Kapolda NTB: Shalat Jamaah 5 Waktu Di Masjid Itu Harga Mati!

by

Kapolda NTB Shalat Jamaah 5 Waktu Di Masjid Itu Harga Mati

Kapolda NTB Brigjen Umar Septono, selama ini dikenal sebagai pribadi yang supel, dermawan, namun tegas dan ketat terhadap peraturan. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang disiplin terutama dalam hal beribadah. Ya, posisi tinggi yang dimilikinya sebagai orang nomor satu di Kapolda NTB tidak membuatnya larut dengan berbagai kesibukan, rapat, dan berbagai pertemuan penting lainnya. Hal ini bisa dibilang sangat mengagumkan, mengingat kesibukan seorang pemimpin polisi yang tentu harus berkutat dengan segudang permasalahan.

Pemimpin yang dermawan ini sering mengisi acara pengajian rutin yang dilaksanakan setiap minggunya di masjid sekitar tempatnya bertugas. Dalam pengajian rutin tersebut, Brigjen Umar tak segan untuk menyerukan kalimat-kalimat motivasi kepada segenap jajarannya.Kalimat motivasi tersebut diharapkan mampu membentuk jiwa ksatria seorang polisi yang dilandasi dengan perilaku orang beriman sebagai syarat mutlak nomor satu.

Menurutnya, sikap dan perilaku seorang polisi sebagai pelayan masyarakat akan terbentuk dengan sempurna apabila dilandasi dengan Habluminallah yaitu hubungan dengan Allah atau sang pencipta. Menyadari kehadiran manusia sebagai hamba yang punya kewajiban terhadap Tuhan Yang Maha Esa, membangun hubungan dengan sang pencipta adalah langkah awal yang konkret guna mengetahui beratnya tanggung jawab yang harus diemban oleh pelayan masyarakat, terlebih bagi pemimpin polisi seperti Kapolda Umar Septono.

Baca: Kapolda NTB Gendong Sendiri Korban Kecelakaan Tabrak Lari

Kedisiplinan inilah yang melatarbelakangi berbagai program baru setelah ia resmi menjabat sebagai Kapolda Nusa Tenggara Barat menggantikan Brigjen Sriyono. Kebijakan yang ia terapkan ialah kewajiban melaksanakan sholat dhuha bagi prajurit polisi yang beragama islam. Ia pun tidak segan untuk memberikan ganjaran yang setimpal apabila ada bawahannya yang terbukti bersalah melanggar aturan. Adanya sanksi keras yang dilakukan terhadap pelanggaran peraturan ini bertujuan agar polisi mampu memenuhi dua kewajiban mutlak mereka dengan baik, yaitu kewajiban menjalankan tugas negara dan kewajiban menjalankan ibadah kepada sang pencipta.

Pernyataan tegas dalam video yang diunggah ke YouTube itu menjadi viral dan banyak mengundang perhatian dari masyarakat Indonesia yang berisi pidato Brigjen Umar Septono telah banyak membuat warga indonesia khususnya Nusa Tenggara Barat terpana. Bagaimana tidak? Lelaki kelahiran Purbalingga yang masih berseragam dinas saat mengisi acara pengajian rutin bersama beberapa ustadz dan jajarannya ini dengan lantang menyuarakan bahwa tidak ada panggilan yang lebih tinggi selain panggilan dari Allah, yaitu Allahu Akbar. Panggilan untuk melaksanakan sholat lima waktu yang wajib dinomorsatukan di atas segala kepentingan, termasuk kepentingan duniawi yang mempertaruhkan jabatan tinggi yang disandangnya.

Hal lain yang tak kalah mengejutkan dari seorang Kapolda Umar Septono ini ialah prinsip hidup yang dipegangnya. Begitu teguhnya, ia bahkan rela mengorbankan pangkat dan jabatan yang dimiliki demi memenuhi kewajiban terhadap sang Pencipta. Itulah mengapa sholat lima waktu adalah oksigen untuk hidupnya, tanpa membangun pondasi yang kukuh bersama sang pencipta, segala urusan tidak akan terselesaikan dengan lancar.

Seperti berita yang dilansir oleh salah satu media lokal, menyatakan bahwa Brigjen Umar Septono rela meninggalkan pertemuan penting bersama lembaga tinggi negara saat adzan dhuhur sudah berkumandang. Tanpa basa-basi, beliau menerobos ribuan peserta rapat dan bergegas mencari masjid terdekat. Padahal, ini bisa dibilang hal yang tidak lumrah mengingat materi yang disampaikan dalam rapat merupakan materi penting.

Baca: Demi Kejar Sholat Jamaah Awal Waktu, Kapolda NTB Pilih Tinggalkan Acara Festival Senggigi

Di lain kesempatan, ia juga pergi meninggalkan salah satu festival yang digelar di Nusa Tenggara Barat karena takut terlambat melaksanakan sholat dhuhur. Ia bergegas keluar dari area festival dan mencari pinjaman motor bersama anak buahnya karena jalanan yang sesak dan padat tidak memungkinkan untuk dilewati mobil dinas. Jarak masjid dengan tempat festival pun cukup jauh, itulah mengapa ia tidak peduli dengan kondisi. Hal ini pun lagi-lagi membuat mata para peserta festival terpana. Sungguh, betapa sibuk dan menumpuk tugas seorang Brigadir Jenderal, Umar Septono membuktikan bahwa ikatan batin antara makhluk dengan penciptanya sangat kuat. Hal inilah yang melandasi umar saat harus menyelesaikan berbagai problema yang ia temui di lapangan.

“Kita mulai dari Habluminallah.. (Shalat) Lima waktu saya di awal waktu, berjama’ah di masjid, di barisan depan, sebelah kanan. Itu harga mati!”, tegas Umar saat mengisi acara pengajian rutin bersama anggota kepolisian. Ya, baginya melaksanakan sholat lima waktu secara berjama’ah di masjid adalah harga mati yang tidak bisa tawar menawar. Hal ini menjadikan Brigadir Jenderal Umar dikenal sebagai kapolda yang rajin beribadah, tegas, ramah, sekaligus mampu mengaplikasikan pentingnya membangun hubungan dengan tuhan yang maha esa dengan kewajiban tugas duniawi yang dilakukan.

Baca: Kapolda NTB: Laki-laki Yang Shalat di Rumah Namanya Muslim Sholihah Alias Bencong

Ketika seruan adzan berkumandang, sesibuk dan sepenting apapun agenda yang sedang dijalankan, Brigjen Umar rela meninggalkan demi memenuhi hak Allah yang sudah semestinya dibayar lunas oleh hambanya. Baginya, tanggung jawab terhadap sang pencipta adalah hal utama. Sampai-sampai ia rela mengorbankan pangkat dan jabatan tinggi yang dimilikinya sebagai Kapolda Nusa Tenggara Barat. Dalam pidatonya, ia tak pernah lepas dari yang namanya Al-Qur’an. Ayat-ayat suci Al-Qur’an seringkali ia jadikan obat mujarab untuk mengingatkan betapa pentingnya ibadah. Salah satu ayat yang sangat membekas di hati netizen ketika melihat video ceramahnya di YouTube atau Facebook ialah pernyataan yang menjelaskan bahwa tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadanya.

Selain dikenal teguh menerapkan prinsip sholatlima waktu sebagai harga mati, Umar Septono juga sering melakukan kegiatan bakti sosial di sela-sela waktu luangnya. Ia kerap mengunjungi warga miskin atau warga yang sedang sakit di daerah terpencil untuk memastikan keadaannya. Bahkan ia pun rela memikul 1 kantong beras dan 2 dus mie instan untuk diberikan kepada seorang warga Darul Falah Utara, Kelurahan Panjisari, Lombok Tengah. Warga itu bernama Amaq Saini. Beberapa bawahannya menawarkan bantuan untuk membawakan beras dan bahan makanan yang ia bawa. Namun Brigadir Umar yang dermawan menolak dan memikulnya sendiri. Pemandangan tak biasa ini sebenarnya merupakan hal sederhana, tetapi jarang kita temui.

Lahir pada tanggal 13 september 1962, Umar Septono dikenal memiliki sikap ramah dan merakyat. Ia pernah menyempatkan diri untuk ikut gotong royong membangun masjid bersama warga sekitar padahal ia masih mengenakan seragam dinas.

Baca: Kapolda NTB Pikul Beras Sendiri Untuk Warga Miskin

Wah, sudah sepatutnya kita bangga ya memiliki pemimpin negeri yang bisa dijadikan suri tauladan bagi bawahan dan masyarakat sekitar.Rela melayani dengan sabar dan ikhlas hati. Brigadir Umar Septono sosok pemimpin yang lekat dengan rakyat, berwibawa, tegas, disiplin, serta tak pernah membedakan pergaulan dengan strata. Pemimpin seperti inilah yang akan mendongkrak jiwa patriotisme para pengabdi bangsa.