╔═════ 📜📃 ═════╗
Menempelkan kaki dengan kaki
saat sholat itu ada haditsnya
SHOHIH BUKHORI ?”
╚═════ 📚📓 ═════╝

👳‍♀Oleh:Gus Ahmad Rifai

Pernah mendengar hal semacam itu ?

‘Si dia’ dengan bangga menyampaikan bahwa apa yang ia lakukan (baca : injak2an kaki, atau menempelkan kaki) ada haditsnya, haditsnya shohih lagi, shohih bukhori bahkan.

📝 Komentar saya :
“Ayo membaca hadits yang komplit dan lihat penjelasan ulama”

Haditsnya memang betul shohih bukhori

Tapi, jika saya tanya :
• “Apakah menempelkan kaki dengan kaki temannya dilakukan oleh Nabi Muhammad ?”
• “Apakah hal tersebut diperintahkan oleh Nabi Muhammad ?”
• “Apakah hal tersebut dipraktekkan oleh Sahabat Utama ?”

🔅 Maka jawabannya : TIDAK
(sengaja pake capslock, bukan marah, tapi biar jelas huehehee)

1⃣ Yuk kita simak hadits lengkapnya :

🔰 Riwayat Anas bin Malik
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ»
Mengabarkan kepada kami ‘Amr bin Kholid berkata, mengabarkan kepada kami Zuhair dari Humaid dari Anas bin Malik dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam: ” Tegakkanlah shaf kalian, karena saya melihat kalian dari belakang pundakku.” ada salah seorang diantara kami orang yang menempelkan bahunya dengan bahu temannya dan telapak kaki dengan telapak kakinya. (HR. Bukhari)

🔰 Riwayat anNu’man bin Basyir
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ, حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا, عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ الْجَدَلِيِّ, قَالَ أَبِي: وحَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ, أَخْبَرَنَا زَكَرِيَّا, عَنْ حُسَيْنِ بْنِ الْحَارِثِ أَبِي الْقَاسِمِ, أَنَّهُ سَمِعَ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ, قَالَ: أَقْبَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِوَجْهِهِ عَلَى النَّاسِ, فَقَالَ: ” أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ, ثَلَاثًا وَاللهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ ” قَالَ: ” فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ, وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَتِهِ وَمَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِهِ
An-Nu’man bin Basyir berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam menghadap kepada manusia, lalu berkata : “Tegakkanlah shaf kalian!”, tiga kali. Demi Allah, tegakkanlah shaf kalian, atau Allah akan membuat perselisihan diantara hati kalian. Lalu an-Nu’man bin Basyir berkata: Saya melihat seorang laki-laki menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya, lutut dengan lutut dan bahu dengan bahu. (HR. Bukhori)

2⃣ Bagaimana sih perintah Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam ketika itu ?

Beliau bersabda :
أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ
Tegakkanlah shof / barisan kalian
Jadi, beliau tidak memerintahkan untuk menempelkan kaki, tapi beliau memerintahkan untuk menegakkan shof dalam artian merapikan, meluruskan, dan merapatkan shof.

🚫 bukan memerintahkan untuk menempelkan kaki dengan kaki temannya

3⃣ Lalu, siapa yang menempelkan kaki ketika itu ? Berapa jumlahnya ?

Baca lagi hadits diatas
🔰 Anas bin Malik mengatakan :
[وَكَانَ أَحَدُنَا]
salah satu diantara kami

Baca lagi hadits diatas
🔰 anNu’man bin Basyir mengatakan :
[رَأَيْتُ الرَّجُلَ]
Saya melihat seorang laki-laki dari kami

🔖 Jadi, dari sekian banyak sahabat yang ikut sholat berjamaah bersama dengan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, semua sholatnya wajar.
Ada orang yang menempelkan kaki dengan kaki temannya dan jumlahnya hanya satu orang.

Sampai sini bisa dipahami ya❓
Bisa In syaa Allah

hukum menempelkan kaki dalam shalat berjamaah

4⃣ Perbuatan satu orang sahabat, apalagi tidak ada yang mengenalnya,TIDAK BISA DIJADIKAN HUJJAH

🔰 Al-Amidi (w. 631 H) salah seorang pakar Ushul Fiqih menyebutkan:
ويدل على مذهب الأكثرين أن الظاهر من الصحابي أنه إنما أورد ذلك في معرض الاحتجاج وإنما يكون ذلك حجة إن لو كان ما نقله مستندا إلى فعل الجميع لأن فعل البعض لا يكون حجة على البعض الآخر ولا على غيرهم
Menurut madzhab kebanyakan ulama’, perbuatan sahabat dapat menjadi hujjah jika didasarkan pada perbuatan semua sahabat. Karena perbuatan sebagian tidak menjadi hujjah bagi sebagian yang lain, ataupun bagi orang lain. (Lihat :Al-Amidi; w. 631 H, Al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, hal. 2/99)

💠 Jadi, kalau kita mau fair ingin mengamalkan perbuatan sahabat;
✔ mari kita Taraweh 20 rokaat, karena itu dilakukan oleh Sayyidina Umar bin Khottob dan disetujui semua sahabat,
✔ begitu juga Adzan Jumat 2x dilakukan dizaman Sayyidina Utsman bin Affan

Kalau injak2kan kaki ❓
Hanya satu orang sahabat, dan tidak dikenal siapa dia, serta perbuatannya menyelisihi mayoritas sahabat.

5⃣ Mana buktinya bahwa sahabat yang lain tidak menempelkan kaki dengan kaki temannya ?

🔰 Lihat bagaimana kata sang periwayat hadits, yaitu Anas bin Malik:

وَزَادَ مَعْمَرٌ فِي رِوَايَتِهِ وَلَوْ فَعَلْتُ ذَلِكَ بِأَحَدِهِمُ الْيَوْمَ لَنَفَرَ كَأَنَّهُ بغل شموس
Ma’mar menambahkan dalam riwayatnya dari Anas; jika saja hal itu (menempelkan kaki) saya lakukan dengan salah satu dari mereka saat ini, maka mereka akan lari sebagaimana keledai yang lepas. [Ibnu Hajar, Fathu al-Bari, hal. 2/211]

Kenapa bisa begitu ?
Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) menuliskan:
الْمُرَادُ بِذَلِكَ الْمُبَالَغَةُ فِي تَعْدِيلِ الصَّفِّ وَسَدِّ خَلَلِهِ
(Yang dilakukan sahabat tersebut adalah) berlebih-lebihan dalam meluruskan shaf dan menutup celah. [Ibnu Hajar, Fathu al-Bari, hal. 2/211]

6⃣ Lalu, siapa yang pertama kali mengatakan bahwa menempelkan kaki dengan kaki itu adalah termasuk kesempurnaan sholat bahkan termasuk hal yang wajib ?

🔰 Ia adalah Ustadz Nashiruddin al-Albani.
وقد أنكر بعض الكاتبين في العصر الحاضر هذا الإلزاق, وزعم أنه هيئة زائدة على الوارد, فيها إيغال في تطبيق السنة! وزعم أن المراد بالإلزاق الحث على سد الخلل لا حقيقة الإلزاق, وهذا تعطيل للأحكام العملية, يشبه تماما تعطيل الصفات الإلهية, بل هذا أسوأ منه
Sebagian penulis zaman ini telah mengingkari adanya ilzaq (menempelkan mata kaki, lutut, bahu), hal ini bisa dikatakan menjauhkan dari menerapkan sunnah. Dia menyangka bahwa yang dimaksud dengan “ilzaq” adalah anjuran untuk merapatkan barisan saja, bukan benar-benar menempel. Hal tersebut merupakan ta’thil (pengingkaran) terhadap hukum-hukum yang bersifat alamiyyah, persis sebagaimana ta’thil (pengingkaran) dalam sifat Ilahiyyah. Bahkan lebih jelek dari itu.
(Al-Albani : Silsilat al-Ahadits as-Shahihah, hal. 6/77)

Jadi beliau menganggap bahwa orang yang mengatakan ilzaq adalah anjuran untuk merapatkan shof, bukan menempelkan kaki, adalah pendapat yang salah, karena bagi beliau ilzaq adalah menempelkan kaki, lutut, dan bahu.

7⃣ Pendapat Ustadz Al-Albani bertentangan dengan pendapat Ulama Salafi (wahabi, pen) yang lain.

🔰 Ustadz Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata:
أن كل واحد منهم يلصق كعبه بكعب جاره لتحقق المحاذاة وتسوية الصف, فهو ليس مقصوداً لذاته لكنه مقصود لغيره كما ذكر بعض أهل العلم, ولهذا إذا تمت الصفوف وقام الناس ينبغي لكل واحد أن يلصق كعبه بكعب صاحبه لتحقق المساواة, وليس معنى ذلك أن يلازم هذا الإلصاق ويبقى ملازماً له في جميع الصلاة.
Setiap masing-masing jamaah hendaknya menempelkan mata kaki dengan jamaah sampingnya, agar shof benar-benar lurus. Tapi menempelkan mata kaki itu bukan tujuan intinya, tapi ada tujuan lain. Maka dari itu, jika telah sempurna shaf dan para jamaah telah berdiri, hendaklah jamaah itu menempelkan mata kaki dengan jamaah lain agar shafnya lurus. “Maksudnya bukan terus menerus menempel sampai selesai shalat.” (Lihat : Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; w. 1421 H, Fatawa Arkan al-Iman, hal. 1/ 311)

🔰 Ustadz Abu Bakar Zaid (w. 1429 H / 2007 M, adalah salah seorang ulama Saudi yang pernah menjadi Imam Masjid Nabawi, dan menjadi salah satu anggota Haiah Kibar Ulama Saudi) :

وإِلزاق الكتف بالكتف في كل قيام, تكلف ظاهر وإِلزاق الركبة بالركبة مستحيل وإِلزاق الكعب بالكعب فيه من التعذروالتكلف والمعاناة والتحفز والاشتغال به في كل ركعة ما هو بيِّن ظاهر.
Menempelkan bahu dengan bahu di setiap berdiri adalah takalluf (memberat-beratkan) yang nyata. Menempelkan dengkul dengan dengkul adalah sesuatu yang mustahil, menempelkan mata kaki dengan mata kaki adalah hal yang sulit dilakukan. (La Jadida fi Ahkam as-Shalat hal. 13)

🔰 Abu Bakar Zaid melanjutkan:

فهذا فَهْم الصحابي – رضي الله عنه – في التسوية: الاستقامة, وسد الخلل لا الإِلزاق وإِلصاق المناكب والكعاب. فظهر أَن المراد: الحث على سد الخلل واستقامة الصف وتعديله لا حقيقة الإِلزاق والإِلصاق

Inilah yang difahami para shahabat dalam taswiyah shaf: Istiqamah, menutup sela-sela Bukan menempelkan bahu dan mata kaki. Maka dari itu, maksud sebenarnya adalah anjuran untuk menutup sela-sela, istiqamah dalam shaf, bukan benar-benar menempelkan.

🔰 Bahkan pendapat Ustadz Al-Albani juga bertentangan dengan pendapat Madzhab Hambali

Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) :

حديث أنس هذا: يدل على أن تسوية الصفوف: محاذاة المناكب والأقدام
Hadits Anas ini menunjukkan bahwa yang dimaksud meluruskan shaf adalah lurusnya bahu dan telapak kaki. (Lihat: Ibnu Rajab al-Hanbali; w. 795 H, Fathu al-Bari, hal.6/ 282).

8⃣ Bagaimana sebenarnya cara merapatkan shof yang sempurna ?
وتعتبر المسافة في عرض الصفوف بما يهيأ للصلاة وهو ما يسعهم عادة مصطفين من غير إفراط في السعة والضيق اهـ جمل.الكتاب : بغية المسترشدين ص 140
“Disebutkan bahwa ukuran lebar shof ketika hendak sholat yaitu yang umum dilakukan oleh seseorang, dengan tanpa berlebihan dalam lebar dan sempitnya.” (Bughyatul Mustarsyidin hal 140)

Umpama-pun mau menempelkan, “tempelkanlah bagian yang terluar dari tubuh kita saat berdiri,”
mana itu ?
Ya kalau berdiri normal, kalau berdiri normal hlo ya, bagian terluar dari tubuh kita yaitu pundak atau bahu kita
sesuai sabda Nabi Muhammad saw :

أَقِيمُوا الصُّفُوفَ وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسُدُّوا الْخَلَلَ وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلَا تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ
”Luruskan shof, rapatkan pundak, dan tutup celah, serta perlunak pundak kalian untuk saudaranya, dan jangan tinggalkan celah untuk setan.” (HR. Abu Daud no. 666)

〽 “perlunak pundak kalian untuk saudaranya” maksutnya adalah hendaknya dia berusaha agar pundaknya tidak mengganggu orang lain.

Jadi, sekali lagi, ayo pahami hadits secara Cerdas ❗

Salam Cerdas ❣

Wallahu a’lam bis showab

========= ❁❁❁❁ =========
🔊 Diizinkan untuk menyerbarluaskan artikel ini dengan meng-copy / share secara KESELURUHAN

Instagram : @buyasoni
Telegram : @buyasoni
Facebook : Buya Soni
Youtube : Buya Soni
🌏 www.buyasoni.com
========= ❁❁❁❁ ========

Doa Bulan Rajab

MARHABAN YA RAJAB, Selamat datang bulan RAJAB:

Bulan Rajab telah tiba. Banyak orang yang mencari keutamaan dan niat puasa bulan Rajab. Ada juga yang bertanya-tanya, apakah hukum mengerjakan puasa Rajab: sunnah, makruh, atau justru haram. Samakah tata cara menjalankan puasa bulan Rajab dengan bulan-bulan lain?

Bulan Rajab tergolong dalam empat bulan haram bersama Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Allah bersabda dalam Surah At Taubah: 36, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”

Berbagai kalangan umat Islam menganggap puasa bulan Rajab sebagai ibadah khusus. Mereka mengucapkan niat puasa Rajab:

“Nawaitu Shauma Syahri Rajab Sunnatan Lillahi Ta’ala”

atau “Saya niat puasa bulan Rajab, sunnah karena Allah ta’ala”.

Puasa Rajab ini didasarkan pada perkataan terkenal bahwa “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang agung, barangsiapa yang berpuasa sehari di bulan itu, Allah tuliskan untuknya (pahala) puasa seribu tahun.” Meskipun demikian perkataan ini bukanlah riwayat Nabi. Ibnu Hajar menggolongkannya sebagai hadits maudhu.

Ringkasnya, berpuasa penuh di bulan Rajab itu boleh asal tidak mengkhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan. Mengingat adanya larangan dari Sayyidina Umar bin Khattab bahwa ketika Bulan Rajab beliau pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa) seraya berkata:

لَا تُشَبِّهُوهُ بِرَمَضَانَ

”Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.”

Disebutkan pula oleh Imam Asy Syafi’i, “Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan.”

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa (kecuali Ramadhan)… ” (HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi). Namun dalam ajakan tersebut, berpuasa sunnah tidak hanya dilakukan pada bulan Rajab semata, tetapi pada empat bulan Haram.

Fatwa dan pendapat Dr. Yusuf Al-Qardhawi selalu ditunggu oleh banyak orang. Beliau adalah seorang ulama yang mendalam keilmuannya dan merupakan intelektual muslim terkemuka di dunia yang berasal dari Mesir. Nama lengkap beliau adalah Yusuf bin Abdullah bin Ali bin Yusuf. Sedangkan al-Qardhawi (sebagian menulisnya dengan Qaradhawi) adalah sebutan keluarga mengacu pada sebuah kota, yakni al-Qardhah. Pemikiran beliau banyak diwarnai oleh cendekiawan muslim Hasan Al Banna.

Hukum menutup rambut bagi wanita

Berikut adalah pandangan Yusuf Qardhawi tentang rambut wanita:

Telah menjadi suatu ijmak bagi kaum Muslimin di semua negara dan di setiap masa pada semua golongan fukaha, ulama, ahli-ahli hadis dan ahli tasawuf, bahwa rambut wanita itu termasuk perhiasan yang wajib ditutup, tidak boleh dibuka di hadapan orang yang bukan muhrimnya.

Adapun sanad dan dalil dari ijmak tersebut ialah ayat Alquran, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (QS. An-Nuur: 31).

Maka, berdasarkan ayat di atas, Allah SWT telah melarang bagi wanita Mukminat untuk memperlihatkan perhiasannya. Kecuali yang lahir (biasa tampak). Di antara para ulama, baik dahulu maupun sekarang, tidak ada yang mengatakan bahwa rambut wanita itu termasuk hal-hal yang lahir.

Bahkan, ulama-ulama yang berpandangan luas, menggolongkan hal itu sebagai perhiasan yang tidak tampak. Dalam tafsirnya, Al-Qurthubi mengatakan, Allah SWT telah melarang kepada kaum wanita, agar dia tidak menampakkan perhiasannya (keindahannya), kecuali kepada orang-orang tertentu; atau perhiasan yang biasa tampak.

Ibnu Mas’ud berkata, “Perhiasan yang lahir (biasa tampak) ialah pakaian.” Ditambahkan oleh Ibnu Jubair, “Wajah.” Ditambahkan pula oleh Sa’id Ibnu Jubair dan Al-Auzai, “Wajah, kedua tangan dan pakaian.”

Ibnu Abbas, Qatadah dan Al-Masuri Ibnu Makhramah berkata, “Perhiasan (keindahan) yang lahir itu ialah celak, perhiasan dan cincin termasuk dibolehkan (mubah).”

Ibnu Atiyah berkata, “Yang jelas bagi saya ialah yang sesuai dengan arti ayat tersebut, bahwa wanita diperintahkan untuk tidak menampakkan dirinya dalam keadaan berhias yang indah dan supaya berusaha menutupi hal itu. Perkecualian pada bagian-bagian yang kiranya berat untuk menutupinya, karena darurat dan sukar, misalnya wajah dan tangan.”
Berkata Al-Qurthubi, “Pandangan Ibnu Atiyah tersebut baik sekali, karena biasanya wajah dan kedua tangan itu tampak di waktu biasa dan ketika melakukan amal ibadah, misalnya shalat, ibadah haji dan sebagainya.”

Hal yang demikian ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah RA bahwa ketika Asma’ binti Abu Bakar RA bertemu dengan Rasulullah SAW, ketika itu Asma’ sedang mengenakan pakaian tipis.

Lalu Rasulullah SAW memalingkan muka seraya bersabda, “Wahai Asma’, sesungguhnya jika seorang wanita sudah sampai masa haid, maka tidak layak lagi bagi dirinya menampakkannya, kecuali ini…” (beliau mengisyaratkan pada muka dan tangannya).

Dengan demikian, sabda Rasulullah SAW itu menunjukkan bahwa rambut wanita tidak termasuk perhiasan yang boleh ditampakkan, kecuali wajah dan tangan.

Allah SWT telah memerintahkan bagi kaum wanita Mukmin, dalam ayat di atas, untuk menutup tempat-tempat yang biasanya terbuka di bagian dada. Arti Al-Khimar itu ialah “kain untuk menutup kepala”, sebagaimana surban bagi laki-laki, sebagaimana keterangan para ulama dan ahli tafsir. Hal ini (hadis yang menganjurkan menutup kepala) tidak terdapat pada hadis manapun.

Al-Qurthubi berkata, “Sebab turunnya ayat tersebut ialah bahwa pada masa itu kaum wanita jika menutup kepala dengan khamirah (kerudung), maka kerudung itu ditarik ke belakang, sehingga dada, leher dan telinganya tidak tertutup. Maka, Allah SWT memerintahkan untuk menutup bagian mukanya, yaitu dada dan lainnya.”

Dalam riwayat Al-Bukhari, bahwa Aisyah RA berkata, “Mudah-mudahan wanita yang berhijrah itu dirahmati Allah.”

Ketika turun ayat tersebut, mereka segera merobek pakaiannya untuk menutupi apa yang terbuka. Ketika Aisyah didatangi oleh Hafshah dengan memakai kerudung (khamirah) yang tipis di bagian lehernya, Aisyah berkata, “Ini amat tipis, tidak dapat menutupinya.”

Dengan demikian jelaslah bahwa menutup rambut bagi wanita hukumnya wajib. Di sini, tidak dibahas mengenai hukum memakai jilbab. Namun, dapat disimpulkan bahwa berjilbab sebagai upaya menutup rambut adalah wajib hukumnya. Meski demikian, menutup rambut tidak harus dengan jilbab, melainkan bisa dengan kain biasa. Yang penting bisa menutup seluruh rambut dari pandangan umum.

Hukum Makan Daging Siput atau Bekicot Halal Apa Haram?

Beberapa teman di medsos mengajukan pertanyaan demikian.
Aneh memang. Bukan konten pertanyaannya yang aneh. Melainkan tempat mengajukan pertanyaan itu yang kurang pas. Persoalan hukum, apalagi hukum Islam, seyogyanya ditanyakan kepada ahlinya langsung demi validitas dan keakuratan jawabannya. Bukan apa-apa. Sekarang ini banyak akun ustadz klonengan. Contohnya Fanpage (halaman Facebook) KH Muhammad Arifin Ilham saja seabrek. Dari sekian banyak akun FP atas nama Ustadz Arifin Ilham tentu hanya ada 1 (satu) yang asli (official).

Tentang hukum makan daging bekicot (siput); apakah halal (boleh) atau haram, Majelis Ulama Indonesia sudah pernah melakukan pengkajian.

Bekicot Haram
Haram hukumnya mengkonsumsi Sate siput alias bekicot. Sebagaimana penegasan MUI (Majelis Ulama Indonesia)

Setelah melakukan eksplorasi yang komprehensif, dan kajian yang mendalam terhadap Qaul (pendapat) dari Jumhur Ulama (para ulama, mayoritas imam Madzhab terkemuka) Komisi Fatwa (KF) MUI menetapkan fatwa tentang bekicot pada Sidang Komisi Fatwa yang baru lalu di Jakarta. Dalam hal ini ada dua ketetapan. Pertama, “Bekicot itu haram untuk dikonsumsi secara umum, “ ujar Ketua Komisi Fatwa MUI, Prof.Dr.H. Hasanuddin AF, MA.

Menurut Qaul dari Jumhur Ulama, jelasnya lagi, bekicot itu termasuk kategori Hasyarot, dan hasyarot itu haram untuk dikonsumsi. “Kami di MUI mengambil pendapat ini. Walaupun memang ada sebagian kecil Ulama Salaf yang berpendapat lain,” tambahnya.

Maka kami mengingatkan umat agar memahami fatwa ini. Karena di sebagian masyarakat ada yang mengolah bekicot menjadi menu konsumsi, seperti sate bekicot. Termasuk juga menu Escargot, yang terkenal di Eropa. Haram bagi umat Islam untuk mengkonsumsinya. Demikian ditandaskan oleh Ketua KF MUI ini.

Memang, kini di Eropa, utamanya, bekicot sering digunakan sebagai bahan baku makanan yang disebut Escargot. Menu Escargot semula menggunakan bahan baku Helix pomatia (jenis siput yang dapat dimakan dari daratan Eropa). Karena Helix pomatia lama kelamaan sulit diperoleh, maka bekicot jenis Achatina fulica yang relatif lebih mudah dikembang-biakkan, menggantikannya sebagai bahan baku Escargot.

Boleh Intifa’

Ketetapan kedua, berkenaan dengan intifa’ (pemanfaatan) bekicot untuk penggunaan luar. Dalam Sidang KF MUI yang lalu itu juga ditetapkan, Intifa’ atau pemanfaatan bekicot untuk penggunaan di luar tubuh diperbolehkan. Seperti untuk kosmetika luar. Termasuk juga penggunaan untuk obat kalau memang betul-betul diperlukan berdasarkan hasil penelitian medis kedokteran. Dalam hal ini berlaku kaidah Haajiyat, yakni kebutuhan yang memang sangat diperlukan untuk pengobatan, selama belum ada alternatif bahan penggantinya.

Pemanfaatan itu seperti pada kulit bangkai. Pada dasarnya, bangkai itu haram dikonsumsi. Seperti bangkai kambing atau bangkai sapi. Tapi kalau disamak, kulitnya menjadi suci dan boleh dimanfaatkan, misalnya untuk alas kaki, sepatu dan peralatan lainnya. Jadi dari sini memang dapat dipahami, bahwa tidak semua yang haram itu bersifat najis. Demikian Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini menambahkan penjelasannya.

Namun hukumnya tetap, kulit dari bangkai yang telah disamak itu tidak boleh untuk dikonsumsi. “jadi, memang ada perbedaan fatwa tentang bekicot ini, dalam hal pemanfaatan dengan untuk dikonsumsi,” tandasnya.

Ada beberapa pendapat dari yang mengatakan bahwa bekicot halal dimakan. Mereka adalah sekelompok orang yang dalam berhukum selalu merujuk langsung pada Al Qur’an dan Sunnah. Menurut mereka, selama tidak ada ayat yang melarang makan daging bekicot maka tidak haram mengkonsumsi bekicot.

Sebagai langkah hati-hati (ihtiyath), sebaiknya kita memilih tidak mengkonsumsi daging bekicot. Toh masih banyak daging lain yang jelas kehalalannya untuk dikonsumsi. Wallahu a’lam.