Pengertian Dendam dalam Islam dan Bahaya Sifat Dendam (الحقد)

by

KlikIslam.com – Agama Islam yang penuh rahmat dan kasih sayang melarang pemeluknya memelihara sifat dendam terhadap siapa saja, karena dendam adalah sifat yang berbahaya, baik bagi dirinya, keluarganya atau orang lain.

أَبْغَضُ الرَّجُلِ إِلَى اللهِ أَلَدُّ الْخِصَامِ (أخرجه مسلم

Artinya:
“orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menaruh dendam kesumat (bertengkar).”(HR.Muslim)

Pengertian Dendam Dalam Islam Menurut Imam Ghazali

Dendam dalam bahasa Arab disebut juga dengan Al-Hiqdu الحقد . Menurut Al-Gazali dalam bukunya Ihya Ulumud Din jilid III, dijelaskan bahwa Hiqdu (الحقد) atau dendam berawal dari sifat pemarah. Sifat marah (ghadlab) itu terus dipelihara dan tidak segra diobati dengan memaafkan, maka akan menjadi dendam terhadap orang yang menyakiti kita.

Pengertian dendam secara istilah adalah perasaan ingin membalas karena sakit hati yang timbul sebab permusuhan, dan selalu mencari kesempatan untuk melampiaskan sakit hatinya agar lawannya mendapat celaka, barulah ia merasa puas.

Sebenarnya dalam Islam diajarkan kepada kita agar kita tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan, justru ketika seseorang berbuat kejahatan kepada kita maka kita harurs mendoakan orang tersebut agar Allah SWT mengampuni dosa orang yang sudah berbuat kejahatan kepada kita, memaafkan kesalahannya dengan ikhlas, dan mendoakannya agar Allah membukakan pintu hatinya serta menjadikan dia orang yang sholeh dan bisa berperilaku baik.

Al Ghazali menganggap penting perkara hati ini. Beliau mendeteksi bibit dendam (الحقد) adalah dari amarah berlebihan. Beliau berkata: Ketahuilah kemarahan itu apabila tetap meluap-luap karena memang tidak dapat melenyapkannya seketika, maka ia masuk kedalam hati dan terus bergejolak dalam hati, sehingga akhirnya menjadi dendam.

Nah, oleh karena itu, hapuskan amarah dan buang jauh-jauh kenangan pahit yang sudah terjadi. Jangan seperti tulisan dalam gambar ini 🙂

pengertian dendam dalam Islam

Bahaya Sifat Dendam Menurut Ustadz Arifin Ilham

Berikut tulisan KH Muhammad Arifin Ilham tentang dendam. Tulisan ini kami copy dari fanpage beliau.

===============

Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu.

SubhanAllah sahabat sholehku mari kita renungi bersama tentang penyakit hati sifat dendam dg segala akibatnya :

1. Dibenci oleh Allah dan RasulNya.
2. Merusak kesehatan, meningkatkan tekanan darah dan debar jantung.
3. Merusak kinerja dan mengganggu konsentrasi semua aktifitas.
4. Menambah lawan dan mengurangi kawan.
5. Meningkatkan permusuhan.
6. Menimbulkan banyak kerusakan.
7. Membuat hidup tidak tenang.
8. Tanda sombong, seakan diri suci tidak pernah berbuat salah.
9. Tidak akan masuk Syurga krn termasuk pemutus shilaturrahm.

‎عن جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم: ((لَا يَدْخُلُ الْجَنّةَ قَاطِعٌ)) يَعْنِي قَاطِعَ رَحِمٍ. متفق عليه Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Tidak akan masuk surga pemutus tali silaturrahim”

(Muttafaq ‘alaihi)

Allahumma ya Allah bersihkan diri kami dari sifat dendam, dengki dan permusuhan…aamiin.

===================

hadits bahaya sifat dendam

Rasulullah Saw Seorang Yang Lapang Dada dan Tidak Pendendam

Dalam mengarungi dakwah, tidak jarang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi penolakan-penolakan yang sangat kasar. Meski demikian, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap teguh untuk menjadi seorang insan pemaaf, mengabaikan tanggapan negatif tersebut.

Hari-hari yang datang silih berganti, benar-benar, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dedikasikan sepenuhnya untuk menciptakan kebaikan dan keselamatan bagi umat manusia. Tidak pernah terbersit pun pada benak beliau untuk memuaskan emosi pribadi dengan melancarkan balas dendam terhadap kaum yang menentang. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dititahkan untuk memilih jalan damai, memaafkan kesalahan orang yang masih dalam kungkungan jahâlah (ketidaktahuan). Harapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tiada lain supaya lahir manusia-manusia yang hanya berserah diri secara tulus kepada ilah (sesembahan) yang haq.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. [al-A’râf/7:199].

Memaafkan tidak identik dengan kehinaan dan ketidakberdayaan. Bahkan sifat memaafkan merupakan cermin kebesaran jiwa dan kekuatan hati, serta lapang dada. Sebab, pada dasarnya ada kesanggupan untuk membalas. Sikap yang baik ini, akan menunjukkan rasa kebesaran jiwa, yaitu menumbuhkan ketenangan, ketentraman, kemuliaan dan keperkasaan jiwa, yang tidak akan dijumpai tatkala melampiaskan api dendam.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :

وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

Dan tidaklah Allah menambah seorang hamba dengan kemudahan untuk memaafkan kecuali Allah akan memberinya izzah (kemuliaan). [HR Muslim no. 6535].

Dengan demikian, orang yang berakal seharusnya mengamalkan nasihat Ibnu Hibban rahimahullah dalam Raudhatul-‘Uqalâ` (hlm. 166): “(Betapa pentingnya) seseorang melatih diri untuk berlapang dada terhadap kesalahan manusia, tidak membalasnya dengan kejelekan. Karena, tidak ada obat yang paling efektif dapat meredam kejahatan (orang lain) melebihi perbuatan yang baik kepadanya. Dan, tidak ada faktor yang mampu menyalakan dan menyulut kejahatan, melebihi apa yang dilakukan dengan kejahatan serupa”.

Dalam perjalanan sejarah Islam, ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma pernah meriwayatkan sikap lapang dada yang sangat fantastis pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai, Rasulullah! Pernahkah engkau melewati suatu hari yang lebih berat dari peperangan Uhud?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Aku telah mengalami gangguan dari kaum-mu. Peristiwa yang paling berat kulalui adalah pada hari ‘Aqabah. Aku mendatangi Ibnu ‘Abdil-Lail bin Abdi Kilal, namun ia tidak menyambutku. Aku bergegas pergi dalam keadaan sedih bukan kepalang. Aku baru menyadari ketika telah sampai di daerah Qarnuts-Tsa’âlib. Aku angkat kepalaku, dan tiba-tiba terlihat awan yang menaungiku. Aku amati, dan muncullah Jibril seraya berseru,’Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan dan penolakan kaummu. Dia Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk siap engkau perintah’. Malaikat penunggu gunung pun memanggil dan mengucapkan salam kepadaku, seraya berseru: “Wahai, Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar penolakan kaummu. Dan aku penjaga gunung mendapat titah untuk menerima perintahmu sesuai dengan kehendakmu. Jika engkau mau, maka aku akan benturkan dua gunung ini di atas mereka”.

(Mendengar seruan malaikat ini), beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam justru berkata:

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلاَبِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ الهَi وَحْدَهُ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

Sesungguhnya aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. [HR Muslim no. 4629].

Subhanallah, betapa menakjubkan dan betapa indah perilaku Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Meskipun mendapat gangguan yang berat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata tetap membuka pintu maaf.

Semoga shalawat dan salam-Nya senantiasa tercurahkan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , keluarga dan para sahabatnya sampai datang hari Pembalasan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XI/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl9 Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Cara Menghindari Sifat Dendam (الحقد)

a. Mengetahui bahaya dari sifat dendam

b. Senantiasa ingat kepada Allah dalam keadaan apapun

c. Memaafkan kesalahan orang lain

d. Saling menghormati dan menyayangi sesama manusia