Kisah Seorang Ayah Yang Bertobat Karena Anaknya Yang Tuli dan Bisu

Ayah ialah panutan dan pahlawan nomor satu di mata anak-anaknya, maka jangan heran jika anak-anak anda mengikuti semua yang anda lakukan, baik perbuatan yang dicintai Allah maupun yang sangat dibenci-Nya. Sebagai seorang panutan, bagaimana jika ternyata sosok ayah yang ada dikeluarga bukanlah sosok yang baik?

Alih-alih menjadi panutan bagi anak-anaknya, malah ada seorang ayah yang tidak segan-segan melakukan perbuatan dosa di depan anaknya tanpa rasa menyesal sama-sekali. Lalu, apakah semua anak yang tumbuh dengan sosok ayah yang demikian akan menjadi anak nakal pula?

Ternyata tidak. Maha Besar Allah dengan segala kuasa dan ketentuan-Nya. Adalah seorang laki-laki yang tinggal di Madinah berusia 37 tahun dan sudah menikah juga memiliki seorang anak laki-laki. Tidak seperti kebanyakan anak lainnya, Marwan yang masih berusia 7 tahun ini terlahir bisu dan tuli sehingga memiliki sedikit keterbatasan dalam hal berkomunikasi.

Meskipun begitu, Marwan tumbuh menjadi anak yang baik dan taat akan agama. Dari kecil ia dididik ibunya yang Shalihah dan juga hafal dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Karena sudah dari kecil diajari untuk selalu mengingat dan takut kepada Allah SWT, Marwan sering kali merasa takut dan bersedih ketika melihat ayahnya, atau orang Madinah menyebutnya dengan Abi melakukan perbuatan-perbuatan  yang dilarang oleh Allah SWT.

Selama ini, sang Ayah memang dikenal sebagai orang yang lalai. Ia lebih sering meninggalkan shalat wajib daripada melaksanakannya. Ketika melaksanakan shalat pun biasanya didasari atas ketidakenakannya dengan orang lain, atau hanya karena ingin mendapatkan pujian karena  sudah melaksanakan shalat. Tidak hanya itu saja, sang ayah juga akrab dengan dukun sehingga semakin jauh saja ia dengan jalan Allah.

Ayah Marwan ini bisa menjadi sosok seperti itu karena terjebak dengan pergaulan yang kurang baik. Hampir seluruh temannya merupakan teman yang serupa dimana jarang sekali melakukan shalat dan lebih sering mendatangi dukun  untuk mendapatkan pertolongan. Padahal satu-satunya tempat untuk meminta pertolongan dan perlindungan ialah Allah Ta’ala.

Hingga pada suatu hari selepas adzan maghrib, dimana hanya ada Marwan dan ayahnya di rumah. Sang ayah sudah akan bersiap-siap untuk keluar rumah seperti biasa untuk berkumpul dan bersenang-senang dengan teman-temannya. Marwan mengajak ayahnya berbicara dengan bahasa isyarat seperti biasa: “Abi mengapa engkau tidak shalat maghrib?”

Kemudian Marwan juga menunjukkan tangannya ke atas yang mengisyaratkan bahwa Allah di atas sana selalu melihat dan mengawasimu. Melihat sang ayah hanya diam, tidak lama kemudian, Marwan menangis tersedu-sedu. Melihat anaknya menangis, sang ayah berusaha untuk merangkul dan menenangkan Marwan.

Namun Marwan menolak untuk dipeluk ayahnya dan malah berlari ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Marwan terlihat berwudhu dengan khusyuk meskipun wudhu nya belum sempurna, dan lagi-lagi sang ayah masih terus diam melihatnya. Selesai berwudhu, Marwan kembali memberikan isyarat agar ayahnya tidak terburu-buru untuk keluar dan menunggunya sebentar.

Kemudian dibentangkanlah sajadah di depan ayahnya, dan shalat maghriblah Marwan di depan ayahnya. Melihat itupun sang ayah masih saja diam tertegun dan belum melakukan apa-apa, namun sudah dengan perasaan yang bercampur aduk tidak karuan. Setelah selesai shalat maghrib, Marwan bangun dan mengambil Al-Qur’an, tanpa ragu Marwan membuka satu halaman dan menunjukannya pada sang ayah.

Adapun surat yang ditunjukkan oleh Marwan ialahQur’an Surat Maryam ayat 45, yang artinya:

“Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzabdari Allah Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaithan”

Setelah menunjukkan ayat tersebut, Marwan kembali menangis tersedu-sedu. Tampak jelas bahwa selama ini Marwan menyimpan kekhawatiran yang sangat besar setiap kali ayahnya melakukan dosa didepannya. Merasa bersalah, malu dan tidak tahan dengan yang dilakukan oleh anaknya, sang ayah pun ikut menangis. Tangisan kedua laki-laki ini tumpah sehingga suara tangisannya seperti memenuhi rumah mereka yang hening.

Tidak lama kemudian, Marwan bangkit dan mulai mencium kening ayahnya, begitupun dengan tangan ayahnya.Lalu berkata lagi melalui isyarat tangannya: “Shalatlah wahai ayahku sebelum ayah meninggal dan dikubur, dan sebelum datang adzab.”

Mendengar hal itu, sang ayah langsung merasa ketakutan yang luar biasa besar. Perasaan takut ini benar-benar tidak bisa digambarkan hingga membuatnya merasa merinding, juga sangat bersalah.Kemudian sang ayah bangkit dan menyalakan lampu disetiap ruangan rumahnya dengan diikuti Marwandengan perasaan yang sedikit aneh.

Kemudian, Marwan memberikan isyarat lagi, ia berkata: “tinggalkan urusan lampu terlebih dahulu dan marilah kita ke Masjid Nabawi.” Sang ayah menjawab, mari kita ke mesjid yang dekat dengan rumah saja. Namun Marwan terus menerus meminta untuk pergi ke Mesjid Nabawi, sehingga sang ayah merasa tidak tega untuk menolaknya dan akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Mesjid Nabawi juga.

Dengan menggandeng Marwan, sang ayah berangkat ke Mesjid Nabawi dengan perasaan campur aduk, merasa takut, merasa bersalah dan masih banyak lagi perasaan lainnya yang tidak bisa digambarkan. Dalam perjalanan ini pun Marwan tidak pernah mengalihkan pandangannya dari ayahnya.

Sesampainya di Masjid Nabawi, Marwan dan  ayahnya mencari tempat untuk shalat karena seperti biasa Masjid Nabawi selalu dipenuhi oleh Umat Muslim yang tidak hanya berasal dari Madinah saja. Setelah selesai mengumandangkan iqomah, Imam Mesjid membacakan salah  satu Firman Allah, yakni Surat An-Nur ayat 21 yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah syaitan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitanitu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan  munkar.Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakii-Nya. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.”

Mendengar firman tersebut, lagi-lagi sang ayah tidak bisa menahan tangisya. Marwan yang berada persis di samping ayahnya juga tidak bisa menahan tangisnya, maka pecah lagilah tangisan ayah dan anak ini. Marwan dan ayahnya duduk di Masjid Nabawi ini lebih dari satu jam dan masih terus menangis. Namun tangisan kali ini merupakan tangisan penuh makna dan pengantar kepada kehidupan yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Hingga pada akhirnya Marwan mengatakan : “sudahlah wahai abiku, ku mohon”

Sadar karena telah membuat anaknya menjadi khawatir dengan tangisannya yang keras dan tak kunjung reda, sang ayah pun berusaha untuk diam dan menenangkan anaknya hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.

Untuk sang ayah, malam itu merupakan malam paling berarti dalam hidupnya karena akhirnya bisa menjadi seseorang yang jauh lebih baik, dan menjadi lebih istimewa karena anaknya satu-satunya yang membuatnya menjadi seperti itu.

Merasa penasaran, sang ayah menanyakan pada istrinya apakah istrinya yang menyuruh Marwan untuk menunjukkan surat tersebut dan membuatnya menjadi bertobat. Namun dengan mengucapkan nama Allah, sang istri yang shalehah itu berkata tidak sekalipun meminta Marwan untuk melakukannya.

Maha Besar Allah, semoga kita termasuk dalam hamba yang diberikan hidayah.

kapolda ntb umar septono pikul beras untuk warga miskin
Teladani Umar Bin Khattab, Kapolda NTB Pikul Beras Sendiri Untuk Warga Miskin

Umar Bin Khattab, siapa yang tak mengenal sosok dermawan yang merupakan Sahabat Nabi sekaligus Khalifah kedua ini? ya, beliau bisa dibilang suri tauladan yang luar biasa. Selain dikenal tegas terhadap bawahannya, tegas menetapkan peraturan dan kedisiplinan untuk rakyatnya, beliau dijuluki “singa padang pasir” yang membuat musuh bertekuk lutut karena strategi perangnya.

Begitu tersohornya kedermawanan Umar Bin Khattab di mata rakyatnya, bahkan bisa dibilang pesona Umar Bin Khattab ini tak pernah lekang oleh waktu. Sekalipun beliau telah wafat. Hal ini membuktikan bahwa perilaku yang baik untuk dicontoh adalah harga mati yang abadi.

Sama halnya dengan Umar Bin Khattab, Umar Septono yang merupakan orang nomor satu di kepolisian NTB ini juga memiliki sifat bersahaja. Beliau dikenal memiliki pribadi yang tegas dan tidak segan untuk memberikan pelajaran kepada anggota kepolisian yang tertangkap basah melanggar peraturan.

Drs. Umar Septono adalah Kapolda NTB berpangkat Brigjen yang menggantikan Brigjen Pol. Srijono sebagai Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat. Baru-baru ini ia menjadi buah bibir masyarakat karena kesahajaan yang dimilikinya. Ia memikul karung yang berisi beras dan bahan makanan sendiri ke salah satu warga miskin. Hal ini seakan menjadi bukti bahwa segala peraturan yang ia tegakkan bukan hanya berlaku bagi para bintaranya saja.

Baca: Profil Kapolda NTB Brigjen Pol Drs. Umar Septono SH,MH

Ya, selama ia menjadi Kapolda NTB, telah banyak kegiatan sosial yang dicanangkan untuk membantu dan melayani masyarakat. Terutama untuk masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Minggu, 30 Oktober 2016. “Umar bin Khattab” kepolisian ini menyambangi kediaman Amaq Saini, salah satu warga miskin yang menderita sakit lumpuh selama beberapa tahun terakhir. Bertempat tinggal di Lingkungan Darul Falah Utara, Kelurahan Panjisari, Lombok Tengah, kondisi Amaq Saini sangat memprihatinkan. Ia hanya terbaring lemas di atas ranjang.

Kapolda NTB Pikul Beras Sendiri Untuk Warga Miskin

Saat mengetahui bahwa yang datang memikul kantong berisi berasa adalah seorang Kapolda, Amaq Saini tak kuasa menahan bulir airmatanya. Ia tak menyangka, bahwa orang nomor satu di kapolda NTB itu rela memikul kantong beras menyusuri jalan setapak untuk menuju ke rumahnya. Selain beras, kapolda NTB yang dikenal sangat merakyat ini juga membawakan 2 dus mie instan yang ia panggul sendiri.

“Beliau mendatangi rumah Amaq Saini di Darul Falah Utara, Kelurahan Panjisari, Lombok Tengah. Karena mendengar warganya lumpuh, dan hanya bisa terbaring di atas kasur” ujar Kabid Humas Polda NTB, AKBP Tri Budi Pangastuti saat dihubungi pada hari minggu 30 Oktober 2016.

Baca: Demi Kejar Sholat Jamaah Awal Waktu, Kapolda NTB Pilih Tinggalkan Acara Festival Senggigi

Selepas memberikan kejutan kepada Amaq Saini berupa beberapa bahan makanan dan kedatangannya yang tiba-tiba. Brigjen Umar juga tak lupa menyempatkan berbincang-bincang dengan warganya ini. Bertanya seputar kondisi kesehatan dan keluarganya. Keakraban begitu terlihat jelas diantara mereka. Pecah oleh tawa natural sekaligus tangis haru yang sempat menghiasi sela-sela perbincangan mereka.

“Bapak itu datang sore, sama pak Babin dengan membawa beras,” kata AmaqSaini saat diwawancarai Lombokinfo, Senin (31/10).

Kedatangan jenderal bintang satu itu, menurut AmaqSaini (51) memang tidak diketahuinya. Tanpa pengawalan layaknya seorang ‘Datu’ (pemimpin dalam bahasa sasak) Kapolda datang didampingi oleh babinkamtibmas Panjisari yang sering berkunjung ketempatnya menjadi penunjuk jalan.

“Bapak (Kapolda) memikul 1 karung beras dan 2 dus mie instan yang diberikan langsung ke saya,” Ungkap Amaq Saini terharu dan tak bisa menahan bulir airmatanya.

Ia mengaku masih tak percaya kalau yang datang menemuinya adalah #Kapolda NTB setelah diberitahu oleh Babinkamtibmas.

“Kami berbincang-bincang lumayan lama,” ujarnya menambahkan.

Baca: Kapolda NTB: Laki-laki Yang Shalat di Rumah Namanya Muslim Sholihah Alias Bencong

Sementara itu Kepala Bidang Humas Polisi daerah Nusa Tenggara Barat AKBP Tribudi Pangastuti saat ditemui di kantornya mengatakan bahwa kegiatan sosial yang dilakukan Kapolda NTB itu bukan untuk pertama kali. Selama ini Kapolda memang tidak pernah meminta pengawalan, apalagi mengusulkan dana untuk kegiatan sosial tersebut.

“Sejak menjabat sebagai Kapolda NTB, Brigjen Umar memang sering melakukan kegiatan amal itu. Bisanya disela-sela kerja, beliau datang ke pelosok daerah untuk menyambangi warga yang memang telah diketahuinya sangat membutuhkan bantuan. Itu sudah menjadi kebiasaan mulia Kapolda,” ujarnya.

Entah bagaimana, pemandangan yang tak biasa ini terjadi. Memang bisa dibilang hal langka yang hampir jarang sekali kita temui di masyarakat. Mengingat pangkat dan jabatan yang tinggi seringkali membuat beberapa orang lupa akan pentingnya berbagi kepada sesama. Namun, Brigjen Pol. Drs. Umar Septono membuktikan bahwa letak kedudukan dan jabatan bukanlah penghalang untuk berbagi kepada sesamanya yang membutuhkan. Lewat pangkat dan kedudukan tinggi yang dimilikinya, ia masih bisa memberikan bantuan kepada warga miskin yang membutuhkan.

Lahir di purbalingga pada tanggal 13 september 1962, Brigjen Umar Septono kecil berhasil menamatkan pendidikan SD nya pada tahun 1974. Kemudian melanjutkan ke SMP dan lulus pada tahun 1977. Selain dikenal ramah terhadap masyarakat, Brigjen Umar Septono gemar sekali mengadakan kegiatan bakti sosial.Hal ini dilakukan agar citra polisi yang tadinya terkenal tegas dan galak berganti menjadi polisi yang ramah dan siap melayani masyarakat dengan segenap hati.

“Masyarakat tidak butuh Jenderal, mereka butuh Bintara-Bintara yang ikhlas melayani dan tersenyum” kata Kapolda NTB Umar Septono saat melaunching aplikasi kepolisian yang berbasis teknologi informasi di gedung Sasana Dharma, Selasa (25/10).

Umar menjelaskan, Polda NTB merupakan satu-satunya Polda di Indonesia yang telah lengkap menerapkan sistem satu desa satu polisi.Dia getol menggodok sistem tersebut karena meyakini bahwa untuk menekan tindak pidana dan memelihara kamtibmas, polisi harusdekat dengan masyarakat agar peran negara benar-benar dirasakan sampai ke bawah.

“Butuh kebijakan radikal dan hal itu saya lakukan.Peran bhabinkamtibmas harus ditingkatkan untuk menyelesaikan masalah-masalah di bawah sebelum itu menyebar ke mana-mana” ujarnya.

Baca: Kapolda NTB Gendong Sendiri Korban Kecelakaan Tabrak Lari

Lebih lanjut brigadir jenderal bintang satu ini mengatakan, untuk menyelesaikan masalah tidak lah cukup dengan peran perwira di balik meja.Butuh sesuatu yang lebih mendasar, yaitu dengan memahami karakteristik dan budaya lokal daerah tertentu dan itu diyakininya dimiliki oleh setiap anggota bhabinkamtibmas.

“Pantauan saya selama setahun lebih ini di Nusa Tenggara Barat, belum pernah ada protes dari masyarakat mengenai bhabinkamtibmas, malah banyak yang minta agar polisi tersebut tidak dipindah” pungkasnya.

Sejak program satu desa satu polisi dijalankan, sangat banyak kasus yang kemungkinan bisa menjadi besar dapat ditekan dikarenakan kesiapan prajurit yang ada dilapangan tersebut. Terutama untuk soal konflik sosial yang sering terjadi.

“Jadi menurut saya, bintara ini lah sesungguhnya pahlawan bhayangkara yang sigap dalam melayani masyarakat dengan senyuman. Saya mengapresiasi tindakan itu, dan tugas saya memotivasi mereka” tegasnya. Itulah jawaban Brigjen Umar Septono saat diwawancarai oleh beberapa media lokal. Rendah hati, tegas, penyayang, namun penuh wibawa adalah citra dari seorang ‘Umar Bin Khattab’nya Polri yang sangat lekat di hati masyarakat.

Baca: Kapolda NTB: Shalat Jamaah 5 Waktu Di Masjid Itu Harga Mati!

Sudah sepantasnya hal ini menjadi teladan yang baik bagi kita semua. Sebab terciptanya keharmonisan antara polisi dan masyarakat adalah jembatan agar kehidupan yang aman dan nyaman dapat diwujudkan.

Profil Kapolda NTB Brigjen Pol Drs. Umar Septono SH,MH

Tegas namun dermawan. Adalah tiga kata yang paling tidak bisa menggambarkan kepribadian Kapolda NTB Brigjen Pol Drs. Umar septono. Ya, menjabat sebagai Kapolda bukan berarti ia bisa memanfaatkan kedudukannya dengan meninggalkan tugas mutlak yang telah ia janjikan untuk masyarakatnya.

Tugas melayani dengan sepenuh hati, tanpa memandang latar belakang dan perbedaan strata yang ada, adalah semboyan yang selama ini dipegang teguh olehnya. Diterapkan bersama ribuan bintara di bawah pimpinannya. Tidak peduli sesulit apa hambatan dan rintangan yang akan ditemui di lapangan.

Baca: Kapolda NTB Pikul Beras Sendiri Untuk Warga Miskin

Baginya, menjadi pelayan masyarakat adalah tugas mulia yang resmi ia terima sejak menjabat sebagai Kapolda. Oleh karena itu, tidak ada sedikitpun keinginan membuat hati warga NTB kecewa dengan perilakunya yang mengesampingkan kepentingan mereka.

Melaksanakan tugas dan mengutamakan kewajibannya terhadap Sang Pencipta sudah sejak dulu diketahui sebagai dua hal yang melekat pada diri dermawan asal Purbalingga ini. Tak heran, jika banyak masyarakat yang kagum dan memujinya karena bisa begitu rapinya melaksanakan dua kewajiban tanpa ada keluhan maupun serentetan alasan ini itu.

Kewajiban akan tugas yang diemban sebagai aparat negara dan kewajiban pribadinya sebagai hambaNya. Ini bisa dibuktikan dengan berbagai program dan kegiatan yang dicanangkan sejak beliau terpilih sebagai kapolda menggantikan Brigjen. Pol. Srijono.

Sejak menjabat sebagai Kapolda, ia kerap melakukan berbagai kegiatan sosial untuk membantu warganya yang kesusahan. Sifatnya yang merakyat dan ramah, berani turun tangan tanpa mengandalkan anak buahnya saja, serta mampu bergaul dengan masyarakat dari semua lapisan membuat citra polisi NTB lebih baik lagi.hal ini dimaksudkan agar tercipta harmonisasi kehidupan antara polisi dan masyarakat.

Ia juga menerapkan berbagai peraturan tegas yang apabila dilanggar oleh bintara-bintaranya akan diganjar dengan pelajaran yang setimpal. Dibawah kepemimpinan Umar Septono, Polda NTB menjadi satu-satunya Polda di seluruh wilayah Indonesia yang telah lengkap menerapkan sistem satu desa satu polisi. Dia getol menggodok sistem tersebut karena meyakini bahwa untuk menekan tindak pidana dan memelihara kamtibmas, polisi harus lebih dekat dengan masyarakat.

Baca: Kapolda NTB: Shalat Jamaah 5 Waktu Di Masjid Itu Harga Mati!

Tidak cukup sampai disitu, orang nomor satu di NTB ini sering meluangkan waktunya untuk menyambangi warga yang kurang mampu.Seperti Umar Bin Khattab yang menjadi suri tauladan baginya.Tanpa ragu-ragu Umar Septono memikul karung beras dan bahan makanan lainnya untuk diserahkan ke warga yang sudah sejak lama menderita penyakit lumpuh.

Hal ini benar-benar dilakukan sendiri tanpa bantuan dari bawahannya.Ia juga tak segan untuk bercanda tau sekedarngobrol dengan warga sekitar. Menurutnya, ini sudah menjadi tugas seorang pemimpin yang mana dibutuhkan tanggung jawab sangat berat di hadapan Sang Pencipta.

Diambil dari nama sahabat sekaligus khalifah kedua setelah Abu Bakar As-shidiq, Nama Umar Septono bukan saja nama besar seorang Kapolda di tanah Nusa Tenggara Barat, nama umar adalah motivasi yang membuatnya selalu berusaha menerapkan hal-hal baik dari tauladannya untuk dicontohkan kepada bintara-bintara kepolisian.

Kapolda yang satu ini memang penuh kejutan.Ia tak segan melakukan tindakan luar biasa yang kerap membuat hati dan mata masyarakat NTB tercengang. Dalam sebuah acara pengajian rutin Polda NTB di Masjid Baiturrahman Polda NTB, ia juga sering ditunjuk sebagai salah satu pengisi acara. Lewat semboyan “Al-Qur’an yang jadi pegangan”, Brigjen #Umar Septono kerap menyuntikkan kata-kata motivasi di depan ratusan anggota polisi.

Baca: Kapolda NTB Gendong Sendiri Korban Kecelakaan Tabrak Lari

Motivasi untuk menjadi bintara yang melayani masyarakat dengan ikhlas dan senang hati. Satu hal yang tak luput untuk iasuntikkan ke dalam jiwa patriotisme para polisi ialah kewajiban menjalankan ibadah kepada Allah Ta’ala.

“Kita diciptakan didunia ini untuk apa.” Paparnya, “kita itu diciptakan untuk ibadah, dalam sebuah surat di Al-Qu’an Allah telah menjelaskannya bahwa Jin dan Manusia diciptakan hanya semata-mata untuk beribadah kepada-Nya.Hal-hal selain itu adalah pernak-pernik semata.Oleh karena itu, janganlah kita mengambil Hak-Hak Allah tersebut. Hak-Hak Allah, adalah kewajiban utama dan pernak-pernik itu jangan sampai mengganggu apalagi mengambil Hak-Hak Allah.” Lanjutnya, dan Umar benar-benar mengimplementasikannya dalam kesehariannya.

Hal ini terbukti saat ia rela menembus keramaian ribuan peserta yang menghadiri pertemuan penting dengan beberapa orang pejabat Negara diantaranya BPK RI dan Gubernur NTB. Disaat pertemuan sedang berlangsung dan membahas materi-materi penting yang lumrahnya tidak akan ditinggalkan oleh peserta manapun.

Baca: Demi Kejar Sholat Jamaah Awal Waktu, Kapolda NTB Pilih Tinggalkan Acara Festival Senggigi

Ia tanpa permisi meninggalkan acara dan keluar dari gedung. Kondisi ini jelas membuat semua peserta yang hadir heran dan penuh tanda tanya. Ternyata umar pergi bersama ajudannya untuk mencari masjid karena adzan dhuhur telah tiba. Kewajiban ini tidak bisa ditunda apalagi dilewatkan oleh apapun atau siapapun, walaupun itu urusan Negara sekalipun.

Brigjen Umar Septono pernah membuat semua jajarannya terpana karena membawa seorang tukang sapu dalam apelnya, menjemur 70 orang bawahannya karena mangkir dari solat dhuha, dan ikut serta membangun masjid saat kebetulan melintas di suatu desa padahal ia masih mengenakan seragam dinas.

Profil Kapolda NTB Umar Septono

BIODATA SINGKAT BRIGJEN POL. Drs. UMAR SEPTONO, SH. MH.

  1. Nama : Drs. UMAR SEPTONO, SH., MH
  2. PANGKAT / NRP : BRIGJEN POL / 62090699
  3. JABATAN : KAPOLDA NTB
  4. TTL :Purbalingga, 13 September 1962
  5. AGAMA / SUKU : ISLAM / JAWA

 

Terhitung Mulai tanggal tugas #Kapolda NTB : 05 Juni 2015

 

DIKPOL :

AKABRI 1985, PTIK 1994, SESPIM 1998, SESPATI 2 2008, LEMHANAS 47 TAHUN 2012

DIKUM :

SD 1974, SMP 1977, 1981

DIKJUR : PA DAS LANTAS 1989, PA DAS SERSE 1991, ASSESSMENT PATI TAHUN 2014

PANGKAT :

  1. IPDA 28 SEPTEMBER 1985 IPTU 01 OKTOBER 1989
  2.  AKP 01 Oktober 1992
  3. KOMPOL 01 Oktober 1996
  4. AKBP 01 Oktober 2001
  5. KOMBES POL 01 Oktober 2005
  6. BRIGJEN 01 Oktober 2013

RIWAYAT JABATAN

  1.  00-12-1985 : PAMAPTA POLRES DAERAH CIREBON
  2. 00-12-1986 : PA STAF SERSE POLRES DAERAH CIREBON
  3. 00-12-1987 : KAPOLSEK CIWARINGIN POLRES CIREBON
  4.  00-12-1988 : KAPOLSEK ARJAWINANGUN POLRES WILAYAH CIREBON
  5. 00-12-1990 : KAPOLSEK AREA LOSARI POLRES CIREBON
  6. 00-12-1992 : KAPOLSEK LIMANAN DAN POLRES CIREBON
  7. 00-12-1995 : KAPUSKODAL OPS POLRESTA DAERAH BANDAR LAMPUNG
  8. 00-12-1996 : KABAG SAMAPTA POLISI WILAYAH BENGKULU
  9. 00-12-1997 : KAPUSKODAL OPS POLTBES PALEMBANG
  10. 00-12-1997 : PAMEN POLISI DAERAH SUMSEL
  11. 01-06-1998 : KABAG TATIB LALU LINTAS DIT LALU LINTAS POLDA BALI
  12. 01-01-1999 : KASAT PRC DIT LANTAS POLDA BALI
  13. 03-10-2002 : KAPOLRES ASAHAN POLDA SUMUT
  14. 28-02-2003 : WADIR SAMAPTA POLISI DAERAH SUMUT
  15. 25-04-2003 : WAKA POLTABES SEMARANG POLDA JATENG
  16. 21-02-2004 : WAKA POLWILTABES SEMARANGPOLISI DAERAH JATENG
  17. 26-04-2005 : KAPOLTABES PADANG POLISI DAERAH SUMATERA BARAT
  18. 09-06-2006 : DIR LANTAS POLDA SUMBAR
  19. 07-12-2007 : WIDYAISWARA MUDA SESPIM POLRI
  20. 27-01-2009 : KASUBDIT MINREGIDENT DIT LANTAS BABINKAM POLRI
  21. 29-09-2010 : WAKAPOL DAERAH BENGKULU
  22. 23-02-2012 : ANALIS KEBIJAKAN MADYA BAGIAN DIKMAS KORLANTAS POLRI (DALAMRANGKA DIKLEMHANAS PPRA 47 2012)
  23. 08-02-2013 : SESLEM SESPIM POLRI LEMDIKPOL
  24. 07-06-2013 : KAROBINOPS SOPS POLRI
  25. 05-06-2015 : KAPOLDA NTB

Demikian sekilas info mengenai profil Kapolda NTB Brigjen Pol Drs. Umar Septono, sikap tegas dan dermawan yang dimilikinya adalah salah satu bukti bahwa perilaku pemimpin tak luput dari tanggung jawab kepada masyarakatnya.

Kapolda NTB Umar Septono Pilih Tinggalkan Acara Festival

Tidak banyak orang yang bisa konsisten dengan perkataan yang diucapkannya, entah itu pada dirinya sendiri atau dihadapan khayalak. Satu hal yang mampu kita pegang dari konsisten ialah kepercayaan yang tidak pernah luntur. Siapapun yang konsisten dengan pilihannya, sudah bisa dipastikan bahwa ia tipikal orang yang punya komitmen tinggi dalam hidupnya. Dengan begini, ia tau kemana arah dan tujuan yang mesti dicapai.

Bukan hanya masalah jabatan atau pangkat yang tinggi, pamor atau eksistensi yang melegenda di mata masyarakat dunia. Sebuah konsistensi adalah prinsip hidup yang berani dibayar dengan harga mati.

Prinsip seperti inilah yang kerap kita jumpai pada diri seorang pemimpin beberapa lembaga bahkan pemimpin negara. Mereka begitu antusias memegang teguh prinsip dalam hidupnya. Tak peduli seberapa susah rintangan yang harus dikalahkan, belum lagi waktu yang terkadang tidak memungkinkan untuk menjalankan prinsip-prinsip tersebut.

Tugas kenegaraan misalnya, hal ini seringkali disebut sebagai hal mutlak yang tidak bisa dinomorduakan dengan apapun itu. Terkadang keluarga menjadi salah satu syarat yang mau tidak mau harus ditinggalkan. Sedemikian pentingnya, seorang abdi negara yang menjadikan hidupnya untuk melayani orang banyak, mengurus segala keperluan, dan masalah yang terjadi dilapangan. Itulah serentetan kewajiban yang harus dipenuhi oleh prajurit negara: polisi.

Namun, Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB) Brigjen. Pol. Drs. Umar Septono, S.H., M.H mencoba membuka mata banyak orang, bahwa menjalankan dua kewajiban yaitu kewajiban dunia terhadap tugas yang diembannya dan kewajiban beribadah kepada Allah SWT bukanlah hal yang tidak mungkin.

Secara tidak langsung, ia telah menjadi contoh untuk para bintara menerapkan prinsip ini. Ya, tak peduli seberapapun penting acaranya, seberapa terkenal pembicaranya, sholat lima waktu adalah hal pertama yang wajib ia tunaikan sebagai rasa syukurnya terhadap Sang Khalik.

Brigadir Jenderal Umar Septono, Kapolda NTB yang lahir di Purbalingga ini juga menjadi perbincangan netizen. Diketahui ia bersama salah satu anggota polisi memutuskan untuk meninggalkan acara Festival Senggigi 16 September 2016 lalu.

Seperti yang dilansir oleh kicknews.today menginformasikan bahwa orang nomor satu di kepolisian Nusa Tenggara Barat ini mulai gelisah saat adzan asar telah berkumandang dan festival belum usai. Terlebih pada saat itu Festival Senggigi dihadiri oleh ribuan orang. Jadi mau tidak mau ia harus menerobos keramaian itu agar bisa melaksanakan sholat berjamaah di masjid.

Baca: Kapolda NTB: Shalat Jamaah 5 Waktu Di Masjid Itu Harga Mati!

Mengingat acara festival ini dihadiri oleh banyak orang, sudah pasti mobil dinasnya tidak bisa keluar. Brigadir Jenderal Umar Septono meminjam salah satu anggota polisi yang bertugas. Kemudian mereka berboncengan menyusuri jalanan yang tengah membludak oleh perayaan festival.

Kegelisahan yang terlihat jelas di wajah kapolda umar disebabkan oleh tempat festival yang jauh dari masjid. Otomatis setelah adzan asar berkumandang ia masih harus mencari masjid yang lokasinya dekat dengan tempat Festival Senggigi diadakan.

kapolda ntb tinggalkan acara festifal demi shalat jamaah

Awalnya, kejadian in tidak disadari oleh pengunjung festival. Bahkan banyak pengguna jalan dan masyarakat sekitar yang berpapasan dengan beliau namun tidak menyadari jika itu adalah Kapolda Nusa Tenggara Barat yang notabene merupakan jenderal bintang satu. Sungguh, hal ini menjadi bukti nyata bahwa prinsip yang dipegang teguh oleh seorang Brigjen Umar tidak mengenal waktu dan agenda yang mutlak ia jalankan sebagai pimpinan tertinggi di kepolisian NTB ini.

Tidak cukup sampai di situ, untuk menunaikan tanggung jawabnya sebagai pemimpin, ia pun menuntut dirinya untuk tegas dalam menetapkan peraturan. Adanya sanksi keras yang dilakukan terhadap pelanggaran peraturan ini bertujuan agar polisi mampu memenuhi dua kewajiban mutlak mereka dengan baik, yaitu kewajiban menjalankan tugas negara dan kewajiban menjalankan ibadah kepada Sang Pencipta.

Brigjen Umar Septono juga menggemparkan pengguna sosial media setelah video ceramahnya yang berdurasi selama 1 menit 1 detik dilihat ribuan kali di channel youtobe dan facebook. Video ini diambil saat beliau mengisi acara pengajian rutin yang biasa digelar bersama jajarannya. Lewat video viral ini beliau menyuntikkan kata-kata motivasi kepada bawahannya.

Motivasi untuk selalu sigap menjadi pengabdi negara, melayani masyarakat dengan baik. “Masyarakat tidak butuh Jenderal, mereka butuh Bintara-Bintara yang ikhlas melayani dan tersenyum” begitu kata Kapolda NTB, Brigjen Pol Umar Septono saat melaunching aplikasi kepolisian yang berbasis TI di gedung Sasana Dharma, Selasa (25/10).

Kapolda dermawan yang dikenal getol dengan prinsip solat lima waktunya ini memang sering ditunjuk sebagai pengisi acara pengajian. Dalam video singkatnya ia mengajak seluruh jajaran kepolisian dan masyarakat untuk menyadari pentingnya membangun relasi dengan tuhan yang maha esa. Dan menunaikan sholat tepat waktu adalah salah satu cara yang bisa dilakukan dengan segala kesibukan dan rutinitasnya sebagai Kapolda.

Baca: Kapolda NTB Gendong Sendiri Korban Kecelakaan Tabrak Lari

“Kita mulai dari Habluminallah.. Lima waktu saya di awal waktu, berjama’ah, di masjid, di barisan depan, sebelah kanan. Itu harga mati!”, seru Umar saat mengisi acara pengajian rutin bersama anggota kepolisian. Ya, baginya melaksanakan sholatlima waktu secara berjamaah di masjid adalah harga mati yang tidak bisa tawar menawar.

Hal ini menjadikan Brigadir Jenderal Umar dikenal sebagai kapolda yang rajin beribadah, tegas, ramah, sekaligus mampu mengaplikasikan pentingnya membangung hubungan dengan tuhan yang maha esa dengan kewajiban tugas duniawi yang tetap dilakukan.

Pentingnya menunaikan sholat tepat waktu adalah kewajiban untuknya. Itulah mengapa ia berani meninggalkan Festival Senggigi yang notabene adalah perayaan besar dan penting bagi masyarakat nusa tenggara barat. bahkan ia rela mempertaruhkan pangkat dan jabatan yang dimilikinya demi memenuhi hak-hak Allah. Ya, hak-hak Allah ialah mendapatkan pengakuan dari seorang hambanya yaitu ibadah yang ikhlas tanpa penundaan.

Brigadir Jenderal kelahiran Purbalingga ini pernah mengutip salah satu ayat suci Al-Qur’an yang berbunyi bahwa Allah tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada Allah.

Prinsip sholatlima waktu yang berjanji akan ia bayar dengan harga mati ini menyadarkan banyak orang disekitarnya. Bagaimana tidak?

Di tengah rutinitas yang padat, halangan yang begitu banyaknya, seorang Umar Septono membuktikan bahwa ikatan erat yang terjalin antara hamba dengan sang pencipta tak mudah dirobohkan begitu saja.

Hal lain yang membuat nama Brigadir Jenderal ini begitu lekat di hati masyarakat ialah kedermawanan yang dimiliki. Ia kerap kali mengunjungi warga yang sakit di pelosok desa untuk memberikan bantuan, menggendong sendiri korban kecelakaan tabrak lagi sekaligus menanggung biaya pengobatannya, dan membawa tukang sapu dalam apel bersama anggota kepolisian Nusa Tenggara Barat.

Baca: Kapolda NTB: Laki-laki Yang Shalat di Rumah Namanya Muslim Sholihah Alias Bencong

 

Kapolda NTB Shalat Jamaah 5 Waktu Di Masjid Itu Harga Mati

Kapolda NTB Brigjen Umar Septono, selama ini dikenal sebagai pribadi yang supel, dermawan, namun tegas dan ketat terhadap peraturan. Ia juga dikenal sebagai pribadi yang disiplin terutama dalam hal beribadah. Ya, posisi tinggi yang dimilikinya sebagai orang nomor satu di Kapolda NTB tidak membuatnya larut dengan berbagai kesibukan, rapat, dan berbagai pertemuan penting lainnya. Hal ini bisa dibilang sangat mengagumkan, mengingat kesibukan seorang pemimpin polisi yang tentu harus berkutat dengan segudang permasalahan.

Pemimpin yang dermawan ini sering mengisi acara pengajian rutin yang dilaksanakan setiap minggunya di masjid sekitar tempatnya bertugas. Dalam pengajian rutin tersebut, Brigjen Umar tak segan untuk menyerukan kalimat-kalimat motivasi kepada segenap jajarannya.Kalimat motivasi tersebut diharapkan mampu membentuk jiwa ksatria seorang polisi yang dilandasi dengan perilaku orang beriman sebagai syarat mutlak nomor satu.

Menurutnya, sikap dan perilaku seorang polisi sebagai pelayan masyarakat akan terbentuk dengan sempurna apabila dilandasi dengan Habluminallah yaitu hubungan dengan Allah atau sang pencipta. Menyadari kehadiran manusia sebagai hamba yang punya kewajiban terhadap Tuhan Yang Maha Esa, membangun hubungan dengan sang pencipta adalah langkah awal yang konkret guna mengetahui beratnya tanggung jawab yang harus diemban oleh pelayan masyarakat, terlebih bagi pemimpin polisi seperti Kapolda Umar Septono.

Baca: Kapolda NTB Gendong Sendiri Korban Kecelakaan Tabrak Lari

Kedisiplinan inilah yang melatarbelakangi berbagai program baru setelah ia resmi menjabat sebagai Kapolda Nusa Tenggara Barat menggantikan Brigjen Sriyono. Kebijakan yang ia terapkan ialah kewajiban melaksanakan sholat dhuha bagi prajurit polisi yang beragama islam. Ia pun tidak segan untuk memberikan ganjaran yang setimpal apabila ada bawahannya yang terbukti bersalah melanggar aturan. Adanya sanksi keras yang dilakukan terhadap pelanggaran peraturan ini bertujuan agar polisi mampu memenuhi dua kewajiban mutlak mereka dengan baik, yaitu kewajiban menjalankan tugas negara dan kewajiban menjalankan ibadah kepada sang pencipta.

Pernyataan tegas dalam video yang diunggah ke YouTube itu menjadi viral dan banyak mengundang perhatian dari masyarakat Indonesia yang berisi pidato Brigjen Umar Septono telah banyak membuat warga indonesia khususnya Nusa Tenggara Barat terpana. Bagaimana tidak? Lelaki kelahiran Purbalingga yang masih berseragam dinas saat mengisi acara pengajian rutin bersama beberapa ustadz dan jajarannya ini dengan lantang menyuarakan bahwa tidak ada panggilan yang lebih tinggi selain panggilan dari Allah, yaitu Allahu Akbar. Panggilan untuk melaksanakan sholat lima waktu yang wajib dinomorsatukan di atas segala kepentingan, termasuk kepentingan duniawi yang mempertaruhkan jabatan tinggi yang disandangnya.

Hal lain yang tak kalah mengejutkan dari seorang Kapolda Umar Septono ini ialah prinsip hidup yang dipegangnya. Begitu teguhnya, ia bahkan rela mengorbankan pangkat dan jabatan yang dimiliki demi memenuhi kewajiban terhadap sang Pencipta. Itulah mengapa sholat lima waktu adalah oksigen untuk hidupnya, tanpa membangun pondasi yang kukuh bersama sang pencipta, segala urusan tidak akan terselesaikan dengan lancar.

Seperti berita yang dilansir oleh salah satu media lokal, menyatakan bahwa Brigjen Umar Septono rela meninggalkan pertemuan penting bersama lembaga tinggi negara saat adzan dhuhur sudah berkumandang. Tanpa basa-basi, beliau menerobos ribuan peserta rapat dan bergegas mencari masjid terdekat. Padahal, ini bisa dibilang hal yang tidak lumrah mengingat materi yang disampaikan dalam rapat merupakan materi penting.

Baca: Demi Kejar Sholat Jamaah Awal Waktu, Kapolda NTB Pilih Tinggalkan Acara Festival Senggigi

Di lain kesempatan, ia juga pergi meninggalkan salah satu festival yang digelar di Nusa Tenggara Barat karena takut terlambat melaksanakan sholat dhuhur. Ia bergegas keluar dari area festival dan mencari pinjaman motor bersama anak buahnya karena jalanan yang sesak dan padat tidak memungkinkan untuk dilewati mobil dinas. Jarak masjid dengan tempat festival pun cukup jauh, itulah mengapa ia tidak peduli dengan kondisi. Hal ini pun lagi-lagi membuat mata para peserta festival terpana. Sungguh, betapa sibuk dan menumpuk tugas seorang Brigadir Jenderal, Umar Septono membuktikan bahwa ikatan batin antara makhluk dengan penciptanya sangat kuat. Hal inilah yang melandasi umar saat harus menyelesaikan berbagai problema yang ia temui di lapangan.

“Kita mulai dari Habluminallah.. (Shalat) Lima waktu saya di awal waktu, berjama’ah di masjid, di barisan depan, sebelah kanan. Itu harga mati!”, tegas Umar saat mengisi acara pengajian rutin bersama anggota kepolisian. Ya, baginya melaksanakan sholat lima waktu secara berjama’ah di masjid adalah harga mati yang tidak bisa tawar menawar. Hal ini menjadikan Brigadir Jenderal Umar dikenal sebagai kapolda yang rajin beribadah, tegas, ramah, sekaligus mampu mengaplikasikan pentingnya membangun hubungan dengan tuhan yang maha esa dengan kewajiban tugas duniawi yang dilakukan.

Baca: Kapolda NTB: Laki-laki Yang Shalat di Rumah Namanya Muslim Sholihah Alias Bencong

Ketika seruan adzan berkumandang, sesibuk dan sepenting apapun agenda yang sedang dijalankan, Brigjen Umar rela meninggalkan demi memenuhi hak Allah yang sudah semestinya dibayar lunas oleh hambanya. Baginya, tanggung jawab terhadap sang pencipta adalah hal utama. Sampai-sampai ia rela mengorbankan pangkat dan jabatan tinggi yang dimilikinya sebagai Kapolda Nusa Tenggara Barat. Dalam pidatonya, ia tak pernah lepas dari yang namanya Al-Qur’an. Ayat-ayat suci Al-Qur’an seringkali ia jadikan obat mujarab untuk mengingatkan betapa pentingnya ibadah. Salah satu ayat yang sangat membekas di hati netizen ketika melihat video ceramahnya di YouTube atau Facebook ialah pernyataan yang menjelaskan bahwa tidaklah Allah menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadanya.

Selain dikenal teguh menerapkan prinsip sholatlima waktu sebagai harga mati, Umar Septono juga sering melakukan kegiatan bakti sosial di sela-sela waktu luangnya. Ia kerap mengunjungi warga miskin atau warga yang sedang sakit di daerah terpencil untuk memastikan keadaannya. Bahkan ia pun rela memikul 1 kantong beras dan 2 dus mie instan untuk diberikan kepada seorang warga Darul Falah Utara, Kelurahan Panjisari, Lombok Tengah. Warga itu bernama Amaq Saini. Beberapa bawahannya menawarkan bantuan untuk membawakan beras dan bahan makanan yang ia bawa. Namun Brigadir Umar yang dermawan menolak dan memikulnya sendiri. Pemandangan tak biasa ini sebenarnya merupakan hal sederhana, tetapi jarang kita temui.

Lahir pada tanggal 13 september 1962, Umar Septono dikenal memiliki sikap ramah dan merakyat. Ia pernah menyempatkan diri untuk ikut gotong royong membangun masjid bersama warga sekitar padahal ia masih mengenakan seragam dinas.

Baca: Kapolda NTB Pikul Beras Sendiri Untuk Warga Miskin

Wah, sudah sepatutnya kita bangga ya memiliki pemimpin negeri yang bisa dijadikan suri tauladan bagi bawahan dan masyarakat sekitar.Rela melayani dengan sabar dan ikhlas hati. Brigadir Umar Septono sosok pemimpin yang lekat dengan rakyat, berwibawa, tegas, disiplin, serta tak pernah membedakan pergaulan dengan strata. Pemimpin seperti inilah yang akan mendongkrak jiwa patriotisme para pengabdi bangsa.

Kisah Perjalanan Muhammad Ali Petinju Legendaris

Muhammad Ali. Siapa yang tidak kenal nama itu, sosok petinju perkasa ini tidak hanya dikenal sebagai legenda dalam dunia tinju, namun juga dikenang sebagai seorang Muslim yang taat, dan banyak sekali kata-kata atau pesan-pesannya yang indah yang hingga saat ini masih terus diingat oleh umat Muslim karena menjadi inspirasi tersendiri untuk menjadi seorang Muslim yang lebih baik.

Hal pertama yang harus anda ketahui, Muhammad Ali merupakan seorang mualaf, dan namayang diberikan ketika ia lahir ialah Cassius Marcellus Clay. Ia lahir ditahun 1942 tepatnya pada tanggal 17 Januari di Amerika Serikat.

Jangan berharap bahwa legenda yang satu ini terlahir dalam keluarga kaya nan berkecukupan, karena Ali kecil terlahir dalam keluarga yang miskin. Apalagi pada saat itu isu-isu rasial masih sangat gencar-gencarnya, dan Ali berasal dari keluarga kulit hitam sehingga tidak jarang ia mendapatkan gangguan dan perlakuan yang tidak menyenangkan lainnya.

Hingga suatu hari, ketika Ali kecil sedang bermain, ada seseorang yang mencuri sepedanya. Mengetahui sepedanya sudah hilang, Ali tidak bisa menerimanya dan merasa sangat marah, bahkan kepada polisi Ali mengatakan dengan lantang bahwa ia akan menghajar sang pencuri hingga babak belur jika sudah mendapatkannya.

Mendengar seorang anak kecil hitam dan kurus berkata seperti itu, sang polisi hanya tertawa dan berkata dengan entengnya, bahwa jika ia ingin menghajar seseorang maka harus berlatih tinju terlebih dahulu. Meskipun terdengar bercanda, namun ternyata Ali menganggap serius perkataan polisi tersebut.

Baca: Kapolda NTB Gendong Sendiri Korban Kecelakaan Tabrak Lari

Ketika usia 12 tahun, yakni pada tahun 1954, Muhammad Ali mulai berlatih tinju dengan sungguh-sungguh. Tidak sia-sia, pada tahun 1960 seorang Muhammad Ali sudah memulai pertandingan professional. Tidak banyak yang menyangka bahwa kehilangan sepeda akan memberikan perjalanan hidup yang hebat untuknya.

Di usia 18 tahun, Muhammad Ali telah memenangkan medali emas pada Olimpiade Roma. Muhammad Ali mulai menjadi perbincangan dan pusat perhatian ketika di usia 22 tahun berhasil mengalahkan Sonny Litson, yang pada saat itu menjadi petinju yang sangat ditakuti. Padahal awalnya banyak orang yang memprediksi bahwa Muhammad Ali akan babak belur bahkan mati di ring pertandingan karena berani mengejek Sonny Litson.

Setelah mengalahkan Sonny Litson, nama Muhammad Ali langsung meroket dan menjadikannya seorang bintang tinju yang terkenal diseluruh dunia. Bahkan, ia disebut-sebut sebagai pahlawan bagi orang-orang kulit hitam di Amerika yang sebelumnya sering diremehkan.

Tidak selalu mulus, ditahun 1967 –1970  Muhammad Ali harus berhenti bertanding sebagai konsekuensi atas tidak bersedianya ia ikut dalam pasukan perang Amerika di Vietnam. Tidak hanya dilarang bertanding, paspor milik Muhammad Ali juga dicabut. Pada saat itu, Muhammad Ali seperti diasingkan. Hingga pada akhirnya bisa bertanding kembali dan bisa mengalahkan Oscar Bonavena, dan Joe Frazier setelah sempat dikalahkan satu kali, juga mengalahkan George Foreman sehingga menjadi juara dunia.

Ditahun 1975, barulah babak baru dalam hidup seorang Muhammad Ali dimulai, di tahun inilah ia mengumumkan telah menjadi seorang Muslim dan secara resmi mengganti namanya menjadi Muhammad Ali Clay. Banyak orang yang penasaran dengan keputusan besar legenda ini. Ketika ditanya, ia memberikan jawaban yang bisa membuat siapa saja terenyuh. Jawabannya ialah:

“Aku belum pernah melihat begitu banyak cinta. Saling memeluk dan mencium diantara mereka. Shalat lima waktu dalam sehari. Wanita yang memakai pakaian yang panjang. Cara mereka makan. Ketika engkau bisa pergi kemanapun dan menyapa mereka dengan Assalamu’alaikum – wa’alaikum salam. Engkau punya rumah, engkau punya saudara. Aku memilih Islam karena itu bisa menghubungkan perasaanku dengan siapa saja. Sedangkan sebagai orang Kristen di Amerika, aku tidak pernah bisa pergi ke gereja orang kulit putih. Dalam Islam aku merasakan kebaikan dan juga kebebasan.

Setelah itu, Muhammad Ali terus menjadi sorotan, bukan hanya sekedar legenda dari dunia tinju, namun juga sebagai umat Muslim yang rajin berbagi inspirasi dan membela siapa saja yang membutuhkannya.

Ditahun 2005, Muhammad Ali membangun Muhammad Ali center di Luisville sebagai pusat tempat dakwah. Ia juga meletakkan banyak koleksinya sehingga bisa menarik lebih banyak orang lagi untuk berkunjung dan bekenalan juga mempelajari Islam. Di tempat ini juga Muhammad Ali dan beberapa organisasi menuangkan idenyayang berkaitan dengan kesejahteraan Sosial, ide perdamaian, nilai-nilai luhur, juga membantu siapa saja yang memang membutuhkan bantuan.

Di beberapa kesempatan, Muhammad Ali sering mengucapkan kalimat-kalimat yang hingga saat ini masih diingat dan dijadikan inspirasi tersendiri. Beberapa ucapan Muhammad Ali yang mungkin  saja bisa anda jadikan  inspirasi di antaranya:

“Aku tidak merokok, tetapi aku selalu membawa korek api di saku celanaku kemanapun aku pergi. Setiap kali hatiku tergerak untuk melakukan dosa, maka aku membakar satu batang korek api, kemudian kurasakan panasnya di telapak tanganku. Dan aku berkata dalam hatiku: Ali, menahan panasnya korek api ini saja kau tidak sanggup, lalu bagaimana dengan dahsyatnya api neraka?”

“Mustahil hanya sebuah kata yang dilemparkan ke permuakaan oleh orang-orang kecil yang merasa lebih mudah untuk hidup di dunia yang sudah diberikan pada mereka, daripada mengeksplor kekuatan yang mereka punyai untuk bisa mengubahnya. Maka mustahil bukan fakta. Inilah pendapat. Mustahil adalah potensi. Mustahil ialah bersifat sementara. Dan mustahil bukan apa-apa.”

“Aku percaya pada Agama Islam. Aku percaya pada Allah dan kedamaian”

“Orang-orang mengatakan bahwa aku berbicara begitu lambat sekarang. Tidak mengherankan. Setelah aku hitung, aku telah melakukan 29.000 pukulan. Tapi aku mendapatkan $ 57.000.000 dan disimpan setengah dari itu. Jadi aku melakukan beberapa pukulan yang keras. Apakah anda tahu berapa banyak laki-laki berkulit hitam dibunuh setiap tahun oleh senjata dan pisau tanpa sepeserpun  untuk nama-nama mereka? Aku mungkin bicara lambat, tapi pikiranku baik-baik saja.”

“Mengapa mereka harus memintaku untuk mengenakan seragam dan pergi sepuluh ribu mil dari rumah untuk menjatuhkan bom dan peluru pada orang-orang berkulit cokelat di Vietnam, sementara yang disebut negro di Luisville diperlakukan seperti anjing dan menolak hak asasi manusia sederhana?”

Dalam sebuah wawancara, Muhammad Ali pernah ditanyai ada berapa pengawal yang ia miliki? Muhammad Ali diam dan pura-pura menghitung dengan jari tangannya, kemudian ia menjawab: “Saya punya satu bodyguard, Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar, Dia juga Maha Tahu. Kalau Dia ingin sesuatu, Dia tinggal menciptakannya dan langsung jadi. Pengikut-Nya patuh dan Dia tahu apa yang orang bicarakan. Dia tahu semua rahasia, bahkan  apa yang ada didalam benak kita. Dia adalah Tuhan, ALLAH. Dia adalah bodyguard saya, Dia juga bodyguard anda.”

Ketika terjadi penyerangan di Paris pada tahun 2015 lalu dan ISIS mengklaim dirinya sebagai pelakunya, Muhammad Ali juga sempat mengatakan bahwa “Aku seorang Muslim. Tidak ada ajaran Islam tentang membunuh orang yang tidak bersalah di Paris San Bernardino, atau dimanapun di dunia ini. Muslim sejati tahu bahwa kekerasan dan kekejaman yang disebut Jihad Islam sangat bertentangan dengan ajaran agama kita.

Kisah Meninggalnya Muhammad Ali dan Prosesi Pemakaman

Mantan petinju Muhammad Ali meninggal pada Sabtu, 4 Juni atau Jumat malam, 3 Juni waktu setempat. Petinju berusia 74 tahun itu sebelumnya telah dirawat di rumah sakit di area Arizona, Amerika Serikat selama 1 pekan terakhir karena mengalami penyakit di bagian pernafasan.

Muhammad Ali Juara Tinju Dunia
Foto peti jenazah Muhammad Ali yang berada di Louisville, Kentucky (Foto: Reuters)

Umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat (AS), untuk menghadiri prosesi pemakaman petinju legendaris dunia Muhammad Ali yang dilaksanakan pada hari ini, Jumat 10 Juni 2016. Pemakaman sendiri akan dilakukan sesuai tradisi Muslim.

Sebagaimana diwartakan Al Jazeera, Jumat (10/6/2016), lebih dari 14 ribu orang sudah membeli tiket untuk menghadiri prosesi pemakaman sang legenda tinju dunia tersebut yang akan dilaksanakan di Kentucky Exposition Center.

Pihak penyelenggara menyatakan prosesi pemakaman ini diadakan untuk memberikan kesempatan bagi para warga Muslim untuk mengucapkan salam perpisahan kepada pria yang banyak orang, khususnya warga Muslim AS, pandang sebagai pahlawan di Islam.

Dilaporkan, banyak warga Muslim di AS berharap prosesi pemakaman Muhammad Ali akan membantu menggarisbawahi bahwa agama serta tradisi Islam memang menjadi bagian dari kehidupan di Negeri Paman Sam.

Zaid Shakir yang akan menjadi imam Salat Jenazah sang legenda tinju tersebut menuturkan bahwa Muhammad Ali ingin menjadikan prosesi pemakamannya sebagai pembelajaran bagi warga AS mengenai agama Islam.

“Muhammad merencanakan semua ini, dan ia merencanakannya (prosesi pemakamannya) sebagai momen pembelajaran,” ujar Shakir.

Shakir juga sempat menyatakan kepada Associated Press mengenai hal-hal yang membuat Muhammad Ali menjadi sosok panutan bagi para warga Muslim AS.

“Satu penyebab Muhammad Ali menyentuh banyak hati adalah karena rela mengorbankan ketenaran, uang, glamor, serta semuanya (yang ia dapat) demi kepercayaannya (iman terhadap Islam) dan prinsipnya,” tambah Shakir.

Kapolda NTB Gendong Sendiri Korban Kecelakaan Tabrak Lari
Kapolda NTB Gendong Sendiri Korban Kecelakaan Tabrak Lari

Nama Kapolda NTB Brigadir Jenderal Polisi Drs Umar Septono SH, MH tengah menjadi perbincangan hangat di media masa. Ya, apa yang dilakukannya membuat para netizen kagum dan tak segan untuk memujinya. Bagaimana tidak? Orang nomor satu di kepolisian NTB ini tanpa ragu-ragu mengulurkan bantuannya kepada sesama. Sikapnya yang penolong, penyayang namun tegas adalah beberapa hal yang melatarbelakangi eksistensi brigadir jenderal NTB ini sebagai salah satu pemimpin yang dikenal rendah hati dan dermawan kepada siapapun. Bahkan, beberapa stasiun televisi dan media lokal yang meliputnya pun dibuat terkagum dengan kesahajaan beliau sebagai orang penting yang memiliki pangkat tinggi namun tetap rendah hati.

Salah satu hal yang berhasil mencuri hati netizen ialah aksinya yang begitu spontan menggendong anak kecil korban kecelakaan tabrak lari. Dengan baju dinasnya, ia langsung turun dari mobil kemudian menghampiri 3 korban yang tengah tergeletak di pinggir jalan. Salah satu dari ketiga korban tersebut ialah anak kecil laki-laki yang sedang menangis karena ada memar dan goresan luka di tumitnya. Kapolda yang tak pernah mangkir dari shalat berjamaah tepat waktu ini menolong langsung korban kecelakaan sebagaimana dikatakan oleh ajudannya Briptu Ramdan yang dikutip dari forums.merdeka.com sepulang dari tugas dinasnya di Lombok.

Baca: Kapolda NTB: Shalat Jamaah 5 Waktu Di Masjid Itu Harga Mati!

Saat itu, beliau baru saja selesai melaksanakan tugas dinasnya di lombok tengah. Brigjen umar Septono berpatroli untuk memantau kinerja para anggotanya yang sedang menjalankan tugas pengamanan tahun baru 2016. Tepatnya pada hari jum’at tanggal 1 Januari 2017. Tanpa disengaja, saat beliau sedang mengamati kondisi sekitar terdengar riuh dan keramaian dipinggir jalan. Melihat kejadian itu, beliaupun langsung tergerak hatinya. Ternyata pada hari itu ada sebuah kecelakaan lalu lintas di Jalan Lingkar Selatan Mataram dengan 3 orang korban tergeletak bersimbah darah. Parahnya lagi, kecelakaan ini merupakan kecelakaan tabrak lari. Sehingga tidak ada seorangpun yang bertanggung jawab menanggung biaya pengobatan para korban ini.

Ketika Kapolda Umar Septono melihat kejadian kecelakaan tersebut, beliau langsung memerintah supirnya untuk memutar balik menujulokasi kejadian berada pada sisi jalur yang lain dari arahnya di Jalan Lingkar selatan yang memang satu jalur. Ajudannya tanpa aba-aba segera menuruti perintah sang Kapolda.

“Sebenarnya sudah lewat, namun bapak memerintahkan untuk berbalik arah ke lokasi kejadian kecelakaan itu” kata Ramdan. Hal inilah yang mengundang banyak animo masyarakat. Seorang Kapolda yang penyayang terhadap sesamanya. Tanpa peduli masalah strata dan kondisi lain yang melatarbelakanginya. Sebenarnya, ia bisa saja menyuruh bawahannya untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Mengurus semua keperluan yang dibutuhkan oleh korban. Tapi lain halnya dengan Umar Septono, ia tak ragu untuk turun tangan mengatasi problema yang ditemuinya di lapangan.

Dia menjelaskan, tanpa basa basi Kapolda langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri para korban. Melihat salah satu korbannya anak kecil, beliau langsung menggendongnya. Ya, Brigjen Umar Septono adalah seorang ayah. Hati nuraninya ikut terpanggil ketika melihat seorang anak kecil tergeletak pulas sembari menangis menahan sakitnya goresan luka karena tergores aspal. Sungguh, ia sekali lagi telah membuktikan bahwa menjadi pelayan masyarakat bukan sekedar tugas yang harus ia penuhi. Melainkan kewajiban yang dengan senang hati ia jalankan. Tampa pamrih dan balasan.

Kapolda NTB Angkat Sendiri Korban Kecelakaan

Seusai menghampiri dan menggendong anak kecil tersebut, Brigjen Umar Septono berjalan cepat menghampiri mobil dan menyuruh ajudannya untuk membawa ketiga korban tersebut ke rumah sakit Bhayangkara. Menurutnya, pertolongan ini sangat darurat mengingat ketigakorban kecelakaan tabrak lari itu sudah lumayan lama menunggu bantuan.

“Bapak bilang naikan ke mobil dinasnya, tapi saya menyarankan untuk pakai mobil lain yang lebih besar karena korbannya berjumlah tiga orang agar sekalian dapat di angkut semuanya” terangnya. Kebetulan saat itu ia bersama ajudannya memakai mobil dinas berjenis sedan, jadi tidak memungkinkan apabila ketiga korban dibawa menuju Rumah Sakit Bhayangkara secara bersamaan.

Melihat hal ini, ajudan Brigjen Umar pun tak tinggal diam, ia mencarikan bantuan dengan menyetop pengendara mobil yang kebetulan melintasi tempat kejadian perkara. “Saya berhentikan mobil APV yang kebetulan lewat dan beliau sendiri yang minta tolong kepada pengemudi mobil tersebut untuk mengantar korban ke Rumah Sakit Bhayangkara” ujarnya saat diwawancarai oleh wartawan. Dari pernyataan Ramdan tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa sosok Umar Septono adalah seorang pemimpin yang luar biasa. Tanpa segan, bahkan ia sendiri yang meminta tolong kepada pengemudi agar berbaik hati mengantarkan warganya menuju rumah sakit terdekat. Pemandangan tidak biasa ini tentu menuai simpati dari pengemudi mobil APV tersebut.

Sesudah ketiga korban diangkat ke mobil APV, Umar Septono meminta ajudannya untuk segera menelpon pihak rumah sakit. Hal ini dimaksudkan agar pihak rumah sakit segera mempersiapkan perlengkapan untuk ketiga korban kecelakaan yang sedang dalam perjalanan. Sehingga ketiga korban pun akan mendapatkan pelayanan medis setibanya di rumah sakit. “Waktu itu kita sedang mengejar Sholat Ashar juga, Alhamdulillah setelah beres dan anggota lalu lintas datang, kita bergegas ke Masjid terdekat dan masih bisa menunaikan Sholat berjamaah disana” imbuhnya.

Baca: Kapolda NTB: Laki-laki Yang Shalat di Rumah Namanya Muslim Sholihah Alias Bencong

Kapolda dermawan yang dikenal tak pernah absen dari solat berjamaah lima waktu di masjid ini terlihat begitu piawai menyelesaikan dua kewajiban yang diembannya sekaligus. Dalam berbagi kesempatan, ia kerap kali memotivasi jajarannya untuk tidak meninggalkan kewajiban terhadap sang pencipta. Ya, semangat yang ia tularkan kepada anggota polisi lainnya untuk lebih dulu membangun komunikasi yang baik dengan sang pencipta. Habluminallah istilahnya. Itulah mengapa, ia getol menyerukan sholat lima waktu di lingkungan tempat ia bertugas. Tak peduli seberapa sibuk agenda yang harus dijalani, sepenting apapun materi yang disampaikan dalam rapat atau pertemuan dengan lembaga-lembaga penting dalam negeri. “Khalifah” kapolda NTB ini rela meninggalkannya demi memenuhi panggilan tertinggi yang tiada bandinganya. “Karena panggilan paling tinggi hanya satu, Allahuakbar, Allahuakbar. Panggilan mana lagi yang lebih tinggi,” ucap Kapolda.

Baca: Demi Kejar Sholat Jamaah Awal Waktu, Kapolda NTB Pilih Tinggalkan Acara Festival Senggigi

Tidak sampai disitu, selepas melaksanakan sholat ashar berjamaah. Kapolda Umar Septono meminta ajudannya untuk mengantarkan ke rumah sakit. Ia ingin meminta konfirmasi perihal ketiga korban yang ditolongnya. karena merupakan korban tabrak lagi, tidak ada penanggung biaya ketiga korban tersebut. Disinilah kedermawanan seorang petinggi kepolisian ini kembali membuka mata publik. Ya, beliaulah yang menanggung seluruh biaya pengobatan tanpa ada jaminan apalagi pamrih dari ketiga korban tersebut. “Saya dengar sekilas saat berbincang dengan kepala Rumah Sakit, bapak yang menanggung semua biaya pengobatan para korban tabrak lari yang ditolongnya tersebut” imbuhnya.

Itulah sekilas cerita mengenai Kapolda Umar Septono, pemimpin yang tak pernah gengsi turun tangan menanggapi permasalahan yang ada. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pemimpin seperti inilah yang diidam-idamkan oleh masyarakat. Dekat dan penyayang dalam memberikan pelayanan.

Kapolda NTB Umar Septono

Kapolda NTB Brigadir Jederal Polisi Drs Umar Septono SH, MH dengan gagah berani menegaskan bahwa beliau rela mengorbankan pangkat, jabatan bahkan nyawa sekalipun demi menegakkan shalat berjamaah di masjid. Di setiap kesempatan, orang nomer wahid di jajaran Polda Nusa Tenggara Barat ini selalu menekankan pentingnya menjaga jamaah di masjid dalam setiap shalat 5 (lima) waktu. “Shalat Tepat Waktu di Masjid Itu Harga Mati”, tegasnya.

Baca: Demi Kejar Sholat Jamaah Awal Waktu, Kapolda NTB Pilih Tinggalkan Acara Festival Senggigi

Dalam sebuah tausiyah di masjid yang dihadiri para anggota, #Kapolda NTB Umar Septono kembali menyemangati para polisi untuk senantiasa rajin-rajin berjamaah ke masjid ketika menjalankan shalat. Beliau mengatakan, laki-laki yang sholat di rumah itu namanya muslim sholihah. Selengkapnya simak tausiyah beliau di video berikut:

Baca: Kapolda NTB Gendong Sendiri Korban Kecelakaan Tabrak Lari

Di samping dikenal sebagai jenderal bintang satu yang rajin shalat berjamaah, Umar Septono juga dikenal karena kebersahajaannya. Ini yang membuat banyak orang menaruh hormat dan kagum. Beliau pernah memikul beras di pundaknya sendiri untuk di antarkan ke warga kurang mampu. Pak Kapolda juga pernah terekam kamera menolong langsung dan membopong korban kecelakaan ke dalam mobil.