Konferensi 200 Ulama Dunia: Wahabi Bukan Ahlussunnah Wal Jama’ah

by -277 views

من هم أهل السنة والجماعة؟ (Siapakah Ahlussunnah Wal Jama’ah?)

Ketika kelompok Wahabi Salafi membangun puluhan website, membuat lusinan saluran (channel) di YouTube dan ratusan halaman (fanpage) di Facebok, mendirikan stasiun TV dan radio yang semuanya berlabel Ahlussunnah. Muncullah pertanyaan di atas.

Masyarakat awam memendam tanda tanya; mengapa isi pengajian mereka berseberangan dengan umumnya umat Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah (Sunni). Bahkan mereka tak jarang memvonis bid’ah, kafir, syirik dll terhadap kelompok di luar mereka?

Hingga pada akhirnya, para ulama Ahlussunnah Waljama’ah dari berbagai negara pun merasakan kegelisahan umat Islam. Mereka bertemu untuk mendiskusikan hal tersebut dalam sebuah Muktamar Internasional Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Konferensi Internasional Ulama Ahlussunnah Chechnya

KONFERENSI ULAMA SEPAKAT WAHABI BUKAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

Muktamar Internasional Ulama Muslim (bahasa Arab: المؤتمر العالمي لعلماء المسلمين‎) atau Muktamar Ahlussunnah Wal Jamaah, yang lebih dikenal dengan Konferensi Chechnya (bahasa Arab: مؤتمر الشيشان‎), adalah muktamar yang diselenggarakan di Grozny, ibu kota Republik Chechnya pada 25-27 Agustus 2016 membahas judul “Siapakah Ahlussunnah wal Jama’ah? Penjelasan dan Klasifikasi Metode Ahlussunnah Waljamaah dalam Aqidah, Fikih, dan Akhlak, serta Dampak Penyimpangan darinya di Tataran Realitas”.

Muktamar ini dihadiri Imam Besar Al-Azhar Ahmad al-Tayeb, para mufti dan lebih dari dua ratus ulama dari seluruh dunia. Mesir juga menghadiri perjumpaan ini dengan mengutus para ulama terkemuka Universitas Al-Azhar, Kairo. Acara ini terselenggara berkat dukungan dari Presiden Republik Chechnya Ramadhan Ahmed Kadyrov dalam rangka mengenang dan memperingati Presiden Ahmad Haji Kadyrov.

Para peserta konferensi mengeluarkan fatwa yang secara resmi menegaskan bahwa aliran Wahabi bukan bagian dari Ahlussunnah Wal Jamaah.

Para peserta mengatakan dengan tegas bahwa ada beberapa power regional dan internasional. Yang merusaha menyulut konflik sektarian dan mazhab di tengah negara-negara Islam. Untuk melayani ambisi musuh ummat Islam dan untuk kepentingan-kepentingan sempit.

Peserta Muktamar Internasional Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah

Muktamar Islam Chechnya kali ini dihadiri lebih dari 200 ulama seluruh Dunia. Diantaranya ialah:

  1. Syeikh al-Azhar al-Imam al-Akbar, Prof. Dr. Ahmad Muhammad al-Tayyeb.
  2. Mufti Mesir, Syiekh Prof. Dr. Syauqi Ibrahim ‘Allam.
  3. Mantan Mufti Mesir, Syeikh Prof. Dr. Ali Jum’ah.
  4. Mufti Syiria, Syeikh Ahmad Badruddin Hassoun.
  5. Syeikh Prof. Dr. Taufiq Ramadhan al-Buthi, putra Syeikh al-Syahid M. Sa’id Ramadhan al-Buthi.
  6. Al-Da’i ila Alloh, al-Habib Umar ibn Hafidz, Yaman.
  7. Al-Da’i ila Alloh, al-Habib Ali al-Jufri, Yaman.
  8. Syeikh Prof. Abu Bakr Ahmad Musliyar, Kerala-Hindia, Sekjen Jam’iyyah Ulama’ al-Hind.
  9. Syeikh Prof. Dr. Ahmad al-‘Abbadi, Sekjen Robithoh Muhammadiyah lil-Ulama’, Maroko.
  10. Syeikh Dr. Usamah al-Sayyid al-Azhari, Mesir.
  11. Syeikh Prof. Dr. Syarif Hatim al-Auni, Saudi Arabia.
  12. Syeikh Dr. Sa’id Abdullatif Foudah, Yordania.
  13. Dan Ulama’-ulama’ lain dari seluruh Dunia termasuk dari Malaysia dan Indonesia.

Maksud dan Tujuan Konferensi Internasional Ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah

Konferensi atau Muktamar Aswaja Internasional Chechnya berupaya meluruskan klaim sepihak Wahabi yang merepresentasikan paling “Ahlussunnah Wal Jamaah” dan paling nyunnah. Akibatnya mazhab Aswaja ini menjadi korban stigma lantaran paham Wahabi teridentifikasi sebagai ideology kekerasan.

Untuk meluruskan stigma dan membedakan yang mana paham Aswaja dan Wahabi, muktamar Aswaja Internasional Chechnya pun menegaskan bahwa Aswaja adalah Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam akidah. Empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam fikih. Serta ahli tasawuf yang murni –ilmu dan akhlak— sesuai manhaj Imam Junaeid dan para ulama yang meniti jalannya.

Baca juga: Hasil Konferensi Ulama Ahlussunnah Internasional Chechnya

“Itu adalah manhaj yang menghargai seluruh ilmu yang berkhidmah kepada wahyu (Al-Quran dan Sunnah). Dan telah benar-benar menyingkap tentang ajaran-ajaran agama ini dan tujuan-tujuannya. Dalam menjaga jiwa dan akal. Menjaga agama dari distorsi dan permainan tangan-tangan jahil. Menjaga harta dan kehormatan manusia, serta menjaga akhlak yang mulia,” Kata Guru Besar Al Azhar Mesir Syekh Ali Jum’ah dalam sambutannya di muktamar Aswaja Internasional.

Jika pun ada mazhab di luar kategori di atas, Ali Jum’ah mengingatkan dan mengaskan, Aswaja tidak mengkafirkan siapa pun yang mengaku sebagai Muslim. Penegasan ulama Aswaja kelahiran Mesir ini juga menjadi pembeda antara paham Aswaja dengan kelompok radikal atau ekstrimis.

“Aswaja tidak pernah mengafirkan orang yang shalat menghadap kiblat. Aswaja tidak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan tidak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram)”. Katanya.

Penasehat Presiden Mesir dan utusan Komisi Keagamaan Parlemen Mesir Usamah al-Azhari menjelaskan terkait muktamar. “Muktamar Cechnya bermaksud memberikan pencerahan mengenai problematika yang mengitari dunia Islam. Dalam berbagai persoalan akidah dan pemikiran yang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok teroris radikal dalam mencetak manhaj-manhajnya yang menghancur-leburkan.”

Menurut dia, kaum takfiri (hobi mengkafirkan) dan kaum tafjiri (hobi melaksanakan peledakan) berjalan di satu jalan yang sama. Sementara lembaga-lembaga keagamaan beberapa yang enggak memahami keadaan kritis. Sehingga membukakan kesempatan bagi takfirisme untuk melawan penyebaran agama yang moderat dan akidah yang benar.

Mengenai gerakan Salafi / Wahabi, Imam Besar Al-Azhar Syeikh Ahmad al-Tayeb dalam muktamar Grozny mengingatkan. Bahwa konsep Aswaja yang telah berlaku sekian abad di tengah ummat Islam belakangan ini digugat oleh klaim-klaim tertentu dan hawa nafsu orang-orang yang secara fisik mengenakan jubah agama. Namun batinnya keluar dari pokok (ushul/aqidah), kaidah (fikih) dan toleransi agama.

Menurut dia, fenomena ini nyatanya sudah membikin konsep yang telah berabad-abad goyang di kalangan awam ummat Islam. Dan bahkan sebagian kalangan yang terlibat dalam aktivitas dakwah Islam. Dan para pengklaim itu pun tampil dengan label Aswaja (Sunni) dan berlagak selaku satu-satunya juru bicara Aswaja.

Akibatnya, barisan ummat Islam terpecah. Dan pemahaman yang salah soal Aswaja itu bercokol dalam pikiran kalangan awam dan bahkan kalangan pendakwah. Mereka yang sesungguhnya bukan Aswaja mempercayai bahwa dirinya Aswaja (Sunni). Sehingga maraklah faham radikalisme, ekstrimisme, terorisme, dan aksi tindakan mematikan seakan-akan ditunaikan kaum Sunni (Aswaja).

Dia meneruskan bahwa keguncangan konsep Aswaja (Sunni) sudah sukses memecah Ummat Islam. Membangkitkan nyali para pengintainya membidikkan anak panahnya kepada golongan ini. Mencemarkan perjalanan sejarahnya. Dan melaksanakan distorsi-distorsi yang membikin golongan Aswaja seakan bertanggung-jawab. Atas aksi-aksi teror yang ditunaikan oleh kelompok-kelompok takfiri bersenjata.

Dia menerangkan bahwa kelompok-kelompok ini sudah mencemarkan nama baik Aswaja dengan menyebut diri mereka selaku Sunni (sebutan Arab untuk Aswaja). Dan potensi mereka sengaja menyerbu konsep Aswaja untuk melicinkan obsesi politik, juga tendensi sektarianisme. Dan ambisi ekspansif untuk memintarkan para penebar perpecahan.

Syeikh Ahmad al-Tayeb lantas menerangkan soal Aswaja. Bahwa dalam metode pendidikan Al-Azhar, Aswaja ialah sebutan untuk kalangan pengikut Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari. Dan Imam Abu Mansur al-Maturidi dalam beraqidah. Mereka meliputi para ulama mazhab fikih Hanafi, Maliki, Syafi’i dan para ulama moderat dari mazhab fikih Hanbali.

Pengertian yang sedemikian luas sehingga juga meliputi para ahli hadis dan penganut tasawwuf. Pengertian inilah yang dipahami oleh umat Islam selama berabad-abad sejak munculnya istilah ini sepeninggal Imam Abu Hasan al-Asy’ari.

Masih menurut beliau, Mazhab Asy’ari bukanlah aliran baru. Namun ia merupakan mazhab yang menjelaskan dengan penuh amanah tentang akidah salaf saleh dengan manhaj/metodologi baru yang menggabungkan antara teks dan akal. Hal inilah yang tidak mampu dilakukan oleh kalangan tekstualis yang sulit untuk melakukan kajian analitik, juga kalangan Muktazilah dan kelompok-kelompok lainnya.

Demikian juga, Mazhab Asya’ri adalah satu-satunya mazhab yang tidak mengafirkan seorang pun dari kalangan ahli kiblat (muslim). Bukti otentik dari sikap ini adalah Imam Abu Hasan al-Asy’ari mengarang kitab yang berjudul “Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin” dimana judulnya menunjukkan bahwa kelompok-kelompok Islam yang dibahas di dalam kitab tersebut masih berstatus muslim.

Dia menyimpulkan bahwa inilah realitas yang telah berjalan di tengah ummat Islam selama lebih 1000 tahun. Dan dengan realitas inilah mereka menjalani kehidupan yang satu tapi meliputi keragaman dan perbedaan pandangan yang terpuji. Serta mencampakkan ghirah perpecahan dan ikhtilaf yang tercela.

Source: Wikipedia.

One thought on “Konferensi 200 Ulama Dunia: Wahabi Bukan Ahlussunnah Wal Jama’ah

Leave a Reply