Pondok Temboro Dan Jamaah Tabligh“, begitu judul asli tulisan ini. Penulisnya bukan pemuda sembarangan. Beliau adalah Gus Yusuf Al-Baqir (26 th), hafidz Qur’an sejak usia 9 tahun, hafal kitab shahih Bukhari serta ribuan hadits lain. Beliau adalah putra KH Uzairon TA (pengasuh Ponpes Al Fatah yg wafat pada 2014).

Yuk kita baca tulisan beliau berikut ini dengan bacaan Bismillaahirrahmaanirrahiim:

pesantren al fatah temboro


Perjuangan demi perjuangan di lalui, cobaan demi cobaan di lewati tanpa henti. Namanya hidup didunia dilanda suatu ujian itu hal biasa. Sebaik apapun syiar islam atau sebuah pondok pesantren jika yang menilai orang yang memiliki rasa dengki dan iri hati, maka seribu satu macam jalan yang dibuat untuk menyebarkan fitnah, menggiring opini agar ummat tidak lagi berimpati kepada syiar islam atau pondok pesantren tersebut. Andai saja pendiri atau pengasuhnya bukan seorang kekasih Allah, mungkin sudah lama pondok pesantrennya ditutup, sebab mereka yang hatinya di penuhi rasa benci.

Tapi tidak semudah itu, sebab pesantren kami tidak dibangun berasaskan materi, dengan hasil meminta profosal dan donasi sana-sini, meminta sumbangan dari orang yang mengiming-ngimingkan janji. Apa lagi mereka yang hanya sekedar lewat mencari dukungan demi menjadi petinggi negri, kemudian hilang seakan ditelan bumi. Tidak juga dengan meminta bayaran pendaftaran dan bulanan (SPP) yang besar kepada setiap santri, dengan menjual nama Pesantren lebel Sunnah.

Akan tetapi pesantren kami berasaskan rasa cinta yang berlandaskan amal agama. Doa-doa beliau, wali-wali Allah yang ada didalamnya, serta santri-santri yang datang dari berbagai penjuru nusanntara, bahkan dari belahan dunia. Doa dan wujud kerja sama yang baik dengan ahli kampungnya, dan para wali santri yang notabenenya adalah jamaah tabligh, yang telah berjuang untuk menjadikan anak-anaknya orang yang sholeh-sholehah, alim-alimah, hafidzoh-hafidzoh, agar kelak senantiasa mengamalkan agama.

Doa para da’i Allah di seluruh penjuru tanah air indonesia dan dunia, yang mana doa-doa tersebut dipanjatkan penuh keikhlasan, sertai rasa cinta dan air mata. Sehingga dengan kekuatan ini pesantren kami wujud, berdiri kokoh, dan tidak mudah tergoyahkan fitnah ulah media yang sengaja ingin merusak citra pondok dan kampung kami tercinta. Sebab ini pula yang menjadikan kampung kami barokah, menjadi asbab hidayah bagi siapa saja mengunjunginya.

Mereka yang membenci, mencaci dan mencela, terkadang hanya korban isu berita media yang tidak bertanggung jawab dan manipulasi. Dan kemungkinan besar juga mereka belum pernah menginjakkan kakinya dipesantren kami, dan belum pernah berkunjung ke kampung temboro tempat pesantren kami berada.

Atau bisa jadi, mereka hanyalah orang-orang yang memiliki kepentingan dunia, berpura-pura baik demi memcari popularitas, tapi dibenak mereka tidak ingin melihat agama ini tegak dan di amalkan dengan sempurna dalam satu kampung dan oleh setiap individu ummat. Mereka datang untuk melihat, mencari titik kelemahan dan kesalahan, bukan untuk memetik sebuah hikmah.

Atau mereka adalah orang-orang yang berfaham sekuler, menginginkan kebebasan hidup, tanpa di atur-atur agama. Mereka pengadu domba, dengan membenturkan agama dengan aturan suatu negara. Mencari sasaran sebab utama dalam penyebaran agama, maka ditemukanlah jamaah tabligh yang berpusat didesa Temboro, sebelumnya ditemukan dimasjid kebun jeruk JKT, Seri Petaling Malaysia, dan juga NIDZOMUDDIN india sebagai markas dunia.

Dan mereka ada juga dari segelintir manusia, yang hanya fanatik buta pada satu kelompok, yang mana mulut mereka mudah mengkafirkan, membid’ahkan siapa saja yang tidak sependapat atau berseberangan dengan mereka. Dan itu merupakan inti dari da’wah yang didoktrin oleh guru mereka dalam kajiannya. Bahkan dalam sakte mereka sendiri, sering terjadi kontradiksi satu sama lain. Mulai dari ustadznya sampai kepada murid-muridnya.

Orang-orang yang punya kerakter seperti keterangan di atas, lalu apa tanggapan dari pihak pondok pesantren kami dan Jamaah Tabligh? Tidak lain, hanya mendoakan hidayah, bersyukur.. karena dengan cobaan-cobaan hidup itu dapat menggugurkankan dosa. dan berterima kasih kepada mereka, karena tidak perlu susah payah, pihak pesantren kami dan jamaah tabligh dapat hadiah istimewa dari mereka berupa kado pahala yang akan terus mengalir.

Jika orang yang dihatinya sudah tersimpan secercah titik hidayah, maka ketika berkunjung kedesa temboro, dia akan terharu, dan akan mudah menerima kebaikan-kebaikan. Bagaimana tidak, sebelum masuk desa temboro sudah terpampang tulisan “KAWASAN WAJIB BERBUSANA MUSLIM”. Iya! disana semua wanitanya yang menutup aurot dengan sempurna, laki-lakinya serempak belajar mengamalkan sunnah, mulai dari berpakaian, berjenggot dan sunnah-sunnah lainnya. Jika tiba waktu sholat serempak untuk berjamaah di masjid-masjidnya, tanpa terkecuali dari kalangan apapun juga.

Disini juga kita bisa menemukan tukang ojek yang lebih mementingkan sholat berjamaah, ketimbang mengejar orderan penumpangnya. Maka ketika melihat kenyataan ini, hati mereka yang kunjungpun terketuk untuk turut mendoakan, bukan seperti mereka ikutan-ikutan membenci, mencaci dan mencela.!

Jika saudara datang kepesantren kami, di sana sudah ada pelayan ruang tamu yang siap melayani 24 jam, dan menyediakan ruang tamu dengan pelayanan komplit, mulai dari kamar tidur, kamar mandi, dan makan gratis. Bagitu pula jika saudara datang ke Markas Tablighnya, disana sudah ada istiqbal yang siap menyambut 24 jam, dan menyediakan ruang tidur, kamar mandi dan makan gratis. Sesekali datang berkunjunglah kesana, agar saudara tidak cepat tertipu dan terhasut berita media.

Kita sering mendengar berita mereka yang terekspos di media, mereka yang membanggakan tanah air indonesia. Mereka yang membawa berbagai prestasi dari luar dan dalam negri, menjuarai berbagai event agamis. Yang jika mendengarnya sangat membanggakan hati, dan itu merupakan sauatu kebanggaan juga buat kami.

Tapi tahukah saudara bahwasanya, dipondok pesantren kami setiap tahunnya mengeluarkan puluhan santri yang yang telah wisuda belajar dan menghafal ribuan hadist, bahkan pernah menjadi pemecah rekor dunia tak terkalahkan sampai hari ini, dengan menghafal 10.000 hadist. Mengeluarkan puluhan santri yang menghafal kitab Mukhtasor Bukhori, menghafal kitab Minhaj Ath-Tholibin. Mengeluarkan ratusan santri Khatam Qubro Al-qur’an, ratusan santri Khatam Sugro Al-qur’an, dan Khatam Hafalan kitab lainnya.

Tidak cukup sampai disitu, setelah berbulan-bulan belajar, mereka akan ada latihan menyampaikan ilmunya, melalui kerja Dakwah Watabligh, dikirim keseluruh penjuru tanah air indonesia, sampai keluar negri. Sehingga kalau ada yang nyinyir orang dakwah meniggalkan kelurga, terbantahkan sebab mereka masih anak-anak muda.

Maka ketika saudara membenci, menghina dam mencela pesantren kami atau jamaah tabligh, sacara tidak langsung saudara telah membenci, menghina dan mencela mereka mulai dari para Ulamanya, santri-santrinya yang telah belajar dan menghafal hadist-hadist Nabi dan mereka yang hafidz-hafidz Al-Qur’an. Yang mana mereka anak-anak yang latar belakang orang tuanya adalah Jamaah Tabligh.

Andai semua prestasi ini diekspos dimedia, tentu lebih membanggakan, bukan hanya indonesia, bahkan mungkin dunia. Semangat mereka dalam mendalami ilmu agama, oleh guru kami “Syeikhuna Ubaidillah Al-Ahror Rohimahullahu Taala Anhu” tidak diabaikan begitu saja, mereka di beri hadiah yang begitu istimewa, yaitu berupa uang tunai dan umroh ke baitullah.

Mungkin kita sedikit bertanya : Lalu dari mana dananya semua itu?. Jawabnya : Dari uang pribadi beliau, bukan minta donasi atau dapat sumbangan dari luar negri.!

Satu lagi, orang sibuk bicara kontradiksi bid’ahnya tarawih 20 rokaat, tapi tetap saja dikerjakan diMekkah dan Madinah hingga hari ini, dan Alhamdulillah pondok pesantren kami dan desa temboro tarawihnya 20 rakaat, dengan membaca berjuz-juz Al-Qur’an, mulai dari ada yang 1 juz, 2, 3 hingga sampai 30 juz Al-Qur’an dalam satu malam. Ketika seluruh dunia mengggap mustahil untuk dibuat, pondok pesantren kami dan desa temboro yang mengawali.

Siapapun insya Allah akan bangga dengan prestasi ini, kecuali mereka yang dihati dan akalnya sudah terbentuk sifat membenci, mencaci, mencela yang kemungkinan besar itu juga dianggap sebagai sebuah prestasi buat mereka. Maaf, berita ini tidak bisa did
apatkan melalui media, jika saudara ingin mendengarkannya langsung, silahkan berkunjung kesana, kepondok dan desa kami.

Pondok pesantren kami tidak membatasi berapa dan siapapun yang berkunjung, baik dari kalangan Jamaah Tabligh, Nahdlatu Ulama, Muhammadiyah, Salafi, dan lain sebagainya. Di sana akan ditegur sapa dengan ramah. Berbeda itu hal biasa, yang penting tidak saling membenci, mencaci, dan mencela yang akan menimbulkan sebuah permusuhan.

Benar jika ada yang mengatakan pesantren kami adalah basis Jamaah Tabligh, karena Jamaah Tabligh bukanlah suatu kelompok organisasai yang membeda-bedakan kefahaman. Hanya sebuah nama sebutan yang membentuk satu fikir, satu kerja, yaitu mengajak ummat untuk taat kepada Allah dan kembali kepada sunnah baginda Rosulullahu Shollallahu Alaihi Wasallam. Mengajak ummat untuk ramai-ramai menghidupkan amal agama, dirumah, dimasjid dan dalam kehidupan sehari-hari.

Saudaraku, Jagalah jari dan lisanmu dari menulis dan membicarakan sesuatu yang kamu tidak ketahui kebenarannya, karena itu semua kelak akan kamu pertanggung jawabkan dihadapan Allah Subhanahu Wataala.

Salam kami untuk semua, semoga setelah covid19 berlalu, kita bisa beraktifitas kembali sebagaimana biasanya. Kerja, ibadah dan saling selaturrohim satu sama lain. Santri-santri kembali dengan sehat dan memulai aktifitas belajar sebagaimana mestinya. amin….

” Anggaplah cobaan hidup itu seperti air, ia mungkin membuatmu basah, menggigil, dan tak nyaman. tapi yang jelas ia akan membuatmu bersih dari kotoran-kotoran (Dosa)”

Muballigh Islam,
8 Mei 2020 /15 Romadhon 1441 H

======oleh Gus Yusuf Al-Baqir Rohimahullahu Taala Anhu._ atau biasa dipanggil Gus Yusuf, putra K.H. Uzairon Thoifur Abdillah pendiri Pesantren Al-Fatah Temboro. Saya sangat kagum dengan kedalaman ilmu beliau, selain beliau sudah hafal al-Qur’an pada umur Sembilan tahun, juga hafal ribuan Hadis Rasulallah saw.

Beberapa rekomendasi Hasil Muktamar Ulama Internasional di Chechnya Rusia dengan tema ” SIAPAKAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH ITU ? ” yang diselelnggarakan pada Hari Kamis – Sabtu, 25 – 27 Agustus 2016

بسم الله الرحمن الرحيم

– أهل السنة والجماعة هم الأشاعرة والماتريدية في الاعتقاد وأهل المذاهب الأربعة في الفقه، وأهل التصوف الصافي علمًا وأخلاقًا وتزكيةً.
.
Bismillahirrohmanirrohim…

Ahlussunnah Wal Jamaah adalah Al Asya’irah dan Al Maturidiyah dalam akidah, empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali dalam fikih, serta ahli tasawuf yang murni –ilmu dan akhlak— para ulama yang meniti jalannya.

– للقرآن الكريم حرم يحيطه من العلوم الخادمة له، المساعدة على استنباط معانيه، وإدراك مقاصده وتحويل آياته إلى حياة وحضارة وآدابا وفنون وأخلاق ورحمة وراحة وإيمان وعمران وإشاعة السلم والأمان في العالم حتى ترى الشعوب والثقافات والحضارات المختلفة عيانا أن هذا الدين رحمة للعلمين وسعادة في الدنيا والآخرة.
.
Al-Quran Al-Karim adalah bangunan yang dikelilingi oleh berbagai ilmu yang membantu untuk menggali makna-maknanya dan mengetahui tujuan-tujuannya yang mengantarkan manusia kepada ma’rifat kepada Allah SWT., mengeluarkan ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya, mengejawantahkan kandungan ayat-ayatnya ke dalam kehidupan, peradaban, sastra, seni, akhak, kasih sayang, kedamaian, keimanan dan pembangunan. Serta menyebarkan perdamainan dan keamanan di seluruh dunia sehingga bangsa-bangsa lain dapat melihat dengan jelas bahwa agama ini adalah rahmat bagi seluruh semesta alam, serta jaminan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

هذا المؤتمر نقطة تحول هامة وضرورية لتصويب الانحراف الحاد والخطير الذي طال مفهوم “أهل السنة والجماعة” إثر محاولات اختطاف المتطرفين لهذا اللقب الشريف وقصره على أنفسهم وإخراج أهله منه.
.
Muktamar ini merupakan titik balik yang berkah untuk meluruskan penyimpangan akut yang berbahaya yang mendominasi pengertian “Ahlussunnah Wal Jamaah” setelah berbagai upaya pencatutan kalangan ektremis akan istilah ini dan membatasinya hanya pada diri mereka serta mengafirkan umat Islam lainnya.

Hasil Konferensi Ulama Ahlussunnah

توصيات:

REKOMENDASI :

.
1. أوصى المؤتمر بإنشاء قناة تليفزيونية على مستوى روسيا الاتحادية لتوصيل صورة الإسلام الصحيحة للمواطنين ومحاربة التطرف والإرهاب.

Membuat channel TV di Rusia untuk menyampaikan citra Islam yang benar kepada masyarakat dan memerangi ekstremisme dan terorisme.

2. زيادة الاهتمام بقنوات التواصل الاجتماعي وتخصيص ما يلزم من الطاقات والخبرات للحضور الإيجابي في تلك الوسائط حضورًا قويًا وفاعلًا.

Perlunya memberikan kepedulian dan perhatian kepada berbagai media sosial, dan mengerahkan kemampuan dan keahlian yang diperlukan untuk ikut mewarnai dan memberikan dampak yang kuat di media-media tersebut.

3. أن يتم إنشاء مركز علمي بجمهورية الشيشان لرصد ودراسة الفرق المعاصرة ومفاهيمها وتشكيل قاعدة بيانات موثقة تساعد على التفنيد والنقد العلمي للفكر المتطرف واقترح المجتمعون أن يحمل هذا المركز اسم “تبصير”.

Membangun Pusat Ilmiah yang kuat di Republik Chechnya untuk memantau dan mempelajari aliran-aliran kontemporer dan konsep-konsepnya, dan membuat data terpercaya untuk membantu membantah dan mengkritik secara ilmiah terhadap pemikiran ekstrem dan berbagai wacananya. Dan para hadirin di Muktamar mengusulkan pusat ilmiah ini bernama “Tabshir” (pencerahan).

4. عودة مدارس العلم الكبرى والرجوع إلى تدريس دوائر العلم المتكاملة التي تخرج العلماء والقادرين على تفنيد مظاهر الانحراف الكبرى.

Menyadarkan kembali berbagai lembaga pendidikan Islam yang besar akan jati dirinya, sejarah dan metodologi
pendidikan mereka yang otentik dan klasik, dan kembali mengajarkan lingkaran ilmu pengetahuan yang integral, yang dapat melahirkan para ulama yang mampu membimbing umat, membantah berbagai fenomena penyimpangan pemikiran, dan menyebarkan ilmu pengetahuan dan perdamaian, serta menjaga tanah air.

5. ضرورة رفع مستوى التعاون بين المؤسسات العلمية العريقة كالأزهر الشريف والقرويين والزيتونة وحضرموت ومراكز العلم والبحث فيما بينها ومع المؤسسات الدينية والعلمية في روسيا الاتحادية.

Perlunya meningkatkan kerjasama antara berbagai lembaga pendidikan yang bergengsi, seperti Al-Azhar asy-Syarif, Al-Qarawiyyin, Zaitouna, dan Hadhromaut serta pusat-pusat ilmu pengetahuan dan penelitian, dengan lembaga-lembaga keagamaan dan ilmiah di Federasi Rusia.

6. ضرورة فتح منصات تعليمية للتعليم عن بعد لإشاعة العلم الآمن.

Pentingnya membuka sistem belajar-mengajar jarak jauh untuk menyebarkan ilmu yang benar, di mana sistem itu akan dapat melayani orang-orang yang ingin belajar namun terkendala pekerjaan mereka dari mengikuti pendidikan secara formal.

7. توجيه النصح للحكومات بضرورة دعم المؤسسات الدينية والمحاضن القائمة على المنهج الوسطي المعتدل والتحذير من خطر اللعب على سياسية الموازنات وضرب الخطاب الديني ببعضه.

Memberikan saran kepada pemerintah akan pentingnya mendukung lembaga-lembaga keagamaan dan instansi-instansi pendidikan yang moderat, dan memperingatkan akan bahaya apa yang dilakukan beberapa pemerintah yang bermain kebijakan dengan mengadu domba wacana keagamaan dengan wacana yang lain. Karena itu justru akan semakin menambah kecemasan masyarakat, dan memecah persatuan mereka.

8. يوصي المؤتمر الحكومات بتشريع قوانين تجرم نشر الكراهية والتحريض على الفتنة والاحتراب الداخلي والتعدي على المقدسات

Para peserta muktamar merekomendasikan kepada Pemerintah untuk membuat perundang-undangan yang mengatur tentang sanksi atas penyebaran kebencian, saling memfitnah, dan perselisihan antar kelompok, serta pelanggaran lain di tempat yang suci.

9. أوصى المشاركون مؤسسات أهل السنة الكبرى، الأزهر ونحوه، بتقديم المنح الدراسية للراغبين في دراسة العلوم الشرعية من مسلمي روسيا.

Para peserta merekomendasikan instansi-instansi Ahlussunnah yang besar – Al-Azhar dan semisalnya- untuk memberikan beasiswa bagi muslim Rusia yang ingin belajar ilmu-ilmu syariat.

10. كما أوصى المشاركون بأن ينعقد هذا المؤتمر الهام بشكل دوري لخدمة هذه الأهداف الجليلة.

Para peserta merekomendasikan agar muktamar penting ini diselenggarakan secara berkala, untuk senantiasa mengkhidmah tujuan mulia ini, dan mengikuti berbagai tantangan yang muncul dan menghadapinya.

كما تقدم المشاركون بالشكر لفخامة الرئيس رمضان أحمد قديروف لجهوده المباركة في خدمة القرآن الكريم والسنة المطهرة.
.
Para peserta muktamar menyampaikan rasa terima kasih yang sangat besar kepada Presiden Ramdhan Ahmad Kadyrov atas segala upayanya dalam berkhidmah kepada Al-Quran dan As-Sunnah yang suci.

صدر في جروزني، جمهورية الشيشان 24 ذو القعدة 1437هـ، 27 أغسطس 2016.
.
Dirilis di Grozny, Chechnya, 24 Dzulqa`dah 1437 H, 27 Agustus 2016 M.

من هم أهل السنة والجماعة؟ (Siapakah Ahlussunnah Wal Jama’ah?)

Ketika kelompok Wahabi Salafi membangun puluhan website, membuat lusinan saluran (channel) di YouTube dan ratusan halaman (fanpage) di Facebok, mendirikan stasiun TV dan radio yang semuanya berlabel Ahlussunnah. Muncullah pertanyaan di atas.

Masyarakat awam memendam tanda tanya; mengapa isi pengajian mereka berseberangan dengan umumnya umat Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah (Sunni). Bahkan mereka tak jarang memvonis bid’ah, kafir, syirik dll terhadap kelompok di luar mereka?

Hingga pada akhirnya, para ulama Ahlussunnah Waljama’ah dari berbagai negara pun merasakan kegelisahan umat Islam. Mereka bertemu untuk mendiskusikan hal tersebut dalam sebuah Muktamar Internasional Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Konferensi Internasional Ulama Ahlussunnah Chechnya

KONFERENSI ULAMA SEPAKAT WAHABI BUKAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Muktamar Internasional Ulama Muslim (bahasa Arab: المؤتمر العالمي لعلماء المسلمين‎) atau Muktamar Ahlussunnah Wal Jamaah, yang lebih dikenal dengan Konferensi Chechnya (bahasa Arab: مؤتمر الشيشان‎), adalah muktamar yang diselenggarakan di Grozny, ibu kota Republik Chechnya pada 25-27 Agustus 2016 membahas judul “Siapakah Ahlussunnah wal Jama’ah? Penjelasan dan Klasifikasi Metode Ahlussunnah Waljamaah dalam Aqidah, Fikih, dan Akhlak, serta Dampak Penyimpangan darinya di Tataran Realitas”.

Muktamar ini dihadiri Imam Besar Al-Azhar Ahmad al-Tayeb, para mufti dan lebih dari dua ratus ulama dari seluruh dunia. Mesir juga menghadiri perjumpaan ini dengan mengutus para ulama terkemuka Universitas Al-Azhar, Kairo. Acara ini terselenggara berkat dukungan dari Presiden Republik Chechnya Ramadhan Ahmed Kadyrov dalam rangka mengenang dan memperingati Presiden Ahmad Haji Kadyrov.

Para peserta konferensi mengeluarkan fatwa yang secara resmi menegaskan bahwa aliran Wahabi bukan bagian dari Ahlussunnah Wal Jamaah.

Para peserta mengatakan dengan tegas bahwa ada beberapa power regional dan internasional. Yang merusaha menyulut konflik sektarian dan mazhab di tengah negara-negara Islam. Untuk melayani ambisi musuh ummat Islam dan untuk kepentingan-kepentingan sempit.

Peserta Muktamar Internasional Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah

Muktamar Islam Chechnya kali ini dihadiri lebih dari 200 ulama seluruh Dunia. Diantaranya ialah:

  1. Syeikh al-Azhar al-Imam al-Akbar, Prof. Dr. Ahmad Muhammad al-Tayyeb.
  2. Mufti Mesir, Syiekh Prof. Dr. Syauqi Ibrahim ‘Allam.
  3. Mantan Mufti Mesir, Syeikh Prof. Dr. Ali Jum’ah.
  4. Mufti Syiria, Syeikh Ahmad Badruddin Hassoun.
  5. Syeikh Prof. Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi, putra Syeikh al-Syahid M. Sa’id Ramadhan al-Buthi.
  6. Al-Da’i ila Alloh, al-Habib Umar ibn Hafidz, Yaman.
  7. Al-Da’i ila Alloh, al-Habib Ali al-Jufri, Yaman.
  8. Syeikh Prof. Abu Bakr Ahmad Musliyar, Kerala-Hindia, Sekjen Jam’iyyah Ulama’ al-Hind.
  9. Syeikh Prof. Dr. Ahmad al-‘Abbadi, Sekjen Robithoh Muhammadiyah lil-Ulama’, Maroko.
  10. Syeikh Dr. Usamah al-Sayyid al-Azhari, Mesir.
  11. Syeikh Prof. Dr. Syarif Hatim al-Auni, Saudi Arabia.
  12. Syeikh Dr. Sa’id Abdullatif Foudah, Yordania.
  13. Dan Ulama’-ulama’ lain dari seluruh Dunia termasuk dari Malaysia dan Indonesia.

Maksud dan Tujuan Konferensi Internasional Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah

Konferensi atau Muktamar Aswaja Internasional Chechnya berupaya meluruskan klaim sepihak Wahabi yang merepresentasikan paling “Ahlussunnah Wal Jamaah” dan paling nyunnah. Akibatnya mazhab Aswaja ini menjadi korban stigma lantaran paham Wahabi teridentifikasi sebagai ideology kekerasan.

Untuk meluruskan stigma dan membedakan yang mana paham Aswaja dan Wahabi, muktamar Aswaja Internasional Chechnya pun menegaskan bahwa Aswaja adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam akidah. Empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam fikih. Serta ahli tasawuf yang murni –ilmu dan akhlak— sesuai manhaj Imam Junaeid dan para ulama yang meniti jalannya.

Baca juga: Hasil Konferensi Ulama Ahlussunnah Internasional Chechnya

“Itu adalah manhaj yang menghargai seluruh ilmu yang berkhidmah kepada wahyu (Al-Quran dan Sunnah). Dan telah benar-benar menyingkap tentang ajaran-ajaran agama ini dan tujuan-tujuannya. Dalam menjaga jiwa dan akal. Menjaga agama dari distorsi dan permainan tangan-tangan jahil. Menjaga harta dan kehormatan manusia, serta menjaga akhlak yang mulia,” Kata Guru Besar Al Azhar Mesir Syekh Ali Jum’ah dalam sambutannya di muktamar Aswaja Internasional.

Jika pun ada mazhab di luar kategori di atas, Ali Jum’ah mengingatkan dan mengaskan, Aswaja tidak mengkafirkan siapa pun yang mengaku sebagai Muslim. Penegasan ulama Aswaja kelahiran Mesir ini juga menjadi pembeda antara paham Aswaja dengan kelompok radikal atau ekstrimis.

“Aswaja tidak pernah mengafirkan orang yang shalat menghadap kiblat. Aswaja tidak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan tidak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram)”. Katanya.

Penasehat Presiden Mesir dan utusan Komisi Keagamaan Parlemen Mesir Usamah al-Azhari menjelaskan terkait muktamar. “Muktamar Cechnya bermaksud memberikan pencerahan mengenai problematika yang mengitari dunia Islam. Dalam berbagai persoalan akidah dan pemikiran yang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok teroris radikal dalam mencetak manhaj-manhajnya yang menghancur-leburkan.”

Menurut dia, kaum takfiri (hobi mengkafirkan) dan kaum tafjiri (hobi melaksanakan peledakan) berjalan di satu jalan yang sama. Sementara lembaga-lembaga keagamaan beberapa yang enggak memahami keadaan kritis. Sehingga membukakan kesempatan bagi takfirisme untuk melawan penyebaran agama yang moderat dan akidah yang benar.

Mengenai gerakan Salafi / Wahabi, Imam Besar Al-Azhar Syeikh Ahmad al-Tayeb dalam muktamar Grozny mengingatkan. Bahwa konsep Aswaja yang telah berlaku sekian abad di tengah ummat Islam belakangan ini digugat oleh klaim-klaim tertentu dan hawa nafsu orang-orang yang secara fisik mengenakan jubah agama. Namun batinnya keluar dari pokok (ushul/aqidah), kaidah (fikih) dan toleransi agama.

Menurut dia, fenomena ini nyatanya sudah membikin konsep yang telah berabad-abad goyang di kalangan awam ummat Islam. Dan bahkan sebagian kalangan yang terlibat dalam aktivitas dakwah Islam. Dan para pengklaim itu pun tampil dengan label Aswaja (Sunni) dan berlagak selaku satu-satunya juru bicara Aswaja.

Akibatnya, barisan ummat Islam terpecah. Dan pemahaman yang salah soal Aswaja itu bercokol dalam pikiran kalangan awam dan bahkan kalangan pendakwah. Mereka yang sesungguhnya bukan Aswaja mempercayai bahwa dirinya Aswaja (Sunni). Sehingga maraklah faham radikalisme, ekstrimisme, terorisme, dan aksi tindakan mematikan seakan-akan ditunaikan kaum Sunni (Aswaja).

Dia meneruskan bahwa keguncangan konsep Aswaja (Sunni) sudah sukses memecah Ummat Islam. Membangkitkan nyali para pengintainya membidikkan anak panahnya kepada golongan ini. Mencemarkan perjalanan sejarahnya. Dan melaksanakan distorsi-distorsi yang membikin golongan Aswaja seakan bertanggung-jawab. Atas aksi-aksi teror yang ditunaikan oleh kelompok-kelompok takfiri bersenjata.

Dia menerangkan bahwa kelompok-kelompok ini sudah mencemarkan nama baik Aswaja dengan menyebut diri mereka selaku Sunni (sebutan Arab untuk Aswaja). Dan potensi mereka sengaja menyerbu konsep Aswaja untuk melicinkan obsesi politik, juga tendensi sektarianisme. Dan ambisi ekspansif untuk memintarkan para penebar perpecahan.

Syeikh Ahmad al-Tayeb lantas menerangkan soal Aswaja. Bahwa dalam metode pendidikan Al-Azhar, Aswaja ialah sebutan untuk kalangan pengikut Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Dan Imam Abu Mansur al-Maturidi dalam beraqidah. Mereka meliputi para ulama mazhab fikih Hanafi, Maliki, Syafi’i dan para ulama moderat dari mazhab fikih Hanbali.

Pengertian yang sedemikian luas sehingga juga meliputi para ahli hadis dan penganut tasawwuf. Pengertian inilah yang dipahami oleh umat Islam selama berabad-abad sejak munculnya istilah ini sepeninggal Imam Abu Hasan al-Asy’ari.

Masih menurut beliau, Mazhab Asy’ari bukanlah aliran baru. Namun ia merupakan mazhab yang menjelaskan dengan penuh amanah tentang akidah salaf saleh dengan manhaj/metodologi baru yang menggabungkan antara teks dan akal. Hal inilah yang tidak mampu dilakukan oleh kalangan tekstualis yang sulit untuk melakukan kajian analitik, juga kalangan Muktazilah dan kelompok-kelompok lainnya.

Demikian juga, Mazhab Asya’ri adalah satu-satunya mazhab yang tidak mengafirkan seorang pun dari kalangan ahli kiblat (muslim). Bukti otentik dari sikap ini adalah Imam Abu Hasan al-Asy’ari mengarang kitab yang berjudul “Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin” dimana judulnya menunjukkan bahwa kelompok-kelompok Islam yang dibahas di dalam kitab tersebut masih berstatus muslim.

Dia menyimpulkan bahwa inilah realitas yang telah berjalan di tengah ummat Islam selama lebih 1000 tahun. Dan dengan realitas inilah mereka menjalani kehidupan yang satu tapi meliputi keragaman dan perbedaan pandangan yang terpuji. Serta mencampakkan ghirah perpecahan dan ikhtilaf yang tercela.

Source: Wikipedia.

Ketika menjadi narasumber di suatu acara, KH Makruf Khozin mendapat pertanyaan dari salah seorang peserta. “Mengapa kita selama ini selalu menjadi bulan-bulanan paham Wahabi, dituduh bid’ah, syirik dll?”
Pertanyaan ini langsung dijawab dengan tegas oleh kyai muda anggota Dewan Pakar Aswaja Center PWNU Jatim tersebut. Bahwa, akhlaq NU, Islam ahlussunnah waljamaah, itu tidak diajarkan untuk bantah-batahan alias melawan.

“Para kiai NU itu melarang kita untuk menjelek-jelekkan ajaran lain. Ini membuat kita seperti menjadi bulanan-bulanan. Tetapi kalau soal hujjah, silakan, mau debat terbuka, silahkan. Seluruh amaliyah kita memiliki hujjah yang kuat,” jawabnya.

Baca juga: KONFERENSI ULAMA DUNIA KELUARKAN SALAFI WAHABI DARI ASWAJA

Tahdzir Menjadi Alasan Utama Salafi Wahabi

Empat belas abad sudah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan kita umat Islam. Semakin hari kemurnian ‘ajaran Islam’ semakin keruh akibat tercemar ‘benda-benda asing” (baca: bid’ah dkk.). Ibarat suatu aliran sungai yang telah ribuan kilometer meninggalkan mata airnya; berubah menjadi amat keruh karena telah bercampur dengan sampah-sampah yang dicampakkan ke dalamnya oleh oknum-oknum yang kurang bertanggung jawab.

Jauh-jauh hari, fenomena ini telah disitir oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« فإنه لا يأتي عليكم يوم أو زمان إلا والذي بعده شر منه حتى تلقوا ربكم »

“Tidaklah datang kepada kalian suatu hari atau suatu zaman melainkan sesudahnya lebih buruk dari sebelumnya, hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian.” (HR. Ibnu Hibban (XIII/282 no. 5952 -al-Ihsan). Muhaqqiq Shahih Ibn Hibban menshahihkan hadits ini.)

Maka, sudah merupakan suatu hal yang lazim, jika kita kaum muslimin dituntut untuk berusaha memurnikan kembali ‘ajaran agama kita’, dan membersihkannya dari noda-noda yang telah melekat lama di tubuhnya. Inilah yang diistilahkan oleh sebagian ulama dengan upaya tashfiyah (memurnikan).

Banyak sekali dalil-dalil -baik dari al-Qur’an maupun sunnah- yang menunjukkan akan disyari’atkannya tahdzir, jika dilakukan sesuai dengan norma-norma yang digariskan syari’at.

Di antaranya adalah firman Allah ta’ala,

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali-Imran: 104)

Ayat di atas menjelaskan akan disyariatkannya amar ma’ruf nahi munkar, dan para ulama telah menjelaskan bahwa tahdzir adalah merupakan salah satu bentuk amar ma’ruf nahi munkar.

Panutan Wahabi Salafi, Ibnu Taimiyah menerangkan, “Kalaupun dia (ahlul bid’ah tersebut) tidak berhak atau tidak memungkinkan untuk dihukum, maka kita harus menjelaskan bid’ahnya tersebut dan mentahdzir (umat) darinya, sesungguhnya hal ini termasuk bentuk amar ma’ruf dan nahi munkar yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Majmu’ al-Fatawa (XXXV/414). Lihat pula: Sittu Durar min Ushul Ahl al-Atsar, karya Syaikh Abdul Malik Ramadhani: hal. 109-112)

Senada dengan keterangan Ibnu Taimiyah di atas; penjelasan yang dibawakan oleh Imam al-Haramain al-Juwaini rahimahullah.( Lihat: al-Kafiah fi al-Jadal, hal. 20-21)

Di antara dalil disyari’atkannya tahdzir adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله؛ ينفون عنه تحريف الغالين, وانتحال المبطلين, وتأويل الجاهلين »

“Agama ini diemban di setiap zaman oleh para ulama; yang menyisihkan penyimpangan golongan yang ekstrim, jalan orang-orang batil dan ta’wilnya orang-orang yang jahil.” (HR. Al-Khathib al-Baghdady rahimahullah dalam Syaraf Ashab al-Hadits (hal. 65 no. 51) dan yang lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ahmad rahimahullah sebagaimana dalam Syaraf Ashab al-Hadits (hal. 65). Al-‘Ala’i rahimahullah dalam Bughyah al-Multamis, hal. 34 berkata, “Hasan shahih gharib”. Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam Thariq al-Hijratain, hal. 578 berkata, “Hadits ini diriwayatkan dari banyak jalan yang saling menguatkan”. Senada dengan perkataan Ibnu al-Qayyim: penjelasan al-Qashthallani dalam Irsyad as-Sari, (I/7). Syaikh Salim al-Hilaly hafizhahullah telah mentakhrij hadits ini secara riwayah dan dirayah dalam kitabnya Irsyad al-Fuhul ila Tahrir an-Nuqul fi Tashih Hadits al-‘Udul, dan beliau menyimpulkan bahwa derajat hadits ini adalah hasan.)

Dan masih banyak dalil lain yang menunjukkan akan disyari’atkannya tahdzir (Lihat dalil-dalil tersebut dalam kitab: Mauqif Ahl as-Sunnah, karya Syaikh Dr. Ibrahim ar-Ruhaily hafizhahullah (II/482-488), al-Mahajjah al-Baidha’ karya Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah (hal. 55-74), ar-Radd ‘ala al-Mukhalif, karya Syaikh Bakr Abu Zaid syafahullah (hal. 22-29), dan Munazharat A’immah as-Salaf, karya Syaikh Salim al-Hilaly hafizhahullah (hal.14-19)) Bahkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mempraktekkan metode tahdzir dalam kehidupannya; entah itu tahdzir terhadap individu maupun tahdzir dari suatu kelompok tertentu.

Di antara contoh praktek beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mentahdzir suatu individu; tatkala beliau mentahdzir dari ‘nenek moyang’ Khawarij: Abdullah bin Dzi al-Khuwaishirah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إنه سيخرج من ضئضئي هذا قوم يقرؤون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية »

“Akan muncul dari keturunan orang ini; generasi yang rajin membaca al-Qur’an, namun bacaan mereka tidak melewati kerongkongan (tidak memahami apa yang mereka baca). Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah yang menancap di tubuh buruan lalu melesat keluar dari tubuhnya.” (HR. Ahmad (III/4-5). Para muhaqqiq Musnad (XVII/47) menshahihkan isnadnya. Hadits ini aslinya dalam Bukhari (no. 6933) dan Muslim (II/744 no. 1064))

Adapun praktek beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mentahdzir dari suatu kelompok yang menyimpang, antara lain tatkala beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mentahdzir umat dari sekte Khawarij dalam sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« شر قتلى قتلوا تحت أديم السماء وخير قتيل من قتلوا كلاب أهل النار »

“Mereka adalah seburuk-buruk orang yang dibunuh di muka bumi. Dan sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang terbunuh ketika memerangi anjing-anjing penghuni neraka.” (HR. Ibnu Majah (I/62 no. 176). Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibn Majah (I/76) berkata, “Hasan shahih”)

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia(MUI) Din Syamsuddin angkat bicara terkait penolakan konsep Islam Nusantara oleh MUI Sumatera Barat (Sumbar).

Menurut Din Syamsuddin, sikap tolak-menolak terhadap pendangan dan pendapat kelompok tertentu tidak baik. Seharusnya, pendapat orang itu, kata Din, perlu dihormati dan dihargai. Misalnya Nahdlatul Ulama (NU) yang mengembangkan konsep Islam Nusantara.

“Sebaiknya tidak perlu ada penolakan-penolakan seperti itu klo ada kelompok islam ormas islam kemudian mengembangkan satu wawasan tertentu, seperti NU mengembangkan wawasan atau islam nusantara harus kita hargai,” ujar Din Syamsuddin saat di temui di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (27/7/2018).

Din Syamsuddin

Din menambahkan, kalaupun tidak sepakat dengan konsep Islam Nusantara, kata Din, tidak perlu ada penolakan. Sebab ia Khawatir, akan ada kelompok lain lagi yang akan muncul untuk pelakukan penolakan.

“Kalau pakai tolak-menolak seperti ini, mohon maaf, nanti yang lain juga ada penolakan disana penolakan disini,” ungkapnya.

Seperti diketahui sebelumnya, MUI provinsi Sumatera menyatakan bahwa istilah “Islam Nusantara” melahirkan berbagai permasalahan yang akan mengundang perdebatan yang tidak bermanfaat dan melalaikan umat Islam dari berbagai persoalan penting yang sedang dihadapi.

Bahkan istilah “Islam Nusantara” bisa membawa kerancuan dan kebingungan di tengah umat dalam memahami Islam.

Pernyataan tersebut merupakan butir pertama dari 7 butir keputusan rapat koordinasi bidang kerukunan dan ukhuwah MUI Sumbar dan MUI se-Kabupaten/kota Sumatera Barat, 21 Juli 2018, yang terkait dengan Islam Nusantara.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sesalkan keputusan Rapat Koordinasi Bidang Ukhuwah MUI Provinsi Sumatera Barat yang dinilai sudah menyalahi khittah dan jati diri MUI.

“Selain itu juga menyalahi MUI sebagai wadah berhimpun, musyawarah dan silaturahmi para ulama, zuama dan cendekiawan muslim dari berbagai kalangan dan organisasi,” ujar Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi kepada Islampos.com di Jakarta, Kamis, (26/7/2018).

Zainut menekankan, seharusnya MUI sebagai tenda besar umat Islam bisa menjadi pemersatu dan perekat persaudaraan (ukhuwah) Islamiyah bukan sebaliknya.

“MUI harus bisa mengedepankan semangat persaudaraan (ukhuwah), toleransi (tasamuh) dan moderasi (tawazun) dalam menyikapi berbagai persoalan khususnya yang berkaitan dengan masalah umat Islam. Jangan justru memperlebar kesalahpahaman dan perpecahan di kalangan umat Islam,” cetusnya.

Dalam putusan Ijtima’ Ulama MUI di Gontor ada panduan bagaimana MUI menyikapi perbedaan paham keagamaan di kalangan umat Islam yang dituangkan dalam Dokumen Taswiyatul Manhaj (Penyamaan Pola Pikir Keagaamaan).