Jamaah Tabligh memiliki agenda rutin; pertemuan tahunan. Acara ini sering disebut-sebut sebagai the second biggest muslims gathering after hajj’. Sebuah Konferensi internasional rutin tahunan khusus Jamaah Tabligh ini merupakan berkumpulnya umat Islam terbesar kedua setelah perhelatan ibadah haji di Mekkah.

Organisasi para juru dakwah yang telah menggurita di seluruh dunia ini didirikan oleh syeikh Muhammad Ilyas bin Syeikh Muhammad Ismail, bermazhab Hanafi, Dyupandi, al-Jisyti, Kandahlawi (1303-1364 H).

Jamaah Tabligh (JT) berpusat di perkampungan Nidzammudin, Delhi, India. Mereka memiliki masjid sebagai pusat tabligh yang dikelilingi oleh 4 kuburan wali. Dari Niszamudin inilah gerakan Jamaah Tabligh dikendalikan.

Kini, pengikut Jamaah Tabligh (JT) telah menyebar di 215 negara di 5 benua. Tak terkecuali Indonesia. Bagaimana asal muasal Jama’ah Khuruj ini datang ke Indonesia? Serta di mana pusatnya untuk wilayah nusantara?

Kisah Awal Mula Jama’ah Tabligh Masuk Temboro Indonesia

KH Uzairon Thoifur Abdillah hafidzahullah (pengasuh pesantren Temboro, wafat hari Senin, 21 Juli 2014 bertepatan dengan 22 Ramadhan 1435 H) pernah mengisahkan tentang awal mula Jamaah Tabligh (JT) di bumi Temboro, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.

jamaah tabligh temboro

Beliau berkata bahwa Jamaah pertama yang sampai ke Temboro adalah Jemaah Ulama dari Pakistan, di awal tahun 80-an.

Jamaah ini datang ke Pondok Kyai Mahmud (sekarang pondok al-Fatah), ketika waktu shalat Zuhur baru masuk , santri2 pondok dan Kyai Mahmud baru sedang memulai shalat Zuhur dimana Kyai Mahmud sendiri yang menjadi Imam dalam shalat berjemaah tersebut, jemaah ini kemudian turut bershalat bersama di belakang Kyai Mahmud .

Kemudian, setelah selesai shalat Zuhur tersebut, Kyai Mahmud yang saat itu merupakan mursyid Tariqat Naqsabandiyah Al Mujaddadiyah Al Khalidiyah di Indonesia, merasakan sesuatu yang luar biasa dari makmunnya ketika sedang sholat tadi , (satu rohaniat yang luar biasa). kemudian kyai berbisik memanggil santrinya dan bertanya siapakah yang menjadi makmun ini? , kemudian salah satu santri beliau menjawab bahwa yang menjadi makmun kepada kyai dalam shalat Zuhur ini ialah Jemaah dakwah dari Pakistan yang baru saja datang ke pondok mereka dan mengambil wudhu bersama salah satu santri ,

Kyai begitu terkejut dengan khabar tersebut, lantas bersilaturrahim dengan mereka, kemudian jemaah ini di jadikan tetamu di pondok kyai. setelah lama berbincang ,kyai pun bertanya apakah amalan kamu (Jemaah dakwah) sehingga saya merasakan sesuatu yang luar biasa ? , (telah berkata Kyai Ubaidillah, yaitu adik kyai Uzairon, perkara ini merupakan perkara biasa yang mana kebiasaan kepada ahli zikir karena dapat merasai rohaniat orang lain).

Kemudian jemaah ini memberitahu bahwa mereka mempunyai maksud besar di mana mereka (Jemaah) ini di utuskan oleh Hadrat ji (Amir Jemaah Dakwah) Maulana Inamul Hassan rah supaya datang ke pondok Kyai untuk mengajak kyai bergabung dalam usaha dakwah, kata jemaah ini lagi, sebelum mereka diputuskan ke sini (pondok kyai), mereka telah diberikan bayan hidayah (penerangan) dan amalan khusus dari Hadratji yaitu dakwah khuruj fisabilillah , Kemudian, kyai begitu terkejut karena menyangka bahwa yang dirasakan rohaniat yang hebat itu datang dari jemaah ini, dan kyai beranggapan bahwa pasti yang mengijazahkan amalan ini lebih hebat amalannya, kemudian setelah lama berbincang dengan Jemaah, Jemaah ini membuat tashkilan / ajakan kepada Kyai Mahmud untuk datang menziarahi sendiri Hadratji Maulana Inamul Hassan rah.
Kemudiannya, setelah keberangkatan Kyai Mahmud ke India Markaz Masjid Banglawali , Hadratji Maulana Inamul Hasan menyambut kyai dengan mesra sekali seakan sudah lama mereka tak bertemu, sedangkan itu merupakan safar pertama Kyai Mahmud ke Markaz Masjid Banglawali. Setelah, menetap beberapa hari di markaz, Kyai Mahmud pun berangkat pulang ke Indonesia dengan membawa amanah besar kerja dakwah tabligh dari Hadratji Maulana Inamul Hassan .
Alhamdulillah, berkat perjuangan Kyai Mahmud dalam memimpin gerakan dakwah ini, kini bumi Temboro kian subur di sinari amalan dakwah yang kelihatan begitu bersinar dalam masyarakatnya. Kita akan begitu terkejut jika kita berada di sana, kita menaiki taxi atau becak, maka kita akan di dakwah perkara agama oleh pemandu taxi atau becak ini. Kawasan ini kini mendapat julukan perkampungan Madinah , menjadi salah satu percontohan kampung islami di Asia Tenggara , dan ada yang menjulukinya Little Raiwind .
Begitu juga kemajuan pusat pengajiannya yaitu Pondok Al-Fatah yang pernah di bina oleh anak Kyai Mahmud sendiri yaitu Kyai Uzairon Thaifury Abdilla , yang belum lama ini meninggal dunia , bahkan pondok ini juga mempunyai ribuan santri / pelajar agama dari seluruh pelosok negara di Asia Tenggara bahkan pondok ini telah melahirkan ilmuan-ilmuan agama yang telah berkhidmat di negara atau kampung halamannya masing-masing .
SubhanAllah …


Selama ini, kita mengenal Pondok Pesantren Temboro sebagai markas Jamaah Tabligh terbesar di Asia Tenggara. Ternyata di samping itu, pesantren salaf ini juga telah melahirkan ribuan santri penghafal Hadits. Ada penghafal Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Bulughul Maram, dll.

Pondok Al Fatah Temboro

Mengapa menghafal Hadits? Mengapa tidak menghafal Al Qur’an?

Jangan salah. Hafalan hadits dilakukan setelah para santri menghafal Al Qur’an. Rata-rata pesantren di Indonesia mengajarkan kitab-kitab kuning. Ini juga diajarkan di Al Fatah Temboro. Tak terhitung pesantren di nusantara yang fokus pada mencetak para penghafal Qur’an. Dan, pondok Temboro pun gudangnya penghafal Al Qur’an. Bahkan, ketika Ramadhan di sana di adakan tarawih 20 rakaat dengan mengkhatamkan hafalan Qur’an semalam. Al Hasil dalam sebulan khatam 30 kali. Jadi, bisa dikatakan bahwa ciri khas Ponpes Al Fatah Temboro adalah Tahfidz Hadits dan Dakwah.

Pesantren Harapan di Tengah Minimnya Penghafal Hadits

Tidak banyak pondok pesantren yang mempunyai perhatian berlebih pada pembelajaran, kajian dan tahfidz Hadits. Padahal, hampir setiap Ulama dan ilmuan muslim memulai karir keilmuannya dengan menghafal al-Qur’an, dilanjutkan dengan ilmu hadits, dan ilmu-ilmu dasar keislaman lainnya.
Seperti dikemukakan Imam al-Nawawi, mereka memulai belajar dengan menghafal al-Qur’an. Ilmu hadits, fiqih dan lainnya baru diajarkan setelah hafal al-Qur’an.

Pesantren Temboro


Para sahabat banyak yang bergelar huffaz atau qurra’ untuk dipersiapkan menjamin keterpeliharaan al-Qur’an. Ibn ‘Abbas, selain hafal al- Qur’an juga hafal berbagai sair Arab klasik (jahiliyah). Setiap kali ditanya oleh Ibn al-Azraq tentang makna kosa kata sulit dalam al-Qur’an, dengan piawai ia mendatangkan dari hafalannya berbagai syair Arab yang menjelaskan maknanya.

Alhamdulillah, kita punya Pesantren Al Fatah Temboro yang melaksanakan pembelajaran dan kajian hadits serta memberlakukan kebijakan menghafal hadits (tahfidz al-Hadits kepada para santrinya. PP. Al-Fatah berada di Desa Temboro, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Jawa Timur (selanjutnya, disebutkan dengan “Pondok Temboro”).

Kebijakan menghafal hadits di Pondok Temboro bermula dari adanya anjuran pengelola pesantren yang diawali sekitar tahun 2007/2008 agar para santri memiliki hafalan hadits, yang akhirnya sampai tahun 2012 kegiatan menghafal hadits ini menjadi sebuah tradisi.

Wisuda Penghafal Shahih Bukhari PP Al Fatah 2012

Pada acara Wisuda Kelas Daurah dan Takhassus 2 September 2012, Pondok Al Fatah mewisuda 10 santri hafal Shahih Bukhari.

Ke 10 santri yang hafal Bukhari mendapatkan hadiah kehormatan Umrah gratis.

Salah satu wisudawan ada yang bernama Ali Mahmud (23th) asal Riau. Di samping hafidz Qur’an, santri yang sudah 8 tahun belajar di Al Fatah ini juga hafal 500 hadits Shahih Muslim, dll.

Ada juga nama Hasan Biki (20th), Surabaya. Hafal Alfiyah Ibnu Malik. Dan yang pasti sudah selesai Hafalan Al Qur’an 30 juz.

Dan, yang paling menarik ada nama Kholil Ahmad (19th). Beliau adalah KH Uzairon Thoiful Abdillah (pengasuh PP Al Fatah). Beliau sudah hafal Qur’an usia 9 tahun.

Dan hasilnya, di antara 2000 santri yang diwisuda pada tahun 2015, diantaranya terdapat:
  • 1 santri yang mampu menghafal 10.000 hadits1 santri yang mampu menghafal 7.500 hadits
  • 6 santri yang mampu menghafal 7.313 hadits
  • 28 santri yang mampu menghafal 5.000-5600 hadits
  • 46 santri yang mampu menghafal 3000-4300 hadits
  • 16 santri yang mampu menghafal Bulugh al-Maram
  • 22 santri yang mampu menghafal Mukhtasar Bukhari.

Dan, semua santri yang mampu menghafal hadits tersebut sekaligus mampu menghafal al-Quran dengan rincian:
  • 27 santri mampu menghafal al-Qur’an tanpa salah 
  • 163 santri mampu menghafal al-Quran dengan disertai adanya beberapa kesalahan.


Bisa disimpulkan dari banyaknya jumlah santri yang mampu menghafalkan ribuan hadits, bahwa kajian hadits di Pesantren Temboro menunjukkan hasil yang perlu diapresiasi, terlebih di antara mereka terdapat juga sebagian besar yang telah hafal al-Qur’an.

Kondisi ini menunjukkan, bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang berfungsi sebagai lembaga tafaqquh fi al-Din, telah mampu memberikan kontribusi nyata terhadap kajian Islam. Karena mampu menghasilkan para penghafal al-Qur’an (hamil al-Qur’an) dan penghafal hadits.

Menengok sejarah, bahwa menghafalkan hadits merupakan bagian kegiatan yang tak terpisahkan dari periwayatan hadits. Periwayatan hadits adalah sebuah proses penerimaan (naql dan tahammul) hadits oleh seorang periwayat dari gurunya, setelah terlebih dahulu hadits tersebut dipahami, dihafalkan (dhabt), dihayati, diamalkan, ditulis, dan disampaikan kepada orang lain sebagai murid dengan menyebutkan sumber pemberitaan riwayat tersebut.

Di antara hadits yang telah diterima oleh para sahabat Nabi, ada sebagian yang dihafal dan ada pula sebagian yang dicatat. Di antara sahabat yang banyak menghafal hadits adalah Abu Hurairah. Sedangkan sahabat yang membuat catatan hadits adalah Abu Bakar, Ali ibn Abi Talib, ‘Abd Allah ibn ‘Amr ibn Al-’As dan ‘Abd Allah ibn ‘Abbas ra.


Pondok Temboro Magetan

Pesantren Al Fatah Tempat Belajar Hadits Rekomendasi Ustadz Abdul Somad

Ustadz Abdul Somad, ketika ditanya tempat-tempat yang baik untuk belajar Hadits. Beliau merekomendasikan Ponpes Al Fatah Temboro sebagai pesantren Hadits Terbesar. Beliau memberikan urutan sebagai berikut:
  1. Pondok Pesantren Al Fatah Temboro
  2. Masjis Tafaqquh Fid Din, Syeih Nuruddin, Bogor
  3. Darul Hadits, Maghribi
  4. Majlis Sayyid Ahmad Mekkah. Beliau adalah putra sekaligus penerus halaqah Sayid Muhammad bin Alawy bin Abbas Al Hasani Al Maliki.
  5. Darul Musthofa di Tarim, Yaman (Habib Umar Al Hafidz)
Apa Saja Kitab yang Dipelajari di Ponpes Al Fatah?

Berikut kurikulum Pesantren Al Fatah Temboro yang kami copy dari Kang Muhajid.

Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro
InsyaAllah lengkap…
.
Sekolah Formal ada, Hafalan Qur’an ada , kitab kuning ada..
.
Berkuda, memanah ,beladiri boxing ada…
.
Dibaca sampai selesai ya 😊
.
FIQIH
==========
Kelas 1 mabadi fiqh
Kelas 2 matan taqrib
Kelas 3 baijuri
Kelas 4 baijuri
Kelas 5 i’anah
Kelas 6 i’anah

NAHWU
==========
Kelas 1 jurumiyah
Kelas 2 mukhtasor jidan
Kelas 3 imrithi
Kelas 4 qowaidul lughoh
Kelas 5 & 6 ibnu aqil

TAUHID
==========
Kelas 1 aqidatul awam
Kelas 2 tijan darori & qothrul ghoits
Kelas 3 jawahir kalamiyah
Kelas 4 kifayatul awam
Kelas 5 & 6 dasuki

TAJWID
==========
Kelas 1 syifaul jinan
Kelas 2 tuhfatul atfal
Kelas 3 jazariah

SHOROF
==========
Kelas 1 penunjang shorof
Kelas 2 qowaidul ilal
Kelas 3 maqsud

HADITS
==========
Kelas 1 hadits miah
Kelas 2 arbain nawawi
Kelas 3 fathul qorib mujib
Kelas 4 & 5 misykah
Kelas 6 hayatus shbah

USUL FIQIH
==========
Kelas 4 mabadi awaliah
Kelas 5 sulam
Kelas 6 waroqot

FAROIDH
==========
Kelas 4 & 5 kitab mawaris karya syeikh shobuni

MUSTHOLAH
==========
Kelas 4 qowaidul asasiyah
Kelas 5 & 6 manhal latif

Lanjut…
==========
Daurah 1 ( tahun ke 7 mondok ) , memperdalam hadits shahih Muslim, Tirmidzi, Nasai

Daurah 2 ( tahun ke 8 mondok ),memperdalam shahih Bukhari, Abu Dawud Ibnu Majah

Takhosus 1 ( tahun ke 9 )
Takhosus 2 ( tahun ke 10 )

Khuruj 1 tahun untuk santri putra…


Pondok Temboro Dan Jamaah Tabligh“, begitu judul asli tulisan ini. Penulisnya bukan pemuda sembarangan. Beliau adalah Gus Yusuf Al-Baqir (26 th), hafidz Qur’an sejak usia 9 tahun, hafal kitab shahih Bukhari serta ribuan hadits lain. Beliau adalah putra KH Uzairon TA (pengasuh Ponpes Al Fatah yg wafat pada 2014).

Yuk kita baca tulisan beliau berikut ini dengan bacaan Bismillaahirrahmaanirrahiim:

pesantren al fatah temboro


Perjuangan demi perjuangan di lalui, cobaan demi cobaan di lewati tanpa henti. Namanya hidup didunia dilanda suatu ujian itu hal biasa. Sebaik apapun syiar islam atau sebuah pondok pesantren jika yang menilai orang yang memiliki rasa dengki dan iri hati, maka seribu satu macam jalan yang dibuat untuk menyebarkan fitnah, menggiring opini agar ummat tidak lagi berimpati kepada syiar islam atau pondok pesantren tersebut. Andai saja pendiri atau pengasuhnya bukan seorang kekasih Allah, mungkin sudah lama pondok pesantrennya ditutup, sebab mereka yang hatinya di penuhi rasa benci.

Tapi tidak semudah itu, sebab pesantren kami tidak dibangun berasaskan materi, dengan hasil meminta profosal dan donasi sana-sini, meminta sumbangan dari orang yang mengiming-ngimingkan janji. Apa lagi mereka yang hanya sekedar lewat mencari dukungan demi menjadi petinggi negri, kemudian hilang seakan ditelan bumi. Tidak juga dengan meminta bayaran pendaftaran dan bulanan (SPP) yang besar kepada setiap santri, dengan menjual nama Pesantren lebel Sunnah.

Akan tetapi pesantren kami berasaskan rasa cinta yang berlandaskan amal agama. Doa-doa beliau, wali-wali Allah yang ada didalamnya, serta santri-santri yang datang dari berbagai penjuru nusanntara, bahkan dari belahan dunia. Doa dan wujud kerja sama yang baik dengan ahli kampungnya, dan para wali santri yang notabenenya adalah jamaah tabligh, yang telah berjuang untuk menjadikan anak-anaknya orang yang sholeh-sholehah, alim-alimah, hafidzoh-hafidzoh, agar kelak senantiasa mengamalkan agama.

Doa para da’i Allah di seluruh penjuru tanah air indonesia dan dunia, yang mana doa-doa tersebut dipanjatkan penuh keikhlasan, sertai rasa cinta dan air mata. Sehingga dengan kekuatan ini pesantren kami wujud, berdiri kokoh, dan tidak mudah tergoyahkan fitnah ulah media yang sengaja ingin merusak citra pondok dan kampung kami tercinta. Sebab ini pula yang menjadikan kampung kami barokah, menjadi asbab hidayah bagi siapa saja mengunjunginya.

Mereka yang membenci, mencaci dan mencela, terkadang hanya korban isu berita media yang tidak bertanggung jawab dan manipulasi. Dan kemungkinan besar juga mereka belum pernah menginjakkan kakinya dipesantren kami, dan belum pernah berkunjung ke kampung temboro tempat pesantren kami berada.

Atau bisa jadi, mereka hanyalah orang-orang yang memiliki kepentingan dunia, berpura-pura baik demi memcari popularitas, tapi dibenak mereka tidak ingin melihat agama ini tegak dan di amalkan dengan sempurna dalam satu kampung dan oleh setiap individu ummat. Mereka datang untuk melihat, mencari titik kelemahan dan kesalahan, bukan untuk memetik sebuah hikmah.

Atau mereka adalah orang-orang yang berfaham sekuler, menginginkan kebebasan hidup, tanpa di atur-atur agama. Mereka pengadu domba, dengan membenturkan agama dengan aturan suatu negara. Mencari sasaran sebab utama dalam penyebaran agama, maka ditemukanlah jamaah tabligh yang berpusat didesa Temboro, sebelumnya ditemukan dimasjid kebun jeruk JKT, Seri Petaling Malaysia, dan juga NIDZOMUDDIN india sebagai markas dunia.

Dan mereka ada juga dari segelintir manusia, yang hanya fanatik buta pada satu kelompok, yang mana mulut mereka mudah mengkafirkan, membid’ahkan siapa saja yang tidak sependapat atau berseberangan dengan mereka. Dan itu merupakan inti dari da’wah yang didoktrin oleh guru mereka dalam kajiannya. Bahkan dalam sakte mereka sendiri, sering terjadi kontradiksi satu sama lain. Mulai dari ustadznya sampai kepada murid-muridnya.

Orang-orang yang punya kerakter seperti keterangan di atas, lalu apa tanggapan dari pihak pondok pesantren kami dan Jamaah Tabligh? Tidak lain, hanya mendoakan hidayah, bersyukur.. karena dengan cobaan-cobaan hidup itu dapat menggugurkankan dosa. dan berterima kasih kepada mereka, karena tidak perlu susah payah, pihak pesantren kami dan jamaah tabligh dapat hadiah istimewa dari mereka berupa kado pahala yang akan terus mengalir.

Jika orang yang dihatinya sudah tersimpan secercah titik hidayah, maka ketika berkunjung kedesa temboro, dia akan terharu, dan akan mudah menerima kebaikan-kebaikan. Bagaimana tidak, sebelum masuk desa temboro sudah terpampang tulisan “KAWASAN WAJIB BERBUSANA MUSLIM”. Iya! disana semua wanitanya yang menutup aurot dengan sempurna, laki-lakinya serempak belajar mengamalkan sunnah, mulai dari berpakaian, berjenggot dan sunnah-sunnah lainnya. Jika tiba waktu sholat serempak untuk berjamaah di masjid-masjidnya, tanpa terkecuali dari kalangan apapun juga.

Disini juga kita bisa menemukan tukang ojek yang lebih mementingkan sholat berjamaah, ketimbang mengejar orderan penumpangnya. Maka ketika melihat kenyataan ini, hati mereka yang kunjungpun terketuk untuk turut mendoakan, bukan seperti mereka ikutan-ikutan membenci, mencaci dan mencela.!

Jika saudara datang kepesantren kami, di sana sudah ada pelayan ruang tamu yang siap melayani 24 jam, dan menyediakan ruang tamu dengan pelayanan komplit, mulai dari kamar tidur, kamar mandi, dan makan gratis. Bagitu pula jika saudara datang ke Markas Tablighnya, disana sudah ada istiqbal yang siap menyambut 24 jam, dan menyediakan ruang tidur, kamar mandi dan makan gratis. Sesekali datang berkunjunglah kesana, agar saudara tidak cepat tertipu dan terhasut berita media.

Kita sering mendengar berita mereka yang terekspos di media, mereka yang membanggakan tanah air indonesia. Mereka yang membawa berbagai prestasi dari luar dan dalam negri, menjuarai berbagai event agamis. Yang jika mendengarnya sangat membanggakan hati, dan itu merupakan sauatu kebanggaan juga buat kami.

Tapi tahukah saudara bahwasanya, dipondok pesantren kami setiap tahunnya mengeluarkan puluhan santri yang yang telah wisuda belajar dan menghafal ribuan hadist, bahkan pernah menjadi pemecah rekor dunia tak terkalahkan sampai hari ini, dengan menghafal 10.000 hadist. Mengeluarkan puluhan santri yang menghafal kitab Mukhtasor Bukhori, menghafal kitab Minhaj Ath-Tholibin. Mengeluarkan ratusan santri Khatam Qubro Al-qur’an, ratusan santri Khatam Sugro Al-qur’an, dan Khatam Hafalan kitab lainnya.

Tidak cukup sampai disitu, setelah berbulan-bulan belajar, mereka akan ada latihan menyampaikan ilmunya, melalui kerja Dakwah Watabligh, dikirim keseluruh penjuru tanah air indonesia, sampai keluar negri. Sehingga kalau ada yang nyinyir orang dakwah meniggalkan kelurga, terbantahkan sebab mereka masih anak-anak muda.

Maka ketika saudara membenci, menghina dam mencela pesantren kami atau jamaah tabligh, sacara tidak langsung saudara telah membenci, menghina dan mencela mereka mulai dari para Ulamanya, santri-santrinya yang telah belajar dan menghafal hadist-hadist Nabi dan mereka yang hafidz-hafidz Al-Qur’an. Yang mana mereka anak-anak yang latar belakang orang tuanya adalah Jamaah Tabligh.

Andai semua prestasi ini diekspos dimedia, tentu lebih membanggakan, bukan hanya indonesia, bahkan mungkin dunia. Semangat mereka dalam mendalami ilmu agama, oleh guru kami “Syeikhuna Ubaidillah Al-Ahror Rohimahullahu Taala Anhu” tidak diabaikan begitu saja, mereka di beri hadiah yang begitu istimewa, yaitu berupa uang tunai dan umroh ke baitullah.

Mungkin kita sedikit bertanya : Lalu dari mana dananya semua itu?. Jawabnya : Dari uang pribadi beliau, bukan minta donasi atau dapat sumbangan dari luar negri.!

Satu lagi, orang sibuk bicara kontradiksi bid’ahnya tarawih 20 rokaat, tapi tetap saja dikerjakan diMekkah dan Madinah hingga hari ini, dan Alhamdulillah pondok pesantren kami dan desa temboro tarawihnya 20 rakaat, dengan membaca berjuz-juz Al-Qur’an, mulai dari ada yang 1 juz, 2, 3 hingga sampai 30 juz Al-Qur’an dalam satu malam. Ketika seluruh dunia mengggap mustahil untuk dibuat, pondok pesantren kami dan desa temboro yang mengawali.

Siapapun insya Allah akan bangga dengan prestasi ini, kecuali mereka yang dihati dan akalnya sudah terbentuk sifat membenci, mencaci, mencela yang kemungkinan besar itu juga dianggap sebagai sebuah prestasi buat mereka. Maaf, berita ini tidak bisa did
apatkan melalui media, jika saudara ingin mendengarkannya langsung, silahkan berkunjung kesana, kepondok dan desa kami.

Pondok pesantren kami tidak membatasi berapa dan siapapun yang berkunjung, baik dari kalangan Jamaah Tabligh, Nahdlatu Ulama, Muhammadiyah, Salafi, dan lain sebagainya. Di sana akan ditegur sapa dengan ramah. Berbeda itu hal biasa, yang penting tidak saling membenci, mencaci, dan mencela yang akan menimbulkan sebuah permusuhan.

Benar jika ada yang mengatakan pesantren kami adalah basis Jamaah Tabligh, karena Jamaah Tabligh bukanlah suatu kelompok organisasai yang membeda-bedakan kefahaman. Hanya sebuah nama sebutan yang membentuk satu fikir, satu kerja, yaitu mengajak ummat untuk taat kepada Allah dan kembali kepada sunnah baginda Rosulullahu Shollallahu Alaihi Wasallam. Mengajak ummat untuk ramai-ramai menghidupkan amal agama, dirumah, dimasjid dan dalam kehidupan sehari-hari.

Saudaraku, Jagalah jari dan lisanmu dari menulis dan membicarakan sesuatu yang kamu tidak ketahui kebenarannya, karena itu semua kelak akan kamu pertanggung jawabkan dihadapan Allah Subhanahu Wataala.

Salam kami untuk semua, semoga setelah covid19 berlalu, kita bisa beraktifitas kembali sebagaimana biasanya. Kerja, ibadah dan saling selaturrohim satu sama lain. Santri-santri kembali dengan sehat dan memulai aktifitas belajar sebagaimana mestinya. amin….

” Anggaplah cobaan hidup itu seperti air, ia mungkin membuatmu basah, menggigil, dan tak nyaman. tapi yang jelas ia akan membuatmu bersih dari kotoran-kotoran (Dosa)”

Muballigh Islam,
8 Mei 2020 /15 Romadhon 1441 H

======oleh Gus Yusuf Al-Baqir Rohimahullahu Taala Anhu._ atau biasa dipanggil Gus Yusuf, putra K.H. Uzairon Thoifur Abdillah pendiri Pesantren Al-Fatah Temboro. Saya sangat kagum dengan kedalaman ilmu beliau, selain beliau sudah hafal al-Qur’an pada umur Sembilan tahun, juga hafal ribuan Hadis Rasulallah saw.

berapa jumlah malaikat keseluruhanBismillah, innal hamda lillah…

Sebelum membahas berapa jumlah malaikat, kita akan muroja’ah dan menyegarkan ingat kita. Bahwa, iman (percaya) terhadap adanya malaikat adalah bagian dari rukun Iman. Yakni menduduki posisi kedua setelah iman kepada Allah.

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضًا قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ : أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ
 
Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata : Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya. Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.” Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Lelaki itu berkata lagi : “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.” Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku : “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab,”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no.8]
 
 

Lalu, Ada Berapa Ribu Milyar Jumlah Malaikat?

 
Jumlah total malaikat tidak terhitung oleh manusia. Hanya Allah saja yang tahu.
Malaikat adalah tentara Allah (junudullah). Tidak ada yang tahu berapa jumlah tentara Allah selain Dia sendiri Yang Maha Tahu.
Sebagaimana telah ditegaskan dalam QS. Al-Muddatsir: 31.
 
 
وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْبَشَرِ
 
“Tidak ada yang tahu berapa jumlah pasukan Tuhanmu kecuali Dia. Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.” (QS. Al-Muddatsir: 31).
 
Yang pasti berapa tepatnya populasi malaikat itu bukan urusan kita. Ilmu kita sangat terbatas sehingga kita hanya bisa mengatakan jumlah Malaikat itu sungguh sangat banyak.
 
Beberapa Bukti Bahwa Malaikat itu Sangat Banyak Jumlahnya:
 
 
1. Hadits Pemegang Tali Jahannam
 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallan bersabda:
 
يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَها سَبْعُوْنَ أَلْفِ زَمامٍ، مَعَ كُلِّ زَمامٍ سَبْعُوْنَ أَلْفِ مَلَكٍ يَجُرُّوْنَها
 
“Jahannam akan didatangkan pada hari itu dan jahannam itu memiliki 70.OOO tali kekang, yang setiap tali kekangnya ditarik oleh 70.000 malaikat”. [HR. Muslim no.2842]
 
 
2. Hadits tentang langit merintih
 
Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 
إِنِّي أَرَى مَا لَا تَرَوْنَ، وَأَسْمَعُ مَا لَا تَسْمَعُونَ أَطَّتِ السَّمَاءُ، وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلَّا وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا لِلَّهِ، وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
 
“Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat, aku mendengar sesuatu yang tidak kalian dengar. Langit merintih… dan layak baginya untuk merintih. Tidak ada satu ruang selebar 4 jari, kecuali di sana ada malaikat yang sedang meletakkan dahinya, bersujud kepada Allah. Demi Allah, andaikan kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan sering menangis…” (HR. Ahmad 21516, Ibnu Majah no.3397, Turmudzi 2312, Baihaqi no.12.967).
 
 
3. Hadist Tentang Baitul Ma’mur
 
Ketika Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dimi’rajkan, maka diantaranya beliau oleh Malaikat Jibril -‘alaihis shalaatu wa sallam- ditunjukkan suatu tempat ibadah yang namanya Baitul ma’mur:
 
فَرُفِعَ لِي البَيْتُ المَعْمُورُ، فَسَأَلْتُ جِبْرِيلَ، فَقَالَ: هَذَا البَيْتُ المَعْمُورُ يُصَلِّي فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ، إِذَا خَرَجُوا لَمْ يَعُودُوا إِلَيْهِ آخِرَ مَا عَلَيْهِمْ
 
Kemudian ditunjukkan kepadaku baitul ma’mur. Akupun bertanya kepada Jibril, beliau menjawab, “Ini Baitul ma’mur, setiap hari ada 70.000 malaikat yang shalat di dalamnya. Setelah mereka keluar, mereka tidak akan kembali lagi, dan itu menjadi kesempatan terakhir baginya”. [HR. Bukhari no.3207, Muslim no.164, Ahmad no.17.380, Nasa’i no.448, Ibnu Khuzaimah no.301]
 
 
Subhanallah… Allahu Akbar!

Beberapa rekomendasi Hasil Muktamar Ulama Internasional di Chechnya Rusia dengan tema ” SIAPAKAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH ITU ? ” yang diselelnggarakan pada Hari Kamis – Sabtu, 25 – 27 Agustus 2016

بسم الله الرحمن الرحيم

– أهل السنة والجماعة هم الأشاعرة والماتريدية في الاعتقاد وأهل المذاهب الأربعة في الفقه، وأهل التصوف الصافي علمًا وأخلاقًا وتزكيةً.
.
Bismillahirrohmanirrohim…

Ahlussunnah Wal Jamaah adalah Al Asya’irah dan Al Maturidiyah dalam akidah, empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali dalam fikih, serta ahli tasawuf yang murni –ilmu dan akhlak— para ulama yang meniti jalannya.

– للقرآن الكريم حرم يحيطه من العلوم الخادمة له، المساعدة على استنباط معانيه، وإدراك مقاصده وتحويل آياته إلى حياة وحضارة وآدابا وفنون وأخلاق ورحمة وراحة وإيمان وعمران وإشاعة السلم والأمان في العالم حتى ترى الشعوب والثقافات والحضارات المختلفة عيانا أن هذا الدين رحمة للعلمين وسعادة في الدنيا والآخرة.
.
Al-Quran Al-Karim adalah bangunan yang dikelilingi oleh berbagai ilmu yang membantu untuk menggali makna-maknanya dan mengetahui tujuan-tujuannya yang mengantarkan manusia kepada ma’rifat kepada Allah SWT., mengeluarkan ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya, mengejawantahkan kandungan ayat-ayatnya ke dalam kehidupan, peradaban, sastra, seni, akhak, kasih sayang, kedamaian, keimanan dan pembangunan. Serta menyebarkan perdamainan dan keamanan di seluruh dunia sehingga bangsa-bangsa lain dapat melihat dengan jelas bahwa agama ini adalah rahmat bagi seluruh semesta alam, serta jaminan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

هذا المؤتمر نقطة تحول هامة وضرورية لتصويب الانحراف الحاد والخطير الذي طال مفهوم “أهل السنة والجماعة” إثر محاولات اختطاف المتطرفين لهذا اللقب الشريف وقصره على أنفسهم وإخراج أهله منه.
.
Muktamar ini merupakan titik balik yang berkah untuk meluruskan penyimpangan akut yang berbahaya yang mendominasi pengertian “Ahlussunnah Wal Jamaah” setelah berbagai upaya pencatutan kalangan ektremis akan istilah ini dan membatasinya hanya pada diri mereka serta mengafirkan umat Islam lainnya.

Hasil Konferensi Ulama Ahlussunnah

توصيات:

REKOMENDASI :

.
1. أوصى المؤتمر بإنشاء قناة تليفزيونية على مستوى روسيا الاتحادية لتوصيل صورة الإسلام الصحيحة للمواطنين ومحاربة التطرف والإرهاب.

Membuat channel TV di Rusia untuk menyampaikan citra Islam yang benar kepada masyarakat dan memerangi ekstremisme dan terorisme.

2. زيادة الاهتمام بقنوات التواصل الاجتماعي وتخصيص ما يلزم من الطاقات والخبرات للحضور الإيجابي في تلك الوسائط حضورًا قويًا وفاعلًا.

Perlunya memberikan kepedulian dan perhatian kepada berbagai media sosial, dan mengerahkan kemampuan dan keahlian yang diperlukan untuk ikut mewarnai dan memberikan dampak yang kuat di media-media tersebut.

3. أن يتم إنشاء مركز علمي بجمهورية الشيشان لرصد ودراسة الفرق المعاصرة ومفاهيمها وتشكيل قاعدة بيانات موثقة تساعد على التفنيد والنقد العلمي للفكر المتطرف واقترح المجتمعون أن يحمل هذا المركز اسم “تبصير”.

Membangun Pusat Ilmiah yang kuat di Republik Chechnya untuk memantau dan mempelajari aliran-aliran kontemporer dan konsep-konsepnya, dan membuat data terpercaya untuk membantu membantah dan mengkritik secara ilmiah terhadap pemikiran ekstrem dan berbagai wacananya. Dan para hadirin di Muktamar mengusulkan pusat ilmiah ini bernama “Tabshir” (pencerahan).

4. عودة مدارس العلم الكبرى والرجوع إلى تدريس دوائر العلم المتكاملة التي تخرج العلماء والقادرين على تفنيد مظاهر الانحراف الكبرى.

Menyadarkan kembali berbagai lembaga pendidikan Islam yang besar akan jati dirinya, sejarah dan metodologi
pendidikan mereka yang otentik dan klasik, dan kembali mengajarkan lingkaran ilmu pengetahuan yang integral, yang dapat melahirkan para ulama yang mampu membimbing umat, membantah berbagai fenomena penyimpangan pemikiran, dan menyebarkan ilmu pengetahuan dan perdamaian, serta menjaga tanah air.

5. ضرورة رفع مستوى التعاون بين المؤسسات العلمية العريقة كالأزهر الشريف والقرويين والزيتونة وحضرموت ومراكز العلم والبحث فيما بينها ومع المؤسسات الدينية والعلمية في روسيا الاتحادية.

Perlunya meningkatkan kerjasama antara berbagai lembaga pendidikan yang bergengsi, seperti Al-Azhar asy-Syarif, Al-Qarawiyyin, Zaitouna, dan Hadhromaut serta pusat-pusat ilmu pengetahuan dan penelitian, dengan lembaga-lembaga keagamaan dan ilmiah di Federasi Rusia.

6. ضرورة فتح منصات تعليمية للتعليم عن بعد لإشاعة العلم الآمن.

Pentingnya membuka sistem belajar-mengajar jarak jauh untuk menyebarkan ilmu yang benar, di mana sistem itu akan dapat melayani orang-orang yang ingin belajar namun terkendala pekerjaan mereka dari mengikuti pendidikan secara formal.

7. توجيه النصح للحكومات بضرورة دعم المؤسسات الدينية والمحاضن القائمة على المنهج الوسطي المعتدل والتحذير من خطر اللعب على سياسية الموازنات وضرب الخطاب الديني ببعضه.

Memberikan saran kepada pemerintah akan pentingnya mendukung lembaga-lembaga keagamaan dan instansi-instansi pendidikan yang moderat, dan memperingatkan akan bahaya apa yang dilakukan beberapa pemerintah yang bermain kebijakan dengan mengadu domba wacana keagamaan dengan wacana yang lain. Karena itu justru akan semakin menambah kecemasan masyarakat, dan memecah persatuan mereka.

8. يوصي المؤتمر الحكومات بتشريع قوانين تجرم نشر الكراهية والتحريض على الفتنة والاحتراب الداخلي والتعدي على المقدسات

Para peserta muktamar merekomendasikan kepada Pemerintah untuk membuat perundang-undangan yang mengatur tentang sanksi atas penyebaran kebencian, saling memfitnah, dan perselisihan antar kelompok, serta pelanggaran lain di tempat yang suci.

9. أوصى المشاركون مؤسسات أهل السنة الكبرى، الأزهر ونحوه، بتقديم المنح الدراسية للراغبين في دراسة العلوم الشرعية من مسلمي روسيا.

Para peserta merekomendasikan instansi-instansi Ahlussunnah yang besar – Al-Azhar dan semisalnya- untuk memberikan beasiswa bagi muslim Rusia yang ingin belajar ilmu-ilmu syariat.

10. كما أوصى المشاركون بأن ينعقد هذا المؤتمر الهام بشكل دوري لخدمة هذه الأهداف الجليلة.

Para peserta merekomendasikan agar muktamar penting ini diselenggarakan secara berkala, untuk senantiasa mengkhidmah tujuan mulia ini, dan mengikuti berbagai tantangan yang muncul dan menghadapinya.

كما تقدم المشاركون بالشكر لفخامة الرئيس رمضان أحمد قديروف لجهوده المباركة في خدمة القرآن الكريم والسنة المطهرة.
.
Para peserta muktamar menyampaikan rasa terima kasih yang sangat besar kepada Presiden Ramdhan Ahmad Kadyrov atas segala upayanya dalam berkhidmah kepada Al-Quran dan As-Sunnah yang suci.

صدر في جروزني، جمهورية الشيشان 24 ذو القعدة 1437هـ، 27 أغسطس 2016.
.
Dirilis di Grozny, Chechnya, 24 Dzulqa`dah 1437 H, 27 Agustus 2016 M.

من هم أهل السنة والجماعة؟ (Siapakah Ahlussunnah Wal Jama’ah?)

Ketika kelompok Wahabi Salafi membangun puluhan website, membuat lusinan saluran (channel) di YouTube dan ratusan halaman (fanpage) di Facebok, mendirikan stasiun TV dan radio yang semuanya berlabel Ahlussunnah. Muncullah pertanyaan di atas.

Masyarakat awam memendam tanda tanya; mengapa isi pengajian mereka berseberangan dengan umumnya umat Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah (Sunni). Bahkan mereka tak jarang memvonis bid’ah, kafir, syirik dll terhadap kelompok di luar mereka?

Hingga pada akhirnya, para ulama Ahlussunnah Waljama’ah dari berbagai negara pun merasakan kegelisahan umat Islam. Mereka bertemu untuk mendiskusikan hal tersebut dalam sebuah Muktamar Internasional Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Konferensi Internasional Ulama Ahlussunnah Chechnya

KONFERENSI ULAMA SEPAKAT WAHABI BUKAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Muktamar Internasional Ulama Muslim (bahasa Arab: المؤتمر العالمي لعلماء المسلمين‎) atau Muktamar Ahlussunnah Wal Jamaah, yang lebih dikenal dengan Konferensi Chechnya (bahasa Arab: مؤتمر الشيشان‎), adalah muktamar yang diselenggarakan di Grozny, ibu kota Republik Chechnya pada 25-27 Agustus 2016 membahas judul “Siapakah Ahlussunnah wal Jama’ah? Penjelasan dan Klasifikasi Metode Ahlussunnah Waljamaah dalam Aqidah, Fikih, dan Akhlak, serta Dampak Penyimpangan darinya di Tataran Realitas”.

Muktamar ini dihadiri Imam Besar Al-Azhar Ahmad al-Tayeb, para mufti dan lebih dari dua ratus ulama dari seluruh dunia. Mesir juga menghadiri perjumpaan ini dengan mengutus para ulama terkemuka Universitas Al-Azhar, Kairo. Acara ini terselenggara berkat dukungan dari Presiden Republik Chechnya Ramadhan Ahmed Kadyrov dalam rangka mengenang dan memperingati Presiden Ahmad Haji Kadyrov.

Para peserta konferensi mengeluarkan fatwa yang secara resmi menegaskan bahwa aliran Wahabi bukan bagian dari Ahlussunnah Wal Jamaah.

Para peserta mengatakan dengan tegas bahwa ada beberapa power regional dan internasional. Yang merusaha menyulut konflik sektarian dan mazhab di tengah negara-negara Islam. Untuk melayani ambisi musuh ummat Islam dan untuk kepentingan-kepentingan sempit.

Peserta Muktamar Internasional Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah

Muktamar Islam Chechnya kali ini dihadiri lebih dari 200 ulama seluruh Dunia. Diantaranya ialah:

  1. Syeikh al-Azhar al-Imam al-Akbar, Prof. Dr. Ahmad Muhammad al-Tayyeb.
  2. Mufti Mesir, Syiekh Prof. Dr. Syauqi Ibrahim ‘Allam.
  3. Mantan Mufti Mesir, Syeikh Prof. Dr. Ali Jum’ah.
  4. Mufti Syiria, Syeikh Ahmad Badruddin Hassoun.
  5. Syeikh Prof. Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi, putra Syeikh al-Syahid M. Sa’id Ramadhan al-Buthi.
  6. Al-Da’i ila Alloh, al-Habib Umar ibn Hafidz, Yaman.
  7. Al-Da’i ila Alloh, al-Habib Ali al-Jufri, Yaman.
  8. Syeikh Prof. Abu Bakr Ahmad Musliyar, Kerala-Hindia, Sekjen Jam’iyyah Ulama’ al-Hind.
  9. Syeikh Prof. Dr. Ahmad al-‘Abbadi, Sekjen Robithoh Muhammadiyah lil-Ulama’, Maroko.
  10. Syeikh Dr. Usamah al-Sayyid al-Azhari, Mesir.
  11. Syeikh Prof. Dr. Syarif Hatim al-Auni, Saudi Arabia.
  12. Syeikh Dr. Sa’id Abdullatif Foudah, Yordania.
  13. Dan Ulama’-ulama’ lain dari seluruh Dunia termasuk dari Malaysia dan Indonesia.

Maksud dan Tujuan Konferensi Internasional Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah

Konferensi atau Muktamar Aswaja Internasional Chechnya berupaya meluruskan klaim sepihak Wahabi yang merepresentasikan paling “Ahlussunnah Wal Jamaah” dan paling nyunnah. Akibatnya mazhab Aswaja ini menjadi korban stigma lantaran paham Wahabi teridentifikasi sebagai ideology kekerasan.

Untuk meluruskan stigma dan membedakan yang mana paham Aswaja dan Wahabi, muktamar Aswaja Internasional Chechnya pun menegaskan bahwa Aswaja adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam akidah. Empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam fikih. Serta ahli tasawuf yang murni –ilmu dan akhlak— sesuai manhaj Imam Junaeid dan para ulama yang meniti jalannya.

Baca juga: Hasil Konferensi Ulama Ahlussunnah Internasional Chechnya

“Itu adalah manhaj yang menghargai seluruh ilmu yang berkhidmah kepada wahyu (Al-Quran dan Sunnah). Dan telah benar-benar menyingkap tentang ajaran-ajaran agama ini dan tujuan-tujuannya. Dalam menjaga jiwa dan akal. Menjaga agama dari distorsi dan permainan tangan-tangan jahil. Menjaga harta dan kehormatan manusia, serta menjaga akhlak yang mulia,” Kata Guru Besar Al Azhar Mesir Syekh Ali Jum’ah dalam sambutannya di muktamar Aswaja Internasional.

Jika pun ada mazhab di luar kategori di atas, Ali Jum’ah mengingatkan dan mengaskan, Aswaja tidak mengkafirkan siapa pun yang mengaku sebagai Muslim. Penegasan ulama Aswaja kelahiran Mesir ini juga menjadi pembeda antara paham Aswaja dengan kelompok radikal atau ekstrimis.

“Aswaja tidak pernah mengafirkan orang yang shalat menghadap kiblat. Aswaja tidak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan tidak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram)”. Katanya.

Penasehat Presiden Mesir dan utusan Komisi Keagamaan Parlemen Mesir Usamah al-Azhari menjelaskan terkait muktamar. “Muktamar Cechnya bermaksud memberikan pencerahan mengenai problematika yang mengitari dunia Islam. Dalam berbagai persoalan akidah dan pemikiran yang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok teroris radikal dalam mencetak manhaj-manhajnya yang menghancur-leburkan.”

Menurut dia, kaum takfiri (hobi mengkafirkan) dan kaum tafjiri (hobi melaksanakan peledakan) berjalan di satu jalan yang sama. Sementara lembaga-lembaga keagamaan beberapa yang enggak memahami keadaan kritis. Sehingga membukakan kesempatan bagi takfirisme untuk melawan penyebaran agama yang moderat dan akidah yang benar.

Mengenai gerakan Salafi / Wahabi, Imam Besar Al-Azhar Syeikh Ahmad al-Tayeb dalam muktamar Grozny mengingatkan. Bahwa konsep Aswaja yang telah berlaku sekian abad di tengah ummat Islam belakangan ini digugat oleh klaim-klaim tertentu dan hawa nafsu orang-orang yang secara fisik mengenakan jubah agama. Namun batinnya keluar dari pokok (ushul/aqidah), kaidah (fikih) dan toleransi agama.

Menurut dia, fenomena ini nyatanya sudah membikin konsep yang telah berabad-abad goyang di kalangan awam ummat Islam. Dan bahkan sebagian kalangan yang terlibat dalam aktivitas dakwah Islam. Dan para pengklaim itu pun tampil dengan label Aswaja (Sunni) dan berlagak selaku satu-satunya juru bicara Aswaja.

Akibatnya, barisan ummat Islam terpecah. Dan pemahaman yang salah soal Aswaja itu bercokol dalam pikiran kalangan awam dan bahkan kalangan pendakwah. Mereka yang sesungguhnya bukan Aswaja mempercayai bahwa dirinya Aswaja (Sunni). Sehingga maraklah faham radikalisme, ekstrimisme, terorisme, dan aksi tindakan mematikan seakan-akan ditunaikan kaum Sunni (Aswaja).

Dia meneruskan bahwa keguncangan konsep Aswaja (Sunni) sudah sukses memecah Ummat Islam. Membangkitkan nyali para pengintainya membidikkan anak panahnya kepada golongan ini. Mencemarkan perjalanan sejarahnya. Dan melaksanakan distorsi-distorsi yang membikin golongan Aswaja seakan bertanggung-jawab. Atas aksi-aksi teror yang ditunaikan oleh kelompok-kelompok takfiri bersenjata.

Dia menerangkan bahwa kelompok-kelompok ini sudah mencemarkan nama baik Aswaja dengan menyebut diri mereka selaku Sunni (sebutan Arab untuk Aswaja). Dan potensi mereka sengaja menyerbu konsep Aswaja untuk melicinkan obsesi politik, juga tendensi sektarianisme. Dan ambisi ekspansif untuk memintarkan para penebar perpecahan.

Syeikh Ahmad al-Tayeb lantas menerangkan soal Aswaja. Bahwa dalam metode pendidikan Al-Azhar, Aswaja ialah sebutan untuk kalangan pengikut Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Dan Imam Abu Mansur al-Maturidi dalam beraqidah. Mereka meliputi para ulama mazhab fikih Hanafi, Maliki, Syafi’i dan para ulama moderat dari mazhab fikih Hanbali.

Pengertian yang sedemikian luas sehingga juga meliputi para ahli hadis dan penganut tasawwuf. Pengertian inilah yang dipahami oleh umat Islam selama berabad-abad sejak munculnya istilah ini sepeninggal Imam Abu Hasan al-Asy’ari.

Masih menurut beliau, Mazhab Asy’ari bukanlah aliran baru. Namun ia merupakan mazhab yang menjelaskan dengan penuh amanah tentang akidah salaf saleh dengan manhaj/metodologi baru yang menggabungkan antara teks dan akal. Hal inilah yang tidak mampu dilakukan oleh kalangan tekstualis yang sulit untuk melakukan kajian analitik, juga kalangan Muktazilah dan kelompok-kelompok lainnya.

Demikian juga, Mazhab Asya’ri adalah satu-satunya mazhab yang tidak mengafirkan seorang pun dari kalangan ahli kiblat (muslim). Bukti otentik dari sikap ini adalah Imam Abu Hasan al-Asy’ari mengarang kitab yang berjudul “Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin” dimana judulnya menunjukkan bahwa kelompok-kelompok Islam yang dibahas di dalam kitab tersebut masih berstatus muslim.

Dia menyimpulkan bahwa inilah realitas yang telah berjalan di tengah ummat Islam selama lebih 1000 tahun. Dan dengan realitas inilah mereka menjalani kehidupan yang satu tapi meliputi keragaman dan perbedaan pandangan yang terpuji. Serta mencampakkan ghirah perpecahan dan ikhtilaf yang tercela.

Source: Wikipedia.

Pengertian dan makna shalawat adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Bukhari. Beliau mengatakan, Abul Aliyah telah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan salawat dari Allah adalah pujian-Nya kepada Nabi ﷺ. di kalangan para malaikat, dan salawat dari para malaikat ialah doa mereka untuknya.

صَلاَةُ اللَّهِ ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَلاَئِكَةِ

“Shalawat Allah adalah pujian-Nya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan para malaikat.” (HR. Bukhari no. 10)

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ahzab Ayat 56

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Arab-Latin: Innallāha wa malā`ikatahụ yuṣallụna ‘alan-nabiyy, yā ayyuhallażīna āmanụ ṣallụ ‘alaihi wa sallimụ taslīmā

Terjemah: Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yushalluna ialah memberikan keberkahan. Demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara ta’liq (memakai komentar) yang bersumber dari keduanya (Abul Aliyah dan Ibnu Abbas).

Fadhilah Shalawat shalawat hari jumat

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا رواه مسلم

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Semua sudah maklum, bahwa shalawat memiliki berbagai macam fadlilah (keutamaan). Diantaranya adalah hadis riwayat Amr ibn Ash di atas.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ أَوْ سَأَلَ لِي الوَسِيْلَةَ حَقَّتْ عَلَيْهِ شَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ

“Barangsiapa bershalawat kepadaku atau meminta agar aku mendapatkan wasilah, maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat nanti.” (Hadits ini terdapat dalam Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabiy no. 50, Isma’il bin Ishaq Al Jahdiy. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”.

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anjuran memperbanyak shalawat tersebut, karena ini merupakan sebab turunnya rahmat, pengampunan dan pahala yang berlipatganda dari Allah Ta’ala. (HR an-Nasa’i (no. 1297), Ahmad (3/102 dan 261), Ibnu Hibban (no. 904) dan al-Hakim (no. 2018), dishahihkan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu hajar dalam “Fathul Baari” (11/167) dan al-Albani dalam “Shahihul adabil mufrad” (no. 643)).

Fadhilah Membaca Shalawat di Hari Jum’at

Pada hari Jumat disunahkan untuk memperbanyakkan shalawat kepada Nabi ﷺ.

Dalil tentang hal ini adalah hadis dari sahabat Aus bin Aus radhiallallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إِنَّ مِنْ اَفْضَلِ اَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَاَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ فَاِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ رواه ابو داود

Sabda Rasulullah SAW “Hari yang paling mulia adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah shalawat di hari itu, karena shalawat kalian dihaturkan kepangkuanku”.

Sahabat bertanya,

يا رسول الله وكيف تعرض صلاتنا عليك وقد أرمت

Bagaimana shalawat kami bisa ditampakkan kepada Anda, sementara Anda sudah menjadi tanah (dikubur)?

Beliau menjawab,

إن الله تبارك وتعالى حرم على الأرض أَنْ تَأْكُلَ أجساد الأنبياء صلى الله عليهم

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi shallallahu ‘alaihim wa sallam.”(HR. Abu Daud, Nasa’i, Ibn Majah, dan dinyatakan shahih Syaikh Al-Albani)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ فَإِنَّ صَلاَةَ أُمَّتِى تُعْرَضُ عَلَىَّ فِى كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّى مَنْزِلَةً

“Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at. Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Hadits ini hasan ligoirihi –yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-)

Jika kita amati, hadis-hadits di atas menganjurkan memperbanyak shalawat. Terlebih di malam dan hari Jumat. Mengenai bilangannya kita diberi kebebasan.

Perbanyak shalawat di hari Jumat tanpa bilangan maksimal, semakin banyak semakin besar pahalanya

Bacaan shalawat sebagaimana shalawat pada umumnya, seperti lafadz:

اللهم صل وسلم على محمد

Lebih bagus dibuat acara khusus yang rutin untuk memperbanyak shalawatan di hari Jumat.

Dalam kitab Al Fawaid Al Mukhtaroh, Syaikh Abdul Wahhab Asy Sya’roni meriwayatkan bahwa Abul Mawahib Asy Syadzily berkata

رَأَيْتُ سَيِّدَ الْعَالَمِيْنَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ صَلاَةُ اللهِ عَشْرًا لِمَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مَرَّةً وَاحِدَةً هَلْ ذَلِكَ لِمَنْ حَاضَرَ الْقَلْبَ ؟

Aku pernah bermimpi bertemu Baginda Nabi Muhammad ﷺ, aku bertanya “Ada hadits yang menjelaskan sepuluh rahmat Allah diberikan bagi orang yang berkenan membaca shalawat, apakah dengan syarat saat membaca harus dengan hati hadir dan memahami artinya?”

قَالَ لاَ، بَلْ هُوَ لِكُلِّ مُصَلٍّ عَلَيَّ وَلَوْ غَافِلاً

Kemudian Nabi ﷺ menjawab “Bukan, bahkan itu diberikan bagi siapa saja yang membaca shalawat meski tidak faham arti shalawat yang ia baca”

Allah Ta’ala memerintahkan malaikat untuk selalu memohonkan do’a kebaikan dan memintakan ampun bagi orang tersebut. Terlebih jika ia membaca dengan hati hadir, pasti pahalanya sangat besar, hanya Allah yang mengetahuinya.

Membaca Shalawat Sebelum Berdo’a

Ketika kita berdo’a tidak dimulai dengan memuja Allah Ta’ala, tanpa membaca shalawat, kita disebut sebagai orang yang terburu-buru.

عن فَصَالَةَ بن عُبَيدْ رضى الله عنهما قَالَ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً يَدْعُوْ فِىْ صَلاَتِهِ لَمْ يَحْمَدِ اللهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم عَجَّلَ هَذَا،

Baginda Nabi ﷺ mendengar ada seseorang yang sedang berdo’a tapi tidak dibuka dengan memuja Allah ta’ala dan tanpa membaca shalawat, Nabi berkata “orang ini terburu-buru”

ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ اَوْ لِغَيْرِهِ اِذَا صَلَّى اَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُوْ بَعْدُ بِمَا شَاءَ، رواه ابو داود والترمذى وقال حديث صحيح.

Kemudian Baginda Nabi ﷺ mengundang orang itu, lalu ia atau orang lainnya dinasehati “jika diantara kalian berdo’a, maka harus diberi pujian kepada Allah SWT, membaca shalawat, lalu berdoalah sesuai dengan apa yang dikehendaki”

Ulama’ sepakat bahwa shalawat pasti diterima, karena dalam rangka memuliakan Rasulullah ﷺ. Ada penyair yang berkata

أَدِمِ الصَّلاَةَ عَلَى مُحَمَّدٍ فَقَبُوْلُهَا حَتْمًا بِغَيْرِ تَرَدُّدٍ

أَعْمَالُنَا بَيْنَ الْقَبُوْلِ وَرَدِّهَا اِلاَّ الصَّلاَةَ عَلَى النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ

Bacalah shalawat selalu, sebab shalawat pasti diterima.

Adapun amal yang lain mungkin saja diterima dan mungkin ditolak, kecuali shalawat. Shalawat pasti diterima.

Siapa Orang Pelit Itu?

Memperbanyak shalawat termasuk bagian dari ekspresi kecintaan terhadap Nabi Muhammad ﷺ. Mengamalkan sunah Nabi dengan mencontoh pakaian dan bentuk fisiknya misalnya tidak cukup tanpa menghadiahkan shalawat kepada kanjeng Nabi ﷺ. Semasa hidupnya, Nabi ﷺ pernah mengatakan, “Orang pelit itu adalah orang yang disebut namaku tapi dia tidak mau bershalawat kepadaku,” (HR Ahmad).

البخيل من ذكرت عنده، ثم لم يصل علي

Artinya, “Orang bakhil adalah orang yang bila disebut namaku, dia tidak bershalawat kepadaku.”

Meskipun Nabi ﷺ sudah tiada, kita tetap masih bisa menyampaikan salam kepada Beliau. Nabi ﷺ pun akan mendengar setiap salam yang disampaikan umatnya. Bagaimana caranya? Tiada jalan lain kecuali dengan memperbanyak shalawat. Setiap shalawat yang dilantunkan umatnya didengar oleh Nabi ﷺ. Abdullah Ibnu Mas’ud pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda sebagai berikut.

إن لله في الأرض ملائكة سياحين يبلغوني من أمتي السلام

Artinya, “Allah SWT memiliki malaikat yang berkunjung ke bumi, mereka senantiasa menyampaikan salam dari umatku,” (HR Ahmad).

Hadits ini dapat dipahami bahwa setiap shalawat yang kita lantunkan didengar oleh Nabi ﷺ melalui perantara malaikat. Membaca shalawat dianjurkan kapanpun dan di manapun. Namun memperbanyaknya sangat dianjurkan pada hari Jum’at, baik siang maupun malamnya.

Pandangan Imam Syafi’i Tentang Membaca Shalawat di Hari Jumat

Imam As-Syafi’i dalam Al-Umm mengatakan, “Saya suka memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ di setiap waktu, tapi pada hari Jum’at dan malamnya, saya membacanya lebih banyak karena ada kesunahan.”

وأحب كثرة الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم في كل حال وأنا في يوم الجمعة وليلتها أشد استحباب

Artinya, “Saya suka membaca shalawat sebanyak-banyaknya kapanpun, tapi saya lebih banyak membacanya di hari Jum’at dan malamnya, karena disunahkan.”

Pendapat Imam As-Syafi’i ini diperkuat oleh hadits riwayat Aws Ibn Aws, seperti yang dikutip Abu Bakar Al-Maruzi dalam Al-Jum’ah wa Fadhluha bahwa Nabi ﷺ bersabda.

إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة: فيه خلق آدم ، وفيه قبض، وفيه الصعقة ، فأكثروا علي من الصلاة فيه، فإن صلاتكم معروضة علي. قلنا: يا رسول الله، كيف تعرض عليك صلاتنا وقد أرمت؟ يقولون: قد بليت؟ قال: إن الله عز وجل حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياء

Artinya, “Jum’at merupakan hari yang paling mulia, sebab pada hari itu Nabi Adam diciptakan dan dicabut nyawanya, dan sangsakala Kiamat juga ditiup pada hari Jum’at. Karenanya, perbanyaklah shalawat kepadaku. Sejatinya shalawat kalian itu sampai kepadaku.”

Kami berkata, “Bagaimana bisa sampai kepadamu padahal Engkau telah tiada? Bukankah jasadmu telah hancur?” tambah sahabat lainnya. “Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan bumi untuk menghancurkan tubuh para nabi,” jawab Nabi ﷺ.

Berdasarkan hadits dapat dipahami bahwa jasad para nabi termasuk Nabi Muhammad ﷺ tidak hancur ditelan bumi. Mereka dapat mendengar shalawat yang kita lantunkan setiap saat. Karenanya perbanyaklah shalawat terutama pada hari Jum’at. Dalam Dalilul Falihin disebutkan, Ibnu Hajar Al-Haitami berpendapat bahwa Nabi ﷺ mendengar dengan kedua telinganya setiap shalawat yang dilantunkan umatnya. Wallahu a’lam.
Amalan yang satu ini juga mungkin banyak dilalaikan oleh kamu muslimin atau mungkin belum diketahui. Amalan tersebut adalah shalawat kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Janganlah kita sampai melalaikan amalan ini.

Di antara shalawat yang dianjurkan yang dapat kita amalkan adalah:

[1] Dari Zaid bin Abdullah berkata bahwa sesungguhnya mereka dianjurkan mengucapkan,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad an nabiyyil ummiyyi. [Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad Nabi yang Ummi]” (Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 60. Syaikh Al Albani mengomentari bahwa hadits ini shohih)

[2] Dari Ka’ab bin ‘Ujroh, beliau mengatakan,

“Wahai Rasulullah, kami sudah mengetahu bagaimana kami mengucapkan salam padamu. Lalu bagaimana kami bershalawat padamu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ucapkanlah,

اللَّهُمَّ صّلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shollaita ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid” [Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi shalawat kepada kerabat Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia] (Fadhlu Ash Sholah ‘alan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam no. 56. Syaikh Al Albani mengomentari bahwa sanad hadits ini shohih)

[3] Dalam riwayat Bukhari no. 3370 terdapat lafazh shalawat sebagai berikut,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama shollaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid. Allahumma barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama barokta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim, innaka hamidun majid.” [Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan kerabatnya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Muhammad dan kerabatnya karena engkau memberi keberkahan kepada Ibrahim dan kerabatnya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia]

Apakah Shalawat Nariyah Syirik dan Bid’ah?

Shalawat Nariyah atau disebut juga shalawat Tâziyah atau shalawat Tafrîjiyah berasal bukan dari Indonesia. Ia dikarang oleh ulama besar asal Maroko, Syekh Ahmad At-Tazi al-Maghribi (Maroko), dan diamalkan melalui sanad muttashil oleh ulama-ulama di berbagai belahan dunia. Tak terkecuali Mufti Mesir Syekh Ali Jumah yang memperoleh sanad sempurna dari gurunya Syaikh Abdullah al-Ghummar, seorang ahli hadits dari Maroko.

Shalawat Nariyah sangat popular di kalangan kaum muslimin. Dan banyak dibaca di mana-mana. Terutama di kalangan Muslimin Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni). Sementara itu, shalawat Nariyah ini juga dipelajari oleh kalangan Wahabi Salafi. Bukan untuk dibaca guna mendapatkan pahala. Melainkan untuk dicari-cari celahnya sehingga sebagian mereka menyebut shalawat bid’ah dan syirik.

Di salah satu website Salafi Wahabi ditulis seperti berikut:

Yang dimaksud dengan shalawat di sini adalah shalawat yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih (yang biasa dibaca oleh kaum muslimin dalam shalat mereka ketika tasyahhud), bukan shalawat-shalawat bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang datang belakangan, seperti shalawat nariyah, badriyah, barzanji dan shalawat-shalawat bid’ah lainnya.

Tidak heran jika ada sebagian Salafi Wahabi berpendapat seperti di atas. Karena memang sejak kemunculannya, Wahabi Salafi berwatak gemar membid’ahkan, memusyrikkan dan mengkafirkan amal agama kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Baca: Konferensi Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah Dunia Keluarkan Wahabi dari Aswaja

Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk mengamalkannya. Semoga Allah selalu memberi kita ilmu yang bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Ketika menjadi narasumber di suatu acara, KH Makruf Khozin mendapat pertanyaan dari salah seorang peserta. “Mengapa kita selama ini selalu menjadi bulan-bulanan paham Wahabi, dituduh bid’ah, syirik dll?”
Pertanyaan ini langsung dijawab dengan tegas oleh kyai muda anggota Dewan Pakar Aswaja Center PWNU Jatim tersebut. Bahwa, akhlaq NU, Islam ahlussunnah waljamaah, itu tidak diajarkan untuk bantah-batahan alias melawan.

“Para kiai NU itu melarang kita untuk menjelek-jelekkan ajaran lain. Ini membuat kita seperti menjadi bulanan-bulanan. Tetapi kalau soal hujjah, silakan, mau debat terbuka, silahkan. Seluruh amaliyah kita memiliki hujjah yang kuat,” jawabnya.

Baca juga: KONFERENSI ULAMA DUNIA KELUARKAN SALAFI WAHABI DARI ASWAJA

Tahdzir Menjadi Alasan Utama Salafi Wahabi

Empat belas abad sudah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kita umat Islam. Semakin hari kemurnian ‘ajaran Islam’ semakin keruh akibat tercemar ‘benda-benda asing” (baca: bid’ah dkk.). Ibarat suatu aliran sungai yang telah ribuan kilometer meninggalkan mata airnya; berubah menjadi amat keruh karena telah bercampur dengan sampah-sampah yang dicampakkan ke dalamnya oleh oknum-oknum yang kurang bertanggung jawab.

Jauh-jauh hari, fenomena ini telah disitir oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« فإنه لا يأتي عليكم يوم أو زمان إلا والذي بعده شر منه حتى تلقوا ربكم »

“Tidaklah datang kepada kalian suatu hari atau suatu zaman melainkan sesudahnya lebih buruk dari sebelumnya, hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian.” (HR. Ibnu Hibban (XIII/282 no. 5952 -al-Ihsan). Muhaqqiq Shahih Ibn Hibban menshahihkan hadits ini.)

Maka, sudah merupakan suatu hal yang lazim, jika kita kaum muslimin dituntut untuk berusaha memurnikan kembali ‘ajaran agama kita’, dan membersihkannya dari noda-noda yang telah melekat lama di tubuhnya. Inilah yang diistilahkan oleh sebagian ulama dengan upaya tashfiyah (memurnikan).

Banyak sekali dalil-dalil -baik dari al-Qur’an maupun sunnah- yang menunjukkan akan disyari’atkannya tahdzir, jika dilakukan sesuai dengan norma-norma yang digariskan syari’at.

Di antaranya adalah firman Allah ta’ala,

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali-Imran: 104)

Ayat di atas menjelaskan akan disyariatkannya amar ma’ruf nahi munkar, dan para ulama telah menjelaskan bahwa tahdzir adalah merupakan salah satu bentuk amar ma’ruf nahi munkar.

Panutan Wahabi Salafi, Ibnu Taimiyah menerangkan, “Kalaupun dia (ahlul bid’ah tersebut) tidak berhak atau tidak memungkinkan untuk dihukum, maka kita harus menjelaskan bid’ahnya tersebut dan mentahdzir (umat) darinya, sesungguhnya hal ini termasuk bentuk amar ma’ruf dan nahi munkar yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ al-Fatawa (XXXV/414). Lihat pula: Sittu Durar min Ushul Ahl al-Atsar, karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani: hal. 109-112)

Senada dengan keterangan Ibnu Taimiyah di atas; penjelasan yang dibawakan oleh Imam al-Haramain al-Juwaini rahimahullah.( Lihat: al-Kafiah fi al-Jadal, hal. 20-21)

Di antara dalil disyari’atkannya tahdzir adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله؛ ينفون عنه تحريف الغالين, وانتحال المبطلين, وتأويل الجاهلين »

“Agama ini diemban di setiap zaman oleh para ulama; yang menyisihkan penyimpangan golongan yang ekstrim, jalan orang-orang batil dan ta’wilnya orang-orang yang jahil.” (HR. Al-Khathib al-Baghdady rahimahullah dalam Syaraf Ashab al-Hadits (hal. 65 no. 51) dan yang lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ahmad rahimahullah sebagaimana dalam Syaraf Ashab al-Hadits (hal. 65). Al-‘Ala’i rahimahullah dalam Bughyah al-Multamis, hal. 34 berkata, “Hasan shahih gharib”. Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam Thariq al-Hijratain, hal. 578 berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari banyak jalan yang saling menguatkan”. Senada dengan perkataan Ibnu al-Qayyim: penjelasan al-Qashthallani dalam Irsyad as-Sari, (I/7). Syaikh Salim al-Hilaly hafizhahullah telah mentakhrij hadits ini secara riwayah dan dirayah dalam kitabnya Irsyad al-Fuhul ila Tahrir an-Nuqul fi Tashih Hadits al-‘Udul, dan beliau menyimpulkan bahwa derajat hadits ini adalah hasan.)

Dan masih banyak dalil lain yang menunjukkan akan disyari’atkannya tahdzir (Lihat dalil-dalil tersebut dalam kitab: Mauqif Ahl as-Sunnah, karya Syaikh Dr. Ibrahim ar-Ruhaily hafizhahullah (II/482-488), al-Mahajjah al-Baidha’ karya Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah (hal. 55-74), ar-Radd ‘ala al-Mukhalif, karya Syaikh Bakr Abu Zaid syafahullah (hal. 22-29), dan Munazharat A’immah as-Salaf, karya Syaikh Salim al-Hilaly hafizhahullah (hal.14-19)) Bahkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mempraktekkan metode tahdzir dalam kehidupannya; entah itu tahdzir terhadap individu maupun tahdzir dari suatu kelompok tertentu.

Di antara contoh praktek beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mentahdzir suatu individu; tatkala beliau mentahdzir dari ‘nenek moyang’ Khawarij: Abdullah bin Dzi al-Khuwaishirah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إنه سيخرج من ضئضئي هذا قوم يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية »

“Akan muncul dari keturunan orang ini; generasi yang rajin membaca al-Qur’an, namun bacaan mereka tidak melewati kerongkongan (tidak memahami apa yang mereka baca). Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah yang menancap di tubuh buruan lalu melesat keluar dari tubuhnya.” (HR. Ahmad (III/4-5). Para muhaqqiq Musnad (XVII/47) menshahihkan isnadnya. Hadits ini aslinya dalam Bukhari (no. 6933) dan Muslim (II/744 no. 1064))

Adapun praktek beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mentahdzir dari suatu kelompok yang menyimpang, antara lain tatkala beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mentahdzir umat dari sekte Khawarij dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« شر قتلى قتلوا تحت أديم السماء وخير قتيل من قتلوا كلاب أهل النار »

“Mereka adalah seburuk-buruk orang yang dibunuh di muka bumi. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang terbunuh ketika memerangi anjing-anjing penghuni neraka.” (HR. Ibnu Majah (I/62 no. 176). Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibn Majah (I/76) berkata, “Hasan shahih”)

╔═════ 📜📃 ═════╗
Menempelkan kaki dengan kaki
saat sholat itu ada haditsnya
SHOHIH BUKHORI ?”
╚═════ 📚📓 ═════╝

👳‍♀Oleh:Gus Ahmad Rifai

Pernah mendengar hal semacam itu ?

‘Si dia’ dengan bangga menyampaikan bahwa apa yang ia lakukan (baca : injak2an kaki, atau menempelkan kaki) ada haditsnya, haditsnya shohih lagi, shohih bukhori bahkan.

📝 Komentar saya :
“Ayo membaca hadits yang komplit dan lihat penjelasan ulama”

Haditsnya memang betul shohih bukhori

Tapi, jika saya tanya :
• “Apakah menempelkan kaki dengan kaki temannya dilakukan oleh Nabi Muhammad ?”
• “Apakah hal tersebut diperintahkan oleh Nabi Muhammad ?”
• “Apakah hal tersebut dipraktekkan oleh Sahabat Utama ?”

🔅 Maka jawabannya : TIDAK
(sengaja pake capslock, bukan marah, tapi biar jelas huehehee)

1⃣ Yuk kita simak hadits lengkapnya :

🔰 Riwayat Anas bin Malik
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ»
Mengabarkan kepada kami ‘Amr bin Kholid berkata, mengabarkan kepada kami Zuhair dari Humaid dari Anas bin Malik dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam: ” Tegakkanlah shaf kalian, karena saya melihat kalian dari belakang pundakku.” ada salah seorang diantara kami orang yang menempelkan bahunya dengan bahu temannya dan telapak kaki dengan telapak kakinya. (HR. Bukhari)

🔰 Riwayat anNu’man bin Basyir
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ, حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا, عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ الْجَدَلِيِّ, قَالَ أَبِي: وحَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ, أَخْبَرَنَا زَكَرِيَّا, عَنْ حُسَيْنِ بْنِ الْحَارِثِ أَبِي الْقَاسِمِ, أَنَّهُ سَمِعَ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ, قَالَ: أَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَجْهِهِ عَلَى النَّاسِ, فَقَالَ: ” أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ, ثَلَاثًا وَاللهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ ” قَالَ: ” فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ, وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَتِهِ وَمَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِهِ
An-Nu’man bin Basyir berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam menghadap kepada manusia, lalu berkata : “Tegakkanlah shaf kalian!”, tiga kali. Demi Allah, tegakkanlah shaf kalian, atau Allah akan membuat perselisihan diantara hati kalian. Lalu an-Nu’man bin Basyir berkata: Saya melihat seorang laki-laki menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya, lutut dengan lutut dan bahu dengan bahu. (HR. Bukhori)

2⃣ Bagaimana sih perintah Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam ketika itu ?

Beliau bersabda :
أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ
Tegakkanlah shof / barisan kalian
Jadi, beliau tidak memerintahkan untuk menempelkan kaki, tapi beliau memerintahkan untuk menegakkan shof dalam artian merapikan, meluruskan, dan merapatkan shof.

🚫 bukan memerintahkan untuk menempelkan kaki dengan kaki temannya

3⃣ Lalu, siapa yang menempelkan kaki ketika itu ? Berapa jumlahnya ?

Baca lagi hadits diatas
🔰 Anas bin Malik mengatakan :
[وَكَانَ أَحَدُنَا]
salah satu diantara kami

Baca lagi hadits diatas
🔰 anNu’man bin Basyir mengatakan :
[رَأَيْتُ الرَّجُلَ]
Saya melihat seorang laki-laki dari kami

🔖 Jadi, dari sekian banyak sahabat yang ikut sholat berjamaah bersama dengan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, semua sholatnya wajar.
Ada orang yang menempelkan kaki dengan kaki temannya dan jumlahnya hanya satu orang.

Sampai sini bisa dipahami ya❓
Bisa In syaa Allah

hukum menempelkan kaki dalam shalat berjamaah

4⃣ Perbuatan satu orang sahabat, apalagi tidak ada yang mengenalnya,TIDAK BISA DIJADIKAN HUJJAH

🔰 Al-Amidi (w. 631 H) salah seorang pakar Ushul Fiqih menyebutkan:
ويدل على مذهب الأكثرين أن الظاهر من الصحابي أنه إنما أورد ذلك في معرض الاحتجاج وإنما يكون ذلك حجة إن لو كان ما نقله مستندا إلى فعل الجميع لأن فعل البعض لا يكون حجة على البعض الآخر ولا على غيرهم
Menurut madzhab kebanyakan ulama’, perbuatan sahabat dapat menjadi hujjah jika didasarkan pada perbuatan semua sahabat. Karena perbuatan sebagian tidak menjadi hujjah bagi sebagian yang lain, ataupun bagi orang lain. (Lihat :Al-Amidi; w. 631 H, Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, hal. 2/99)

💠 Jadi, kalau kita mau fair ingin mengamalkan perbuatan sahabat;
✔ mari kita Taraweh 20 rokaat, karena itu dilakukan oleh Sayyidina Umar bin Khottob dan disetujui semua sahabat,
✔ begitu juga Adzan Jumat 2x dilakukan dizaman Sayyidina Utsman bin Affan

Kalau injak2kan kaki ❓
Hanya satu orang sahabat, dan tidak dikenal siapa dia, serta perbuatannya menyelisihi mayoritas sahabat.

5⃣ Mana buktinya bahwa sahabat yang lain tidak menempelkan kaki dengan kaki temannya ?

🔰 Lihat bagaimana kata sang periwayat hadits, yaitu Anas bin Malik:

وَزَادَ مَعْمَرٌ فِي رِوَايَتِهِ وَلَوْ فَعَلْتُ ذَلِكَ بِأَحَدِهِمُ الْيَوْمَ لَنَفَرَ كَأَنَّهُ بغل شموس
Ma’mar menambahkan dalam riwayatnya dari Anas; jika saja hal itu (menempelkan kaki) saya lakukan dengan salah satu dari mereka saat ini, maka mereka akan lari sebagaimana keledai yang lepas. [Ibnu Hajar, Fathu al-Bari, hal. 2/211]

Kenapa bisa begitu ?
Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) menuliskan:
الْمُرَادُ بِذَلِكَ الْمُبَالَغَةُ فِي تَعْدِيلِ الصَّفِّ وَسَدِّ خَلَلِهِ
(Yang dilakukan sahabat tersebut adalah) berlebih-lebihan dalam meluruskan shaf dan menutup celah. [Ibnu Hajar, Fathu al-Bari, hal. 2/211]

6⃣ Lalu, siapa yang pertama kali mengatakan bahwa menempelkan kaki dengan kaki itu adalah termasuk kesempurnaan sholat bahkan termasuk hal yang wajib ?

🔰 Ia adalah Ustadz Nashiruddin al-Albani.
وقد أنكر بعض الكاتبين في العصر الحاضر هذا الإلزاق, وزعم أنه هيئة زائدة على الوارد, فيها إيغال في تطبيق السنة! وزعم أن المراد بالإلزاق الحث على سد الخلل لا حقيقة الإلزاق, وهذا تعطيل للأحكام العملية, يشبه تماما تعطيل الصفات الإلهية, بل هذا أسوأ منه
Sebagian penulis zaman ini telah mengingkari adanya ilzaq (menempelkan mata kaki, lutut, bahu), hal ini bisa dikatakan menjauhkan dari menerapkan sunnah. Dia menyangka bahwa yang dimaksud dengan “ilzaq” adalah anjuran untuk merapatkan barisan saja, bukan benar-benar menempel. Hal tersebut merupakan ta’thil (pengingkaran) terhadap hukum-hukum yang bersifat alamiyyah, persis sebagaimana ta’thil (pengingkaran) dalam sifat Ilahiyyah. Bahkan lebih jelek dari itu.
(Al-Albani : Silsilat al-Ahadits as-Shahihah, hal. 6/77)

Jadi beliau menganggap bahwa orang yang mengatakan ilzaq adalah anjuran untuk merapatkan shof, bukan menempelkan kaki, adalah pendapat yang salah, karena bagi beliau ilzaq adalah menempelkan kaki, lutut, dan bahu.

7⃣ Pendapat Ustadz Al-Albani bertentangan dengan pendapat Ulama Salafi (wahabi, pen) yang lain.

🔰 Ustadz Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata:
أن كل واحد منهم يلصق كعبه بكعب جاره لتحقق المحاذاة وتسوية الصف, فهو ليس مقصوداً لذاته لكنه مقصود لغيره كما ذكر بعض أهل العلم, ولهذا إذا تمت الصفوف وقام الناس ينبغي لكل واحد أن يلصق كعبه بكعب صاحبه لتحقق المساواة, وليس معنى ذلك أن يلازم هذا الإلصاق ويبقى ملازماً له في جميع الصلاة.
Setiap masing-masing jamaah hendaknya menempelkan mata kaki dengan jamaah sampingnya, agar shof benar-benar lurus. Tapi menempelkan mata kaki itu bukan tujuan intinya, tapi ada tujuan lain. Maka dari itu, jika telah sempurna shaf dan para jamaah telah berdiri, hendaklah jamaah itu menempelkan mata kaki dengan jamaah lain agar shafnya lurus. “Maksudnya bukan terus menerus menempel sampai selesai shalat.” (Lihat : Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; w. 1421 H, Fatawa Arkan al-Iman, hal. 1/ 311)

🔰 Ustadz Abu Bakar Zaid (w. 1429 H / 2007 M, adalah salah seorang ulama Saudi yang pernah menjadi Imam Masjid Nabawi, dan menjadi salah satu anggota Haiah Kibar Ulama Saudi) :

وإِلزاق الكتف بالكتف في كل قيام, تكلف ظاهر وإِلزاق الركبة بالركبة مستحيل وإِلزاق الكعب بالكعب فيه من التعذروالتكلف والمعاناة والتحفز والاشتغال به في كل ركعة ما هو بيِّن ظاهر.
Menempelkan bahu dengan bahu di setiap berdiri adalah takalluf (memberat-beratkan) yang nyata. Menempelkan dengkul dengan dengkul adalah sesuatu yang mustahil, menempelkan mata kaki dengan mata kaki adalah hal yang sulit dilakukan. (La Jadida fi Ahkam as-Shalat hal. 13)

🔰 Abu Bakar Zaid melanjutkan:

فهذا فَهْم الصحابي – رضي الله عنه – في التسوية: الاستقامة, وسد الخلل لا الإِلزاق وإِلصاق المناكب والكعاب. فظهر أَن المراد: الحث على سد الخلل واستقامة الصف وتعديله لا حقيقة الإِلزاق والإِلصاق

Inilah yang difahami para shahabat dalam taswiyah shaf: Istiqamah, menutup sela-sela Bukan menempelkan bahu dan mata kaki. Maka dari itu, maksud sebenarnya adalah anjuran untuk menutup sela-sela, istiqamah dalam shaf, bukan benar-benar menempelkan.

🔰 Bahkan pendapat Ustadz Al-Albani juga bertentangan dengan pendapat Madzhab Hambali

Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) :

حديث أنس هذا: يدل على أن تسوية الصفوف: محاذاة المناكب والأقدام
Hadits Anas ini menunjukkan bahwa yang dimaksud meluruskan shaf adalah lurusnya bahu dan telapak kaki. (Lihat: Ibnu Rajab al-Hanbali; w. 795 H, Fathu al-Bari, hal.6/ 282).

8⃣ Bagaimana sebenarnya cara merapatkan shof yang sempurna ?
وتعتبر المسافة في عرض الصفوف بما يهيأ للصلاة وهو ما يسعهم عادة مصطفين من غير إفراط في السعة والضيق اهـ جمل.الكتاب : بغية المسترشدين ص 140
“Disebutkan bahwa ukuran lebar shof ketika hendak sholat yaitu yang umum dilakukan oleh seseorang, dengan tanpa berlebihan dalam lebar dan sempitnya.” (Bughyatul Mustarsyidin hal 140)

Umpama-pun mau menempelkan, “tempelkanlah bagian yang terluar dari tubuh kita saat berdiri,”
mana itu ?
Ya kalau berdiri normal, kalau berdiri normal hlo ya, bagian terluar dari tubuh kita yaitu pundak atau bahu kita
sesuai sabda Nabi Muhammad saw :

أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ
”Luruskan shof, rapatkan pundak, dan tutup celah, serta perlunak pundak kalian untuk saudaranya, dan jangan tinggalkan celah untuk setan.” (HR. Abu Daud no. 666)

〽 “perlunak pundak kalian untuk saudaranya” maksutnya adalah hendaknya dia berusaha agar pundaknya tidak mengganggu orang lain.

Jadi, sekali lagi, ayo pahami hadits secara Cerdas ❗

Salam Cerdas ❣

Wallahu a’lam bis showab

========= ❁❁❁❁ =========
🔊 Diizinkan untuk menyerbarluaskan artikel ini dengan meng-copy / share secara KESELURUHAN

Instagram : @buyasoni
Telegram : @buyasoni
Facebook : Buya Soni
Youtube : Buya Soni
🌏 www.buyasoni.com
========= ❁❁❁❁ ========

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia(MUI) Din Syamsuddin angkat bicara terkait penolakan konsep Islam Nusantara oleh MUI Sumatera Barat (Sumbar).

Menurut Din Syamsuddin, sikap tolak-menolak terhadap pendangan dan pendapat kelompok tertentu tidak baik. Seharusnya, pendapat orang itu, kata Din, perlu dihormati dan dihargai. Misalnya Nahdlatul Ulama (NU) yang mengembangkan konsep Islam Nusantara.

“Sebaiknya tidak perlu ada penolakan-penolakan seperti itu klo ada kelompok islam ormas islam kemudian mengembangkan satu wawasan tertentu, seperti NU mengembangkan wawasan atau islam nusantara harus kita hargai,” ujar Din Syamsuddin saat di temui di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (27/7/2018).

Din Syamsuddin

Din menambahkan, kalaupun tidak sepakat dengan konsep Islam Nusantara, kata Din, tidak perlu ada penolakan. Sebab ia Khawatir, akan ada kelompok lain lagi yang akan muncul untuk pelakukan penolakan.

“Kalau pakai tolak-menolak seperti ini, mohon maaf, nanti yang lain juga ada penolakan disana penolakan disini,” ungkapnya.

Seperti diketahui sebelumnya, MUI provinsi Sumatera menyatakan bahwa istilah “Islam Nusantara” melahirkan berbagai permasalahan yang akan mengundang perdebatan yang tidak bermanfaat dan melalaikan umat Islam dari berbagai persoalan penting yang sedang dihadapi.

Bahkan istilah “Islam Nusantara” bisa membawa kerancuan dan kebingungan di tengah umat dalam memahami Islam.

Pernyataan tersebut merupakan butir pertama dari 7 butir keputusan rapat koordinasi bidang kerukunan dan ukhuwah MUI Sumbar dan MUI se-Kabupaten/kota Sumatera Barat, 21 Juli 2018, yang terkait dengan Islam Nusantara.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sesalkan keputusan Rapat Koordinasi Bidang Ukhuwah MUI Provinsi Sumatera Barat yang dinilai sudah menyalahi khittah dan jati diri MUI.

“Selain itu juga menyalahi MUI sebagai wadah berhimpun, musyawarah dan silaturahmi para ulama, zuama dan cendekiawan muslim dari berbagai kalangan dan organisasi,” ujar Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi kepada Islampos.com di Jakarta, Kamis, (26/7/2018).

Zainut menekankan, seharusnya MUI sebagai tenda besar umat Islam bisa menjadi pemersatu dan perekat persaudaraan (ukhuwah) Islamiyah bukan sebaliknya.

“MUI harus bisa mengedepankan semangat persaudaraan (ukhuwah), toleransi (tasamuh) dan moderasi (tawazun) dalam menyikapi berbagai persoalan khususnya yang berkaitan dengan masalah umat Islam. Jangan justru memperlebar kesalahpahaman dan perpecahan di kalangan umat Islam,” cetusnya.

Dalam putusan Ijtima’ Ulama MUI di Gontor ada panduan bagaimana MUI menyikapi perbedaan paham keagamaan di kalangan umat Islam yang dituangkan dalam Dokumen Taswiyatul Manhaj (Penyamaan Pola Pikir Keagaamaan).