Septono meminta ajudannya untuk mengantarkan ke rumah sakit. Ia ingin meminta konfirmasi perihal ketiga korban yang ditolongnya. karena merupakan korban tabrak lagi, tidak ada penanggung biaya ketiga korban tersebut. Disinilah kedermawanan seorang petinggi kepolisian ini kembali membuka mata publik. Ya, beliaulah yang menanggung seluruh biaya pengobatan tanpa ada jaminan apalagi pamrih dari ketiga korban tersebut. “Saya dengar sekilas saat berbincang dengan kepala Rumah Sakit, bapak yang menanggung semua biaya pengobatan para korban tabrak lari yang ditolongnya tersebut” imbuhnya.

Itulah sekilas cerita mengenai Kapolda Umar Septono, pemimpin yang tak pernah gengsi turun tangan menanggapi permasalahan yang ada. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pemimpin seperti inilah yang diidam-idamkan oleh masyarakat. Dekat dan penyayang dalam memberikan pelayanan.