Kisah Ust. Yusuf Manshur Selalu Gagal Pergi Haji Gak Ada Duit – Alinea Akhir Bikin Nangis

Kisah Ust. Yusuf Manshur Selalu Gagal Pergi Haji Gak Ada Duit – Alinea Akhir Bikin Nangis

Siapa umat Islam di negeri ini yang tak mengenal Ust Yusuf Manshur? Saya yakin, semua sudah pada tahu, minimal pernah melihat Pendiri Daarul Qur’an Internasional School ini di TV. Ajaran paling melekat pada diri ustadz yang satu ini adalah pelajaran SEDEKAH. Kisah di bawah ini semoga makin mendekatkan diri kita kepada-Nya. Amin….

Kisah Ustadz Yusuf Mansur Pergi Haji

Ustadz Yusuf Mansur, mengaku pernah lupa bahwa manusia tak boleh memastikan sesuatu yang belum terjadi. Yusuf berkisah, pada 1990 lalu, ia yakin dan telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menunaikan ibadah haji.

Namun, menjelang hari pemberangkatan ia memliliki masalah sehingga batal ke Tanah Haram. Begitu pula pada tahun 2003. Saat itu, Yusuf kembali memiliki segala persiapan untuk berangkat ke Arab Saudi. Namun karena terganjal masalah keluarga, lagi-lagi ia batal untuk menunaikan ibadah haji.

”Astaghfirullah. Saya pernah lupa sudah merasa yakin dan memastikan hal yang belum terjadi. La haula wala quwwata illa billah,” ujarnya.

Tahun 2005, media massa kerap menggunakan gelar haji yang melekat pada dirinya. ”Padahal waktu itu saya belum berhaji. Alhamdulillah, itu saya anggap sebuah doa,” ujarnya. Ia pun sengaja tidak mengklarifikasi masalah itu karena gelar haji memotivasinya untuk terus memohon agar Allah mengijzinkannya berhaji.

Baca juga: 5 Hikmah Dan Keutamaan Terdahsyat Surat Al-Fatihah Yang Belum Anda Ketahui

Setahun kemudian, sebuah travel terkemuka menawarkan dirinya untuk menunaikan ibadah haji secara gratis. Ia pun diamanahkan untuk menjadi pimpinan rombongan. Ia sempat menolak lantaran belum pernah menunaikan haji. Namun pihak travel terus mendesak ustadz yang pernah keranjingan balap motor ini.

Akhirnya, ia pun setuju dan iklan pun dipajang untuk mengajak masyarakat berangkat haji bersamanya. Pendaftaran para calon jamaah haji pun mengalir. Antusias masyarakat yang ingin pergi bersamanya begitu tinggi.

Tapi Allah masih berkehendak lain. Menjelang pemberangkatan, pihak travel membatalkan dengan alasan jika belum berhaji tidak diizinkan memimpin rombongan. Akhirnya, pihak travel menawarkan dirinya menjadi jamaah lebih dulu, dan tahun berikutnya menjadi pemimpin rombongan.

Tapi tawaran tersebut tak lagi gratis namun mendapat diskon hampir setengah harga. Pria kelahiran Jakarta, 19 Desember 1976 ini mengaku sempat menangis. Bukan karena biaya gratis yang dibatalkan. Ia khawatir merasa membohongi masyarakat dan membuat kecewa banyak calon jamaah.

Namun, ia lebih sedih lantaran Allah tak jua memanggilnya untuk ke Tanah Suci. Ayah empat putra tersebut hampir saja khilaf dan memarahi pimpinan travel. Tapi ia terus bersabar dan bertawakal. Penggarap juga pemain film Kun Fa Yakun ini sempat pesimis dirinya takkan pernah berhaji. Yusuf sempat trauma membicarakan masalah haji, tapi kemudian bangkit lagi. Ia kemudian menyerahkan keinginan mulianya kepada Sang Khalik.

Baca juga:

Begini Akibatnya Jika Wanita Rajin Beribadah Namun Tidak Menutup Aurat (KISAH)

Di tengah kondisi yang kurang mengenakkan, tiba-tiba seorang sahabatnya dari luar kota datang dan hendak meminjam uang sebesar Rp 40 juta. Uang tersebut akan digunakan sahabatnya memberangkatkan saudaranya ke Tanah Suci. Karibnya itu memberi jaminan sebuah mobil tua yang kalau dijual harga tertingginya sekitar Rp 30 juta.

”Subhanallah walhamdulillah, karena saya sering menyuruh orang untuk bersedekah, saya diuji bertubi-tubi,” ujarnya. Dengan kesabaran dan keikhlasan, ia pun memberikan uang tersebut kepada kawannya. Sedangkan mobil tua itu ia biarkan saja.

Yusuf sempat bertanya pada Allah tentang hikmah apa yang ada di balik semua ujian kegagalannya berhaji. Setelah pendaftaran haji 2006 ditutup, ia pun pasrah. Tapi di luar dugaan, ia bertemu dengan seorang Habib keturunan Arab yang mengajaknya makan siang.

Di akhir pertemuannya, sang Habib menanyakan kapan berangkat haji. ”Saya cuma katakan, tidak jadi berangkat. Tidak punya uang,” ujar Yusuf.

Baca juga: [Kisah Nyata] Yusuf dan Zulaikha, Jodoh Yang Tidak Pernah Tertukar

Allah kemudian menunjukkan Kuasa-Nya. Di saat pendaftaran haji sudah tutup, ia bersama istrinya justru berangkat ke Tanah Haram. Yusuf pun semakin sadar apa yang ada dalam persepsi manusia tidak sepenuhnya benar. Ia pun semakin merasakan kehebatan sedekah yang luar biasa. ”Allah memiliki skenario terbaik,” tuturnya.

Doa Bulan Rajab dan Hukum Puasa di Bulan Rajab

Doa Bulan Rajab dan Hukum Puasa di Bulan Rajab

Doa Bulan Rajab

MARHABAN YA RAJAB, Selamat datang bulan RAJAB:

Bulan Rajab telah tiba. Banyak orang yang mencari keutamaan dan niat puasa bulan Rajab. Ada juga yang bertanya-tanya, apakah hukum mengerjakan puasa Rajab: sunnah, makruh, atau justru haram. Samakah tata cara menjalankan puasa bulan Rajab dengan bulan-bulan lain?

Bulan Rajab tergolong dalam empat bulan haram bersama Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Allah bersabda dalam Surah At Taubah: 36, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.”

Berbagai kalangan umat Islam menganggap puasa bulan Rajab sebagai ibadah khusus. Mereka mengucapkan niat puasa Rajab:

“Nawaitu Shauma Syahri Rajab Sunnatan Lillahi Ta’ala”

atau “Saya niat puasa bulan Rajab, sunnah karena Allah ta’ala”.

Puasa Rajab ini didasarkan pada perkataan terkenal bahwa “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang agung, barangsiapa yang berpuasa sehari di bulan itu, Allah tuliskan untuknya (pahala) puasa seribu tahun.” Meskipun demikian perkataan ini bukanlah riwayat Nabi. Ibnu Hajar menggolongkannya sebagai hadits maudhu.

Ringkasnya, berpuasa penuh di bulan Rajab itu boleh asal tidak mengkhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan. Mengingat adanya larangan dari Sayyidina Umar bin Khattab bahwa ketika Bulan Rajab beliau pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa) seraya berkata:

لَا تُشَبِّهُوهُ بِرَمَضَانَ

”Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.”

Disebutkan pula oleh Imam Asy Syafi’i, “Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan.”

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Berpuasalah di bulan haram, lalu jangan puasa (kecuali Ramadhan)… ” (HR. Ahmad, Abu Daud, Al-Baihaqi). Namun dalam ajakan tersebut, berpuasa sunnah tidak hanya dilakukan pada bulan Rajab semata, tetapi pada empat bulan Haram.

Wanita Tidak Boleh Menampakkan Rambut pada Non Muhrim (Dr. Yusuf Al-Qardhawi)

Wanita Tidak Boleh Menampakkan Rambut pada Non Muhrim (Dr. Yusuf Al-Qardhawi)

Fatwa dan pendapat Dr. Yusuf Al-Qardhawi selalu ditunggu oleh banyak orang. Beliau adalah seorang ulama yang mendalam keilmuannya dan merupakan intelektual muslim terkemuka di dunia yang berasal dari Mesir. Nama lengkap beliau adalah Yusuf bin Abdullah bin Ali bin Yusuf. Sedangkan al-Qardhawi (sebagian menulisnya dengan Qaradhawi) adalah sebutan keluarga mengacu pada sebuah kota, yakni al-Qardhah. Pemikiran beliau banyak diwarnai oleh cendekiawan muslim Hasan Al Banna.

Hukum menutup rambut bagi wanita

Berikut adalah pandangan Yusuf Qardhawi tentang rambut wanita:

Telah menjadi suatu ijmak bagi kaum Muslimin di semua negara dan di setiap masa pada semua golongan fukaha, ulama, ahli-ahli hadis dan ahli tasawuf, bahwa rambut wanita itu termasuk perhiasan yang wajib ditutup, tidak boleh dibuka di hadapan orang yang bukan muhrimnya.

Adapun sanad dan dalil dari ijmak tersebut ialah ayat Alquran, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…” (QS. An-Nuur: 31).

Maka, berdasarkan ayat di atas, Allah SWT telah melarang bagi wanita Mukminat untuk memperlihatkan perhiasannya. Kecuali yang lahir (biasa tampak). Di antara para ulama, baik dahulu maupun sekarang, tidak ada yang mengatakan bahwa rambut wanita itu termasuk hal-hal yang lahir.

Bahkan, ulama-ulama yang berpandangan luas, menggolongkan hal itu sebagai perhiasan yang tidak tampak. Dalam tafsirnya, Al-Qurthubi mengatakan, Allah SWT telah melarang kepada kaum wanita, agar dia tidak menampakkan perhiasannya (keindahannya), kecuali kepada orang-orang tertentu; atau perhiasan yang biasa tampak.

Ibnu Mas’ud berkata, “Perhiasan yang lahir (biasa tampak) ialah pakaian.” Ditambahkan oleh Ibnu Jubair, “Wajah.” Ditambahkan pula oleh Sa’id Ibnu Jubair dan Al-Auzai, “Wajah, kedua tangan dan pakaian.”

Ibnu Abbas, Qatadah dan Al-Masuri Ibnu Makhramah berkata, “Perhiasan (keindahan) yang lahir itu ialah celak, perhiasan dan cincin termasuk dibolehkan (mubah).”

Ibnu Atiyah berkata, “Yang jelas bagi saya ialah yang sesuai dengan arti ayat tersebut, bahwa wanita diperintahkan untuk tidak menampakkan dirinya dalam keadaan berhias yang indah dan supaya berusaha menutupi hal itu. Perkecualian pada bagian-bagian yang kiranya berat untuk menutupinya, karena darurat dan sukar, misalnya wajah dan tangan.”
Berkata Al-Qurthubi, “Pandangan Ibnu Atiyah tersebut baik sekali, karena biasanya wajah dan kedua tangan itu tampak di waktu biasa dan ketika melakukan amal ibadah, misalnya shalat, ibadah haji dan sebagainya.”

Hal yang demikian ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Aisyah RA bahwa ketika Asma’ binti Abu Bakar RA bertemu dengan Rasulullah SAW, ketika itu Asma’ sedang mengenakan pakaian tipis.

Lalu Rasulullah SAW memalingkan muka seraya bersabda, “Wahai Asma’, sesungguhnya jika seorang wanita sudah sampai masa haid, maka tidak layak lagi bagi dirinya menampakkannya, kecuali ini…” (beliau mengisyaratkan pada muka dan tangannya).

Dengan demikian, sabda Rasulullah SAW itu menunjukkan bahwa rambut wanita tidak termasuk perhiasan yang boleh ditampakkan, kecuali wajah dan tangan.

Allah SWT telah memerintahkan bagi kaum wanita Mukmin, dalam ayat di atas, untuk menutup tempat-tempat yang biasanya terbuka di bagian dada. Arti Al-Khimar itu ialah “kain untuk menutup kepala”, sebagaimana surban bagi laki-laki, sebagaimana keterangan para ulama dan ahli tafsir. Hal ini (hadis yang menganjurkan menutup kepala) tidak terdapat pada hadis manapun.

Al-Qurthubi berkata, “Sebab turunnya ayat tersebut ialah bahwa pada masa itu kaum wanita jika menutup kepala dengan khamirah (kerudung), maka kerudung itu ditarik ke belakang, sehingga dada, leher dan telinganya tidak tertutup. Maka, Allah SWT memerintahkan untuk menutup bagian mukanya, yaitu dada dan lainnya.”

Dalam riwayat Al-Bukhari, bahwa Aisyah RA berkata, “Mudah-mudahan wanita yang berhijrah itu dirahmati Allah.”

Ketika turun ayat tersebut, mereka segera merobek pakaiannya untuk menutupi apa yang terbuka. Ketika Aisyah didatangi oleh Hafshah dengan memakai kerudung (khamirah) yang tipis di bagian lehernya, Aisyah berkata, “Ini amat tipis, tidak dapat menutupinya.”

Dengan demikian jelaslah bahwa menutup rambut bagi wanita hukumnya wajib. Di sini, tidak dibahas mengenai hukum memakai jilbab. Namun, dapat disimpulkan bahwa berjilbab sebagai upaya menutup rambut adalah wajib hukumnya. Meski demikian, menutup rambut tidak harus dengan jilbab, melainkan bisa dengan kain biasa. Yang penting bisa menutup seluruh rambut dari pandangan umum.

Hukum Makan Daging Siput / Bekicot Halal Apa Haram?

Hukum Makan Daging Siput / Bekicot Halal Apa Haram?

Hukum Makan Daging Siput atau Bekicot Halal Apa Haram?

Beberapa teman di medsos mengajukan pertanyaan demikian.
Aneh memang. Bukan konten pertanyaannya yang aneh. Melainkan tempat mengajukan pertanyaan itu yang kurang pas. Persoalan hukum, apalagi hukum Islam, seyogyanya ditanyakan kepada ahlinya langsung demi validitas dan keakuratan jawabannya. Bukan apa-apa. Sekarang ini banyak akun ustadz klonengan. Contohnya Fanpage (halaman Facebook) KH Muhammad Arifin Ilham saja seabrek. Dari sekian banyak akun FP atas nama Ustadz Arifin Ilham tentu hanya ada 1 (satu) yang asli (official).

Tentang hukum makan daging bekicot (siput); apakah halal (boleh) atau haram, Majelis Ulama Indonesia sudah pernah melakukan pengkajian.

Bekicot Haram
Haram hukumnya mengkonsumsi Sate siput alias bekicot. Sebagaimana penegasan MUI (Majelis Ulama Indonesia)

Setelah melakukan eksplorasi yang komprehensif, dan kajian yang mendalam terhadap Qaul (pendapat) dari Jumhur Ulama (para ulama, mayoritas imam Madzhab terkemuka) Komisi Fatwa (KF) MUI menetapkan fatwa tentang bekicot pada Sidang Komisi Fatwa yang baru lalu di Jakarta. Dalam hal ini ada dua ketetapan. Pertama, “Bekicot itu haram untuk dikonsumsi secara umum, “ ujar Ketua Komisi Fatwa MUI, Prof.Dr.H. Hasanuddin AF, MA.

Menurut Qaul dari Jumhur Ulama, jelasnya lagi, bekicot itu termasuk kategori Hasyarot, dan hasyarot itu haram untuk dikonsumsi. “Kami di MUI mengambil pendapat ini. Walaupun memang ada sebagian kecil Ulama Salaf yang berpendapat lain,” tambahnya.

Maka kami mengingatkan umat agar memahami fatwa ini. Karena di sebagian masyarakat ada yang mengolah bekicot menjadi menu konsumsi, seperti sate bekicot. Termasuk juga menu Escargot, yang terkenal di Eropa. Haram bagi umat Islam untuk mengkonsumsinya. Demikian ditandaskan oleh Ketua KF MUI ini.

Memang, kini di Eropa, utamanya, bekicot sering digunakan sebagai bahan baku makanan yang disebut Escargot. Menu Escargot semula menggunakan bahan baku Helix pomatia (jenis siput yang dapat dimakan dari daratan Eropa). Karena Helix pomatia lama kelamaan sulit diperoleh, maka bekicot jenis Achatina fulica yang relatif lebih mudah dikembang-biakkan, menggantikannya sebagai bahan baku Escargot.

Boleh Intifa’

Ketetapan kedua, berkenaan dengan intifa’ (pemanfaatan) bekicot untuk penggunaan luar. Dalam Sidang KF MUI yang lalu itu juga ditetapkan, Intifa’ atau pemanfaatan bekicot untuk penggunaan di luar tubuh diperbolehkan. Seperti untuk kosmetika luar. Termasuk juga penggunaan untuk obat kalau memang betul-betul diperlukan berdasarkan hasil penelitian medis kedokteran. Dalam hal ini berlaku kaidah Haajiyat, yakni kebutuhan yang memang sangat diperlukan untuk pengobatan, selama belum ada alternatif bahan penggantinya.

Pemanfaatan itu seperti pada kulit bangkai. Pada dasarnya, bangkai itu haram dikonsumsi. Seperti bangkai kambing atau bangkai sapi. Tapi kalau disamak, kulitnya menjadi suci dan boleh dimanfaatkan, misalnya untuk alas kaki, sepatu dan peralatan lainnya. Jadi dari sini memang dapat dipahami, bahwa tidak semua yang haram itu bersifat najis. Demikian Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ini menambahkan penjelasannya.

Namun hukumnya tetap, kulit dari bangkai yang telah disamak itu tidak boleh untuk dikonsumsi. “jadi, memang ada perbedaan fatwa tentang bekicot ini, dalam hal pemanfaatan dengan untuk dikonsumsi,” tandasnya.

Ada beberapa pendapat dari yang mengatakan bahwa bekicot halal dimakan. Mereka adalah sekelompok orang yang dalam berhukum selalu merujuk langsung pada Al Qur’an dan Sunnah. Menurut mereka, selama tidak ada ayat yang melarang makan daging bekicot maka tidak haram mengkonsumsi bekicot.

Sebagai langkah hati-hati (ihtiyath), sebaiknya kita memilih tidak mengkonsumsi daging bekicot. Toh masih banyak daging lain yang jelas kehalalannya untuk dikonsumsi. Wallahu a’lam.

HAJI IFRAD: Panduan dan Cara Mengerjakan Haji Ifrad

HAJI IFRAD: Panduan dan Cara Mengerjakan Haji Ifrad

PENGERTIAN HAJI IFRAD

Haji Ifrad adalah mendahulukan pelaksanaan ibadah haji baru kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan ibadah umrah. Jadi, dalam prakteknya, haji ifrad merupakan kebalikan dari haji tamattu’ meskipun keduanya sama-sama dikenal sebagai usaha memisahkan antara ibadah haji dan ibadah umrah. Dalam pelaksanaannya, waktu memakai ihram dari miqad dengan niat haji saja, kemudian tetap dalam keadaan ihram sampai selesai haji (hari raya kurban). Setelah selesai melaksanakan ibadah haji baru dilanjutkan dengan melaksanakan ibadah umrah. Yang melaksanakan haji ifrad tidak diharuskan membayar dam.

Baca: HAJI TAMATTU’: PENGERTIAN DAN CARA PELAKSANAANNYA

Haji Ifrad Lebih Afdhal, Mengapa?

Menurut Syafi’I dan Maliki, haji ifrad adalah model manasik paling afdhal (utama) karena dengan manasik ini tidak membayar dam. Dan keharusan membayar dam ada dan terjadi dalam rangka denda untuk menyulam kekurangan yang terjadi. Sebagaimana haji Rasulullah saw, menurut kedua madzhab itu adalah termasuk haji ifrad.

HAJI IFRAD

URUTAN DAN TATA CARA HAJI IFRAD BAGI JAMAAH HAJI INDONESIA

Bagi jamaah Haji yang berangkat pada gelombang II, yang kedatangannya sudah mendekati waktu pelaksanaan Haji, maka sebaiknya melaksanakan Haji Ifrad, yaitu mendahulukan Haji baru kemudian melakukan Umrah.

Berikut ini urutan pelaksanaan haji ifrad bagi jamaah Indonesia gelombang II:

  1. Ihram Haji di Miqat ( Bandara King Abdul Aziz )
  2. Thawaf Qudum
  3. Sa’i ( bagi jamaah Haji yang sudah melakukan sa’i setelah thawaf qudum di atas maka setelah thawaf ifadloh tidak wajib sa’i lagi )
  4. Tanggal 9 Dzulhijjah Wukuf di Arafah
  5. Malam tanggal 10 Dzulhijjah Mabit di Muzdalifah
  6. Tanggal 10 Dzulhijjah mulai pertengahan malam melempar Jumrah Aqobah
  7. Tahallul Awal
  8. Thawaf Ifadloh lalu tahallul tsani
  9. Mabit di Mina pada tanggal 11,12 dan atau 13 Dzulhijjah
  10. Melempar ketiga Jumrah : Ula, Wustho dan Aqobah pada tanggal 11,12 dan atau 13 Dzulhijjah setelah matahari condong ke barat
  11. Kembali ke Makkah Al – Mukaromah pada tanggal 12 Dzul Hijjah bagi yang nafar awal, bagi yang tsani pada tanggal 13 Dzulhijjah.

Setelah itu baru kemudian melakukan Umrah wajib. Adapun tata urutan dan lain – lainya sama seperti umrah wajib pada pelajaran tentang Haji Tamattu’ di bagian lain dari blog ini.

Demikian PENGERTIAN DAN PANDUAN CARA MENGERJAKAN HAJI IFRAD. Semoga bermanfaat dan menjadi amal demi kebaikan kita semua. Amiiin

HAJI TAMATTU’: PENGERTIAN & URUTAN MANASIK HAJI TAMATTU

HAJI TAMATTU’: PENGERTIAN & URUTAN MANASIK HAJI TAMATTU

Pengertian Haji Tamattu
Cara mengerjakan Haji Tamattu’, Haji Qiran, dan Haji Ifrad

Haji Tamattu’, sesuai namanya, berarti bersenang-senang (asal kata dari tamatta’a). Dalam hal ini, jamaah haji bermudah-mudah dengan mendahulukan ibadah umroh, baru kemudian melakukan ibadah haji.

Haji Tamattu berbeda dengan Haji Ifrad. Di mana jamaah mengerjakan rangkaian ibadah haji terlebih dahulu sebagaimana mestinya, lalu melakukan urutan ibadah umrah. Oleh karena itu, cara ibadah haji ifrad ini memiliki keutamaan berlebih dibanding tamattu’.

Meski dikatakan sebagai bersenang-senang, ibadah haji tamattu’ ini memiliki konsekwensi. Bagi yang melaksanakan haji Tamattuk diwajibkan membayar dam.

PENGERTIAN HAJI TAMATTU’

Pengertian Haji Tamattu’ adalah melaksanakan Umrah dulu, kemudian baru melaksanakan Haji. Bagi jamaah Haji Indonesia gelombang pertama menuju ke Madinah dulu untuk melaksanakan ziarah dan Sholat arba’in. Setelah itu baru ke Makkah untuk melaksanakan Umrah lalu Haji. Adapun gelombang II, Jamaah langsung menuju Makkah Al – Mukaromah. Baru setelah selesai Haji dan Umrah kemudian, melaksanakan ziarah dan Shalat Arba’in di Madinah.

 

BAGIAN PERTAMA : UMRAH

I. Kegiatan di Miqat

Bagi gelombang I Miqatnya di Bir Ali / Dzul Hulaifah

Sedangkan Gelombang II Miqatnya di bandara King Abdul Aziz.

 

1. Ihram Umrah

  1. Bersuci / mandi, berwudlu, bercukur, menyisir rambut, memakai wangi – wangian.
  2. Memakai pakian Ihram.
  3. Shalat sunat Ihram 2 rakaat. Caranya setelah membaca surat Al – Fatihah rokaat pertama membaca surat Al – Kafirun, sedangkan setelah Surat Al – Fatihah rokaat ke dua mambaca surat Al – Ikhlas.
  4. Membaca do’a Ihram.
  5. Melafalkan niat Umrah
  6. Membaca Talbiyah, Sholawat dan Do’a

 

2. Menuju Makkah Al Mukaromah.

Naik bis bersama rombongan masing – masing, berangkat menuju Makkah dengan memperbanyak bacaan talbiyah, yang setiap 3 kali ditambah dengan Sholawat dan do’a.

 

II. Kegiatan di Makkah Al – Mukarramah.

1. Sampai di Makkah

  1. Ketika memasuki tanah Haram Makkah Al-Mukaramah membaca do’a
  2. Setelah meletakkan barang – barang dipondokan / hotel lalu membersihkan badan serta mempersiapkan diri, menuju Masjidil Haram.
  3. Masuk Masjidil Haram, disunnahkan lewat Babus Salam, dengan berdo’a.
  4. Berdo’a ketika melihat Ka’bah.

 

2. Thawaf Umrah

  1. Memulai Thawaf di garis coklat sambil melambaikan tangan ke arah Hajar Aswad dan kemudian mengecup telapak tangan (dilakukan setiap awal putaran) dengan membaca do’a.
  2. Melakukan Thawaf sebanyak 7 kali putaran, diawali dan diakhiri di garis coklat, langkah awal selalu kaki kanan.
  3. Membaca do’a – do’a ma’tsur pada tempat – tempat tertentu antara lain :
    1. Ketika di depan pintu Ka’bah.
    2. Ketika melintas Maqom Ibrahim
    3. Ketika lari – lari kecil pada 3 putaran pertama.
    4. Ketika melintasi Rukun Iroqi, talang emas (mizab) dan Rukun Syami.
    5. Ketika melintas sudut / rukun yang yamani, isyarat dengan melambaikan tangan tanpa dikecup.
    6. Ketika melintas antara sudut / rukun Yamani sampai Hajar Aswad.
    7. Membaca do’a apa saja yang di kehendaki atau membaca Tasbih.
    8. Setelah selesai Thawaf 7 kali putaran, menuju ke Multazam ( kalau bisa ) untuk berdo’a, dengan do’a apa saja, untuk kebaikan di dunia dan Akhirat, bagi diri sendiri, keluarga serta orang lain.
    9. Shalat sunnah Thawaf 2 rokaat di belakang Maqam Ibrahim, kemudian berdo’a dengan do’a – do’a yang dikehendaki.
    10. Kemudian Shalat di dalam HIJR ISMAIL ( kalau bisa ), shalat sunnah mutlak dan berdo’a.
    11. Menuju sumur Zam – zam, meminum air Zam – zam dengan menghadap kiblat sambil berdo’a.

Setelah semua rangkaian kegiatan Thawaf tersebut dilaksanakan, kemudian menuju mas’a (tempat Sa’i) untuk melakukan Sa’i.

 

3. Sa’i Antara Bukit Shafa dan Marwah

– Sa’i dilaksanakan 7 kali perjalanan antaraShafa dan Marwah.

– Perjalanan dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah.

– Perjalanan dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali perjalanan dan dari Marwah keShafa juga dihitung satu kali.

 

Adapun urut – urutannya adalah sebagai berikut :

  • Menuju BukitShafa.
  • Di bukitShafa menghadap Ka’bah sambil berdo’a untuk memulai sa’i.
  • Kemudian turun menuju Marwah sambil berdo’a yang dikehendaki
  • Ketika melintas antara pilar hijau, baik ketika menuju Marwah ataupunShafa disunnahkan berlari – lari kecil bagi laki – laki sambil berdo’a.
  • Setelah mendekati Marwah ataupunShafa membaca do’a
  • Setelah selesai Sa’i 7 perjalanan dan masih berada di atas bukit Marwah, membaca do’a yang dikehendaki dengan menghadap Ka’bah.

4. Tahallul

Setelah selesai membaca do’a-do’a Sa’i kemudian melakukan Tahallul dengan memotong minimal tiga ( 3 ) helai rambut. Dengan Tahallul ini maka rangkaian Ibadah Umrah sudah selesai.

Perlu diketahui bahwa Umrah wajib atau Umrah sunnah kegiatan dan urutannya sama, namun Jamaah Haji Indonesia yang sedang berada di Tanah suci Makkah ketika akan melaksanakan Ihram Umrah Miqatnya ada beberapa tempat yaitu: Ji’ronah, Tan’im dan Hudaibiyah.

 

5. Menunggu Pelaksanaan Haji

Sambil menunggu mulainya pelaksanaan Haji tanggal 9 Dzul Hijjah (Wuquf di Arafah), maka waktu tersebut dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan Ibadah – ibadah sunnah terutama ibadah yang tidak bisa dilakukan di Indonesia, antara lain :

  1. Umrah Sunnah
  2. Thawaf Sunnah
  3. Jamaah Shalat Maktubah (Shalat Wajib) di Masjidil Haram
  4. I’tikaf, Shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir dan berdo’a di Masjidil Haram
  5. Menjaga diri dari perkara yang melanggar agama dan etika.
  6. Di samping hal – hal tersebut diatas jangan lupa menjaga kesehatan badan.

 

BAGIAN KEDUA : HAJI

I. DI Makkah Al – Mukaromah pada tanggal 8 Dzulhijjah

  1. Mempersipakan diri dan bawaan (pakaian & alat ibadah) yang akan diperlukan selama berada di Arafah, Muzdalifah dan Mina yaitu pada tanggal 9,10,11,12 dan atau 13 Dzul Hijjah.
  2. Selanjutnya:
    1. Bersuci (mandi dan wudlu)
    2. Berpakaian Ihram
    3. Shalat sunnah Ihram 2 rakaat yang setelah bacaan surat Al-fatihah reka’at pertama membaca Surat Al – Kafirun dan reka’at kedua, setelah membaca Surat Al – Fatihah membaca surat Al – Ikhlas.
    4. Membaca do’a Ihram
    5. Melafadzkan niat Haji dengan lisan
    6. Membaca Talbiyah, Sholawat dan Do’a
    7. Berangkat ke Arafah dengan selalu membaca Talbiyah, dan setiap 3 kali ditambah Sholawat dan do’a

 

II. Di Arafah tanggal 9 Dzulhijjah

  • Pada malam tanggal 9 Dzul Hijjah sampai tiba waktu Wukuf, dapat dipergunakan untuk melakukan ibadah – ibadah sunnah, antara lain :
  1. Membaca Al – Qur’an, Dzikir, Shalat sunnah, terutama Shalat Tahajud, membaca Sholawat dan bacaan – bacaan sunnah lainnya.
  2. Shalat jamaah di tenda besar yang digunakan sebagai Mushola.
  3. Mandi sunnah wukuf menjelang zawal.

 

  • Pelaksanaan Wukuf.

 

  1. Setelah matahari condong ke arah barat maka waktu wukuf telah tiba, kemudian bersama – sama masuk tenda besar untuk melaksanakan Shalat dhuhur secara berjamaah.
  2. Mendengarkan Khutbah.
  3. Mengikuti Dzikir secara bersama – sama (bila diadakan) seperti dalam buku panduan
  4. Membaca Al-Qur’an seperti surat Al-Ikhlas sebanyak banyaknya dan sebagainya.
  5. Memperbanyak berdo’a untuk diri sendiri, kedua orang tua, anak cucu, Guru – guru serta untuk kaum muslimin dan muslimat.
  6. Wukuf dilakukan hingga matahari terbenam

 

III. Mabit di Muzdalifah malam tanggal 10 Dzul Hijjah

  1. Diusahakan sampai di Muzdalifah tengah malam
  2. Setelah sampai di Muzdalifah membaca Do’a
  3. Niat Mabit
  4. Mencari kerikil untuk melempar Jumrah
  5. Berangkat menuju Mina sambil membaca Takbir dan Talbiyah

 

IV. Di Mina tanggal 10 Dzul Hijjah

  1. Setelah sampai di Mina membaca Do’a
  2. Meletakkan barang – barang di kemah yaitu di Harotul Lisan (tepatnya disebelah terowongan Mu’aisim )
  3. Istirahat, bersuci ( mandi dan wudlu kalau bisa ), lalu siap – siap melempar Jumrah Aqobah dengan batu yang diambil dari Muzdalifah
  4. Berangkat melempar Jumrah Aqobah, dalam perjalanan sambil membaca Takbir dan Talbiyah
  5. Melakukan pelemparan khusus Jumrah Aqobah sebanyak 7 kali lemparan
  6. Setelah mulai melempar Jumrah Aqobah 7 kali tidak disunnahkan membaca Takbir dan Talbiyah, kecuali takbiran setelah Shalat Fardlu. Serta tidak usah berdo’a di dekat Aqobah pada tanggal 10 Dzuli Hijjah
  7. Menuju tempat penyembelihan, untuk melaksanakan penyembelihan dam dan atau Qurban.

 

V. Tahallul

  1. Setelah melaksanakan penyem-belihan dam serta melempar Jumrah Aqobah, kemudian dapat melakukan Tahallul awal dengan menggunting minimal 3 helai rambut
  2. Setelah Tahallul awal, semua larangan Ihram tidak ada, kecuali nikah atau menikahkan dan menggauli Isteri

 

VI. Thawaf Ifadah

  1. Thawaf Ifadah ini dapat dilaksanakan segera pada tanggal 10 Dzul Hijjah atau dalam hari – hari tasyrik (11,12,13 Dzul Hijjah ) atau sesudah tanggal tersebut
  2. Setelah melaksanakan Thawaf Ifadloh dan Sa’i maka berarti sudah berTahallul Tsani, maka larangan nikah menikahkan dan menggauli isteri sudah tidak ada.

 

VII. Mabit di Mina

  1. Bagi yang Nafar awal wajib Mabit di Mina pada malam tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah
  2. Bagi yang Nafar tsani wajib Mabit di Mina pada malam 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah
  3. Jamaah Haji yang pada waktu Maghrib tanggal 13 Dzul Hijjah masih berada di kawasan Mina, harus Nafar Tsani yaitu (harus Mabit pada malam itu dan melempar tiga Jumrah pada esok harinya )
  4. Bagi Jamaah Haji yang masih belum akan segera pulang ke tanah air sebaiknya melakukan Nafar Tsani

Catatan : Harotul Lisan, tempat perkemahan jamaah Haji Indonesia masih khilaf hukumnya (sebagai Mina Jadid atau Bukan). Oleh sebab itu agar terhindar dari bayar dam bisa dilakukan antara lain :

  1. Setiap malam keluar menuju kawasan Mina yang Asli untuk melaksanakan Mabit
  2. Mengikuti salah satu pendapat ( qoul ) Syafiiyah yang mengatakan bahwa Mabit di Mina hukumnya sunnah
  3. Atau pindah Madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa mabit di Mina hukumnya sunnah

 

VIII. Melempar Jumrah Pada tanggal 11,12,13 Dzul Hijjah

  1. Mandi di perkemahan sebelum melempar Jumrah
  2. Dimulai dari Jumrah Ula kemudian Wustho terakhir Aqobah
  3. Setiap Jumrah dilempar 7 kali dengan yakin masuk lubang Marma
  4. Memulai lemparan pertama dengan membaca :
    Cara haji tamattu
  5. Lemparan kedua sampai ketuju diawali dengan membaca :
    manasik haji tamattu
  6. Setelah melempar Jumrah Ula dan Wustho disunnahkan membaca do’a. Kemudian do’a tersebut juga dibaca setelah sampai di rumah / kemah
  7. Bagi yang ingin Nafar Awal harus segera meninggalkan kawasan Mina sebelum matahari terbenam. Sedang yang menginginkan Nafar Tsani melempar 3 jumrah sampai dengan tanggal 13 Dzul Hijjah

 

IX. Kembali ke Makkah Al – Mukarramah

 

  • Thawaf Ifadloh

Bagi jamaah Haji yang belum melaksanakan thawaf Ifadloh pada tanggal 10 Dzulhijjah, sesampainya di Makkah segera melaksanakan Thawaf Ifadloh. Cara Thawaf Ifadloh sama seperti Thawaf Umrah atau seperti Thawaf yang lain.

 

  • Thawaf Wada’

Bagi Jamaah Haji baik gelombang I ataupun gelombang II yang akan meninggalkan Makkah, baik untuk pulang ke Indonesia atau untuk Ziarah ke Madinah, wajib melaksanakan Thawaf Wada’ (Thawaf pamitan). Caranya juga sama seperti thawaf Ifadloh ataupun Thawaf Umrah.

Setelah selesai berdo’a dan akan keluar dari Masjidil Haram, maka ketika sampai di pintu keluar sebaiknya berpaling menghadap ke ka’bah lalu membaca do’a.

Sedangkan bagi Jamaah Haji perempuan yang sedang Udzur ( haid, dsb.) cukup berdiri di depan pintu lalu membaca Do’a tersebut.

Dengan berakhirnya Thawaf Wada’ tersebut maka selesailah sudah rangkaian ibadah Haji Tamattu’.

Demikian Pengertian Haji Tamattu’ beserta urut-urutan manasik. Semoga bermanfaat

====================

Rangkaian Proses Perjalanan Ibadah Haji dan Umrah dari Indonesia

Rangkaian Proses Perjalanan Ibadah Haji dan Umrah dari Indonesia

Rangkaian Proses Perjalanan Ibadah Haji dan Umrah dari Indonesia dari awal sampai akhir ini kami ambil dari buku Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Multazam Kabupaten Madiun. Tentu saja ada beberapa bagian dari tulisan ini yang kurang cocok bagi calon jamaah haji dari daerah lain. Namun, insya Allah secara inti ada kesamaan.

Urutan Ibadah Haji dari awal hingga akhir

BAB I

CALON JAMAAH HAJI DI DAERAH ASAL

Hal – hal yang perlu dipersiapkan dari rumah

1. Menanyakan segala sesuatu yang belum jelas ke Departemen Agama secara langsung atau lewat telepon

2. Menjaga kesehatan dengan istirahat yang cukup

3. Menyiapkan keperluan sehari – hari seperti : pakaian, baju Ihrom, sandal jepit ( minimal 3 pasang ), kantung sandal, gunting kecil, buku do’a, sabuk (bagi laki-laki), paku cor, palu (satu regu cukup satu), tempat plastik, cepit jemuran, peniti, kaca mata hitam. Bila masih memungkinkan bawa seprei engkel sarung bantal, penebak kecil, payung lipat warna warni yang menyolok, tas kresek, kantong plastik ukuran 1 Kg.

4. Menulis identitas diri pada semua tas, seprti : Nama dan Alamat lengkap, No Telpon, Nomor Paspor dan nomor (kloter, rombongan dan regu).

5. Menyediakan uang saku secukupnya.

6. Membawa obat-obatan bila mempunyai penyakit tertentu, seperti : minyak kayu putih, obat maag, dan sebagainya.

7. Bawa pas foto yang masih ada.

8. Syukuran jangan sampai melelahkan saat pemberangkatan jamaah Haji.

9. Siapkan betul-betul kebutuhan Haji jangan ada sampai yang tertinggal seperti: Jaket, kamera, peci/songkok, jamu, unag saku dan lain – lain.

 

Isi koper dan Tas Tentengan

1. Isi Koper besar antara lain:

  • Sebagian besar pakaian
  • Bahan makan di Saudi (yang kering-kering )
  • Payung sprei engkel.
  • Kain Ihrom bagi jamaah gelombang I.
  • Sandal – sandal
  • Dan lain-lain yang perlu.

2. Isi Tas Tentengan Meliputi.

  • Handuk, sabun, odol, sikat gigi.
  • Sebagian baju.
  • Baju seragam.
  • Surat – surat penting.
  • Kain Ihrom bagi jamaah gelombang II.
  • Sandal (satu stel saja).
  • Obat-obatan.
  • Dan lain-lain yang perlu.

 

Keberangkatan Ke Asrama Haji Surabaya

1. Berangkat menuju Pendopo Kabupaten Madiun sesuai dengan tanggal dan waktu yang telah ditetapkan.

2. Memakai baju/seragam tertentu sesuai yang disepakati.

3. Sholat Safar di rumah dan berdo’a.

4. Upacara pelepasan dan penjelasan-penjelasan dari instansi yang terkait.

5. Naik kendaraan secara berombongan ke Surabaya.

6. Jangan lupa membawa SPMA (Surat Pangilan Masuk Asrama) dan bukti setor an ke bank (yang bermaterai)

7. Mohon diingat-ingat berapa potong barang bawaan.

BAB II

DI ASRAMA HAJI EMBARKASI

SURABAYA

Kedatangan Calon Jamaah Haji di Asrama Haji Surabaya.

1. Calon jamaah Haji menyerahkan Surat Panggilan Masuk Asrama (SPMA) dan lembar biru pelunasan BPIH dan buku kesehatan secara kolektif.

2. Masuk Asrama sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dan terima di gedung penerimaan. Jamaah diberi label Asrama Haji label harus selalu dipakai.

3. Jmaah diterima petugas diberi nomor kamar dan diperiksa kehamilan.

4. Apabila diketahui ada kehamilan, maka akan dibatalkan pemberangkatannya.

5. Barang bawaan tas besar diperiksa Bea Cukai langsung dibawa ke gudang bandara adapun tas kecil masih bisa dibawa ke kamar Asrama (ingatlah bagi jamaah gelombang II kain Ihrom harus dibawa ke kamar Asrama)

6. Tas tentengan berisi barang keperluan sehari – hari seperti sabun, handuk, sikat gigi, sandal, pakaian ganti dan sebagainya dibawa ke kamar.

7. Calon jamaah Haji langsung mencari gedung atau kamarnya, bisa bertannya kepada yang ada.

8. Abat yang diminta dibawa dimintakan surat kepada TKHI agar tidak dirampas di Arab Saudi.

 

Kegiatan di Asrama Haji Sebelum Diterbangkan Menuju Bandara Juanda Surabaya

Istirahat di kamar sambil menunggu pengumuman dari Panitia untuk :

1. Pemantapan tugas Karu Karom (ketua Regu dan Ketua Rombongan).

2. Ketua Regu mengambil gelang bersama ketua Rombongan dan segera dibagi kepada semua jamaah (ketua regu dan ketua rombongan diberi uang jasa oleh Panitia)

3. Kalau waktu masih memungkinkan dihimbau untuk mengikuti jamaah Sholat Subuh, Kuliah Subuh dan Praktek Manasik Haji, tapi bila pesawat berangkat pagi maka Sholat Subuh di kamar masing-masing.

 

Fasilitas yang disediakan di Asramah Haji untuk

Para calon Jamaah Haji

1. Makan gratis 3 kali sehari, pagi (06.00 – 07.00 WIB) : siang ( 12.00 – 13.00 WIB ) malam (18.00 – 19.00 WIB). Jam makan akan diumumkan.

2. Penukaran uang real atau dollar pada bank yang membuka counter di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, (sebaiknya tukar Dollar saja)

3. Juga disediakan tempat konsultasi Haji bagi para jamaah yang menginginkan penjelasan tentang ibadah Haji

4. Diasrama ada kantin makan, tetapi jaga perut agar tidak menganggu pemberangkatan penerbangan.

5. Bila perlu alat kebutuhan semisal sisir, odol atau sarung, handuk, makanan tambahan, cukup beli di toko Asrama Haji.

 

Menjelang Keberangkatan Calon Jamaah Haji ke Bandahara Juanda Surabaya dan diterbangkan menuju king Abdul Aziz Jeddah bagi gelombang II dan ke bandara Madinah bagi gelombang I .

1. Empat jam sebelum keberangkatan calon jamaah Haji menuju Bandara Juanda, dianjurkan agar jamaah berkemas – kemas. Barang bawaan jangan sampai ada yang tertinggal. Kemudian jamaah berjalan menuju Aula Bir Ali. Bagi Jamaah gelombang II munkin harus siap kain Ihrom.

2. Diteras aula jamaah Haji diminta Label Asramahnya.

3. Di Aula bawah tas tentengan dan barang yang lain diletakkan disitu dan diingat – ingat tempatnya. Lalu calon jamaah naik ke Aula Bir Ali (Aula atas) untuk menerima paspor, living cost dan penempelan boarding pass.

4. Setelah acara di Aula Bir Ali selesai, Jamaah sudah menerima paspor, living cost dan boarding pass lalu turun ke aula bawah. Jangan lupa menghitung living cost dihadapan panitia atau karu karom, kemudian menyimpang uang tersebut. Di Aula bawah ada pemeriksaan ulang (Ingat jangan bawa minyak gas, bensin dan barang yang mudah terbakar)

5. Setelah barang diperiksa ualang terus menuju bus yang telah disediakan setelah naik bus lalu diberangkatkan ke lapangan terbang Juanda.

6. Bagi jamaah Haji gelombang II pakaian Ihrom agar dimasukan dalam tas tentengan untuk memudahkan saat ganti pakaian Ihrom di bandara jeddah guna melakukan umroh wajib atau sudah berkain Ihrom dari Asrama.

7. Di pesawat jamaah menyiapkan pospor untuk diserahkan kepada petugas kloter dan akan dirobek lembar ” D ”

8. Selama dalam penerbangan makanan dan minuman disediakan secara gratis, jamaah diharap tetap tenang perbanyak membaca sholawat dan berdzikir.

BAB III

KEDATANGAN DI MADINAH BAGI GELOMBANG I

DAN DI JEDDAH BAGI GELOMBANG II

Di Bandara Madinah / Jeddah.

1. Keluar dari pesawat melalui Balai Gajah menuju Gate (ruang penerimaan). Jangan panik dan kaget masuk diruangan AC banyak petugas dari Arab Saudi, tetapi juga ada Petugas kita yaitu Yansus (Pelayanan Khusus)

2. Petugas dari Arab Saudi (Yunasco) membaur menjadi satu dengan Yansus, calon jamaah Haji diarahkan untuk duduk, pria dan wanita dipisah tempatnya, tetapi terbuka. Biasanya di tempat (ruang) bersama ini mendapatkan penjelasan dari petugas kita di bandara (Yansus)

3. Di ruang kedua para jamaah diharap duduk berderetuntuk antri satu persatu yang dipandu Petugas Imigrasi Arab Saudi untuk diperiksa paspornya. Tempatnya masih terpisah antara pria dan wanita.

4. Pemeriksaan khusus diruang kedua tertutup oleh Petugas Muassasah, pria dan wanita masih terpisah yang pria akan diperiksa oleh petugas pria dan sebaliknya wanita juga Petugas wanita. Karena itu tas berisi barang berharga / uang agar dibawa sendiri.

5. Masuk ke ruang ketiga, para calon jamaah Haji dikumpulkan menjadi satu pria dan wanita. Barang bawaan masuk dirangan lewat X-ray, para jamaah memilih barang bawaan sendiri – sendiri dan dibuka kuncinya dan akan diperiksa oleh petugas Bea Cukai Arab yang berseragam jubah ( gamis )

6. Dalam pemeriksaan ini jamaah harus membuka semua tas / kopor. Barang yang dilarang tidak akan lolos. Perlu diingat jangan membawa baju, jaket atau alat yang lain berbau militer, karena akan menyulitkan.

7. Setelah pemeriksaan barang selesai, maka paspor , tas tentengan ataupun yang dibawa akan ditempeli stiker kecil sebesar perangko. Dipintu keluar ada yang memeriksa barang tersebut sudah ada stikernya atau belum.

8. Para jamaah membawa barang bawaan sendiri – sendiri. Mulai dari sini para jamaah sibuk bekerja untuk dirinya masing – masing, karena itu dianjurkan jangan terlalu berat bawaannya karena akan meyulitkan.

9. Para jamaah diharapkan meyesuaikan diri dengan keadaan dan suhu udara di Arab Saudi. Perbanyak minum dan makan buah buahan.

10. Petugas musiman dari Indonesia sudah menjemput kita di luar dan diarahkan ke tempat khusus jamaah dari Indonesia. Barang bawaan sudah ada yang mengangkat dari kuli – kuli Arab dengan mengunakan kereta dorong yang besar.

11. Petugas TPHI ( ketua Kloter ) melaporkan diri ke sektor Bandara tentang keadaan jamaah dan semua jamaah istirahat sementara lalu mempersiapkan diri ke Mekkah untuk gelombang II.

12. Bagi jamaah haji gelombang II yang berpendapat bahwa Miqotnya di Jeddah akan berangkat ke Mekkah dengan mengadakan persiapan : mandi, wudlu, berpakaian Ihrom, Sholat Sunnah Ihrom dan niat Umroh. Selama dalam perjalanan ke Mekkah disunnahkan membaca Talbiyah.

 

Perjalanan dari Bandara Madinah

1. Perjalanan dari bandara Madinag selama kurang lebih 1/2 jam. Dalam perjalanan jamaah disarankan memperbanyak dzikir.

2. Turun dari bis hendaknya berombongan agar tidak bingung.

3. Para jamaah dimohon untuk selalu bekerja sama untuk mengikuti petunjuk Petugas yang ditentukan.

4. Segera melaporkan kepada Petugas apabila ada kesulitan, misal : kehilangan barang, dsb.

5. Jangan turun dari bus sebelum ada perintah.

6. Biasanya akan dapat kartu pondokan bila sudah masuk kamar (dibagikan oleh karu/karom)

7. Awasi barang – barang yang diturunkan dari bis terutama segera dicari kopernya sendiri agar tidak salah angkut ke lantai yang paling tinggi.

 

Penempatan di Madinah

Penempatan di Madinah bagi gelombang I dilaksanakan sebelum Haji dan gelombang II dilaksanakan sesudah Haji. Hal – hal yang perlu diperhatikan antara lain :

1. Jangan turun dari bis sebelum ada ada pengumuman dari petugas.

2. Mendengarkan penjelasan dari Petugas tentang pembagian kamar.

3. Barang – barang akan diturunkan dari atas bis oleh kuli angkut dan dibawa ke tempat penginapan ( awasi kopernya sendiri )

4. Masing – masing membawa barang – barangnya ke kamar.

5. Jika terjadi peristiwa kehilangan atau sakit sebaiknya dilaporkan ke Petugas (Ketua Rombongan)

6. Istirahat dalam kamar sambil menunggu ke Masjid.

7. Kenali lokasi penginapan anda dengan melihat petunjuk yang telah tersedia untuk menghindari salah alamat / kesasar.

8. Terimalah pembagian kamar apa adanya, sebab ini bagian ujian kesabaran bagi janaah Haji.

9. Sebaiknya apabila ke masjid atau kemana saja berangkat secara rombongan 3 – 4 orang.

10. Menjaga kesehatan dan menghindari panas, kalau dapat pakai kacamata hitam.

11. Setelah satu hari berada di Madinah, jamaah dapat berziarah ke makam Rosululloh SAW, Sayidina Abu Bakar RA, Sayidina Umar, Raudhah ( Dalam Masjid Nabawi ) dan ke pekuburan Baqi’. Ziarah di pandu oleh Muzawir dari Majmu’ah / Muassasah

12. Salah satu hari jamaah dibawa berziarah ke Masjid Quba’, Jabal Uhud, Masjid Qiblatain dan Masjid Tujuh / Khandaq. Kendaraan disediakan oleh Majmu’ah / Muassasah gratis. Tanyakan waktunya kepada karu

13. Ingat dan kenali rombongan dan bus yang anda tumpangi

 

Keberangkatan

1. Setelah di Madinah tujuh hari harus siap – siap Umroh ke Mekkah mengemasi barang – barang dan menyiapkan kain Ihrom yang akan dipakai serta menghafalkan larangan – larangan Ihrom.

2. Berangkat menuju Mekkah sesuai dengan tanggal dan waktu sesuai dengan rombongan masing – masing.

3. Melaporkan kepada Petugas sekiranya ada teman yang sakit.

4. Sehari sebelumnya barang – barang dan tas sudah dirapikan, kecuali baju Ihrom.

5. Sebelum meninggalkan Kota Madinah melaksanakan ziarah Wada’ ke makam Rasululloh SAW.

6. Mandi sunah Ihrom dan memakai pakaian Ihrom di tempat penginapan.

7. Naik bis sesuai dengan rombongan yang telah ditetapkan, bis akan berhenti di Bir Ali mengambil Miqot dan Niat serta menunaikan Sholat Sunnah Ihrom. Jika mengambil Haji Ifrad hendaklah niat Ihrom Haji, jika Haji Tamattu’ niat Ihrom Umroh.

8. Saat turun di Bir Ali perhatikan dengan baik tempat parkir bis kita dan jangan turun sendirian.

9. Di Masjid Bir Ali wudhu bersama, sholat bersama jangan pisah dengan teman.

10. Bagi jamaah gelombang I yang telah selesai melaksanakan ibadah Haji mengadakan persiapan berangkat ke Jeddah. Rapikan barang untuk dibawa pulang.

 

BAB IV

DI MAKKAH

Penempatan di Makkah

Penempatan dilaksanakan bagi gelombang I sesudah ziarah di Madinah dan gelombang II sebelum ziarah di Madinah.

1. Jangan turun dari bus sebelum ada pengumuman dan menerima kartu Hotel.

2. Mendengarkan penjelasan dari petugas tentang pembagian kamar.

3. Barang – barang akan diturunkan dari atau bus oleh kuli angkut dan dibawa ke tempat penginapan (awasi koper masing-masing)

4. Tas kecil dibawa sendiri oleh jamaah, barang atau tas besar akan dibawakan oleh pekerja Hotel / Maktab ke kamar masing – masing.

5. Istirahat dulu di kamar dan sambil mengunggu pengumuman untuk melaksanakan Thowaf di Masjidil Haram, pakaian Ihrom tetap dipakai serta larangan Ihrom tetap di ingat – ingat. Terimalah bagian kamar dengan dengan sabar tawakkal pasa Allah.

6. Sebelum berangkat ke Masjidil Haram Jamaah hendaknya berwudlu terlebih dahulu.

7. Berkumpul di depan penginapan atau Hotel untuk bersama – sama berangkat ke – Masjidil Haram.

8. Jika melaksanakan Haji Ifrod, maka Thowafnya Qudum (selamat datang) dan boleh melaksanakan Sa’I Haji tanpa Tahalul.

9. Jika melaksanakan Haji Tamattu’ , maka melaksanakan rukun Umroh, Thowaf, Sa’I dan Tahalul (bercukur/gunting rambut).

10. Apabila pada saat thowaf atau Sa’I jemaah pecah belah, upayakan kita jangan pecah dengan kelompok kecil kita. Sepakati bersama dimana kita janjian ketemu ( misalnya dipintu sumur Zamzam ) apabila saat Thowaf kita terpaksa pisah dengan rombongan. Begitu pula bersepakat dimana kumpul setelah Sa’I untuk gunting rambut dan pulang bersama-sama di pemondokan.

11. Bercukur jangan sembarangan pinjam gunting (bawa sendiri).

12. Kantong sandal dapat dibawa ke Masjid asal tidak najis.

13. Sebelum Wukuf, sebaiknya hari-hari sebelum berziarah ke Mina dan Arafah untuk melihat-lihat dan belajar mempraktekkan cara – cara melontar Jumraoh maksudnya mengenali medan Wukuf.

 

Pelaksanaan Ibadah Haji di

Arafah Tanggal 8 Dzulhijjah

1. Sebelum berangkat ke Arafah sebaiknya menyiapkan makanan, minuman, buah secukupnya tapi jangan banyak – banyak.

2. Membawa barang sesuai dengan kebutuhan : Sajadah Tasbih, Buku Do’a dan Obat seperlunya, sabun sikat gigi, tikar lipat, garam, sambel pecel, pisau kecil, senter baterai.

3. Tanggal 8 Dzulhijjjah sore berangkat ke Arafah dengan berpakaian Ihrom.

4. Di dalam tenda jamaah disarankan untuk membaca Dzikir bertalbiyah, bertakbir, bertasbih, membaca Qur’an dan membaca kalimat Thoyibah dsb, terutama bertaubat mohon ampunan kepada Alloh, jangan lupa anda masih pakai kain Ihrom, jaga diri, Ibu – ibu jangan buka baju sambil kipas – kipas badan karena kegerahan berarti membuka kain Ihrom.

5. Makanan dan minuman disediakan pihak Maktab (selama berada di Arafah dan Mina) tanpa bayar lagi.

6. Mendengarkan khutbah Arafah sebelum waktu Wukuf.

7. Waktu Wukuf bermula dari tergelincirnya matahari sampai terbenamnya matahari banyak Do’a terkabul saat itu.

8. Sebaiknya tetap berada di kemah dan menjauhkan diri dari sengatan / panas.

9. Jangan berjalan – jalan di luar kemah dan sebaiknya tidak pergi ke Jabal Rahmah.

10. Jangan melanggar larangan Ihrom.

11. Gunakan air sehemat mungkin.

12. Sore hari atau sesudah maghrib mendengarkan penjelasan untuk pergi ke Muzdalifah dan Mina, dan barang – barang segera dirapikan. ( keberangkatan biasanya setelah Sholat Isya’ 9 Dzulhijjah ).

13. Jamaah dimohon untuk sabar, karena bus mengalami kemacetan dan bus mengangkut 2 sampai tiga rit.

14. Naik bus dengan tenang, berkumpul sesuai dengan rombongan masing – masing. Jangan naik bus rombongan lain sebab menyusahkan ketua regu yang merasa kehilangan Anggota.

15. Jumlah bus separo dari bus Mekkah Madinah. Bus ke Arafah dan ke Mina hanya disediakan sedikit untuk menghindari kemacetan yang sangat berat.

16. Perbanyak minum di dalam bus.

Rangkaian Proses Perjalanan Ibadah Haji dan Umrah dari Indonesia dari awal sampai akhir
Urutan Ibadah Haji dari awal hingga akhir

Di Muzdalifah

1. Apabila sampai di Muzdalifah, sopir diingatkan untuk berhenti dan menunggu sampai pukul 24.00 waktu setempat, lewat tengah malam

2. Turun dari bus ( jangan jauh – jauh dari bus ) untuk mengambil kerikil sampai 70 buah (sunahnya hanya 7 buah) dengan membawa kantong dan senter. Bagi pria segera cari tempat untuk buang air kecil.

3. Kembali ke dalam bus dan pastikan jumlahnya cukup sebelum berangkat ke Mina.

4. Mabit di Muzdalifah walau hanya sesaat, setelah tengah malam10 Dzulhijjah sudah cukup.

5. Selama dalam perjalanan menuju Mina jamaah terus menerus bertakbir dan talbiyah.

 

Di Mina 10 Dzulhijjah

1. Setelah sampai di Mina masuk ke kemah masing – masng. Segera ke kamar mandi bila perlu.

2. Makanan dan minuman dibagikan oleh petugas.

3. Mendengarkan penjelasan untuk melontar jumroh Aqobah.

4. Pergi melontar jumroh dengan rombongan masing – masing dibatu oleh petugas ( masih berkain Ihrom )

5. Berkumpul ke tempat semula setelah selesai melontar ( tempat janjian kumpul )

6. Bercukur atau mengunting setelah melontar jumroh Aqobah ( Tahalul Awal )

7. Kembali ke kemah masing-masing dan beristirahat (kain Ihrom sudah bisa dilepas )

8. Menyempurnakan lontaran ke tiga – tiga Jumroh pada tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah, disampaing itu wajib bermalam di Mina.

9. Bersiap – siap untuk kembali ke Makkah pada tanggal 13 Dzullhijjah apabila Nafartsani, tanggal 12 Dzulhijjah apabila Nafar awal.

 

Kembali ke Mekkah

Setelah dari Mina ke Pemondokan

1. Selesaikan Thowaf Ifadhah dan Sa’i.

2. Sempurnakan rukun Haji, Thowaf dan Sa’I sebelum berangkat ke Jeddah, bagi gelombang I dan ke Madinah bagi gelombang II.

3. Tanya TPIHI apa ibadah anda sudah sempurna.

 

BAB V

PERSIAPAN MENINGGALKAN MAKKAH

Hal – hal yang di larang diwaktu Ihrom Haji atau Umroh, beserta sanksi bagi yang melanggar.

1. Rapikan semua barang – barang anda untuk di bawa pulang.

2. Pastikan semua rukun Hajian Umroh telah dikerjakan dengan sempurna.

3. Melakukan howaf Wada’ dengan rombongan masing – masing sebelum ke Jeddah.

4. Bagi jamaah Haji gelombang II persiapan berangkat ke Madinah.

Pelanggaran dan Sanksinya

1. Memakai pakaian berjahit melingkat.

– Denda dengan menyembelih kambing

2. Menutup kepala bagi pria, menutup muka bagi wanita.

– Denda seekar kambing, selain Imam Syafi’I dan Imam Ahmad tersebut bila lupa, terpaksa tidak membayar denda.

3. Mencabut rambut rambut dari badan dengan cara apa saja.

– Denda seekor kambing bila rambut yang dicabut lebih dari 12 helai. Apabila kurang dari jumlah itu dendanya fidyah satu mud beras.

4. Memotong kuku

– Datu kuku dendanya satu mud, dua kuku dua mud, lebih dari dua kuku dendanya menyembelih satu ekor kambing.

5. Memakai wangi – wangian Mutlak

– menyembelih satu ekor kambing.

6. Mengganggu hewan dengan cara apa saja.

– menyembelih hewan yang setara atau diganti makanan yang seharga dengan hewan tersebut, diberikan kepada yang berhak menerima satu orang enam ons, atau puasa satu hari untuk orang miskin.

7. Memotong tumbuhan tanah Haram

– Menyembelih hewan Qur’ban menurut besar kecinya pohon yang dipotong.

8. Bersetubuh dengan Istri.

– Rusak Hajinya. Menurut Imam Syafi’I tidak rusak Hajinya apabila lupa atau dipaksa.

Baca juga: 13 LARANGAN DALAM IHRAM


BAB VI

PEMULANGAN

Kesempatan Transit di Madinatul Hujjaj bagi Gelombang I

Bagi jamaah yang akan pulang ke Indonesia akan disinggahkan ke Madinatul Hijjaj Jeddah lebih kurang 24 jam. Saat itu dapat dimanfaatkan untuk ziaran ke laut merah makam Siti Hawa dan beli oleh – oleh perhiasan di pasar Balad atau supermarket corners membeli VCD, parfum asli perancis atau perhiasan, carter mobil untuk 6 orang masing – masing 15 real.

Madinatul Hujjah ( Jeddah )

1. Dari Makkah menuju Jeddah ( Madinatul Hujjaj ) bagi gelombang I dan bagi gelombang II dari Madinah menuju tanah Air.

2. Di Jeddah istirahat di Asrama Haji Madinatul Hujjaj untuk transit memperoleh jadwal pemberangkatan ke bandara King Abdul Aziz.

3. Cari keterangan koper di angkut ke bandara.

4. Rekreatasi ke Balad ( pusat pertokoan ), pantai laut merah ( setelah tahu kapan pemberangkatan ke bandara ).

5. Proses Ticketing dan menerima lembar paspor.

– Tim pemulangan akan memproses ke petugas Saudi Arabia Airlines Hujjaj ( proses Ticketing Boarding pass dan manifes 22 jam sebelumnya )

6. Proses penimbangan barang, bagi barangnya yang lebih dapat dikirim melalui cargo, Al Munif, Amir cargo ( yang bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia )

7. Selama di Madinah Hujjaj mendapat fasilitas makan gratis untuk itu kartu jangan sampai hilang.

 

Di Bandara saat Pemulangan

1. Telepon ke Keluarga di Indonesia jam berapa diperkirakan tiba di Indonesia ( bila munkin )

2. Duduk sabar menunggu masuk ke pintu penerimaan atau Gate Pemberangkatan.

3. Tas besar mesuk bagasi tas kecil di tenteng masuk pesawat, bila ada ketentuan lain segera tanyakan kepada petugas karu / Karom.

4. Masuk pesawat tidak usah berebut.

Di Pesawat

1. Menyiapkan paspor untuk diserahkan kepada Petugas Kloter yang selanjutnya akan di robek lembar K.

2. Sholat Safar atau berdo’a yang lain sambil mengistirahatkan badan, sebab nanti di Tanah Air sibuk dengan tamu.

3. Makanan gratis dibagikan pramugrari.

Baca juga: 23 KAMUS ISTILAH IBADAH HAJI DAN UMROH

Di Bandara Juanda Surabaya

1. Setelah pesawat mendarat dan parkir di Afron Juanda Surabaya, Jamaah supaya tidak tergesa – gesa turun pesawat, tetap di tempat duduk sambil menunggu pemeriksaan dari 2petugas imigrasi.

2. Selanjutnya turun dengan tertib barang – barang jangan tertinggal di pesawat sambil membawa barang tentengan menuju bus penjemput, jamaah siap berangkat menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya ( membutuhkan waktu + 45 menit )

Di Asrama Haji Debarkasi Surabaya.

1. Setelah Jamaah Haji, turun dari Bus dan masuk ke gedung penerimaan I / II, selanjutnya menempati tempat duduk yang telah disediakan dengan tertib.

2. Segera cari kamar mandi untuk cuci muka atau Sholat, ganti baju, Dll.

3. Sambil menunggu barang – barang bawaan jamaah yang diturunkan dari pesawat dan dibawa kontainer sudah tiba, jamaah mengumpulkan paspor dan buku kesehatan kepada petugas yang berada di meja depan.

4. Jamaah dipanggil satu persatu urut sesuai Manifes maju kedepan untuk menerima paspor dan buku kesehatan, selanjutnya jamaah masuk ke dalam gudang untuk mencari barang – barang bawaannya.

5. Teliti hati – hati jangan sampai keliru dengan barang bawaan jamaah lain.

6. Setelah mendapatkan seluruh barang bawaan, selanjutnya diperiksa kepada petugas Bea dan Cukai yang ada di dalam gudang.

7. Untuk mengankut barang bawaan dari gudang ke tempat penjemputan jamaah Haji bisa minta bantuan kepada petugas dengan ketentuan sebagai berikut :

  • Khusus Jamaah NTB, ongkos angkut sudah di koordinir petugas Daerah.
  • Selain NTB barang bawaan dibawa lansung ke mobil penjemputan oleh penjual jasa dari Asrama Haji.

8. Hati – hati dengan kerumunan penjemput yang ada di luar, tidak mustahil ada penjahat yang menginginkan uang – dompet dan barang – barang anda dengan menyamar sebagai penjemput anda.

9. Naik bis bersama sama rombongan masing – masing menuju pendopo Kabupaten Madiun, tempat penjemputan oleh Pemerintah Kabupaten dan Sanak Keluarga.

Demikian Rangkaian Proses Perjalanan Ibadah Haji dan Umrah dari Indonesia dari awal sampai akhir ini kami selesaikan dengan harapan semoga bisa memberi gambaran secara utuh dan jelas, terutama bagi masyarakat yang belum pernah menunaikan ibadah haji atau umroh. Semoga Mabrur …. Amin.

23 Kamus Istilah Ibadah Haji dan Umroh

23 Kamus Istilah Ibadah Haji dan Umroh

Istilah-istilah yang sering kita dengan dalam hal Ibadah Haji dan Umroh banyak sekali dan terkadang menyulitkan sebagian orang yang kurang familiar dengan Bahasa Arab.

Untuk membantu memberikan pengertian tentang istilah-istilah dalam Ibadah Haji dan Umrah, berikut kami tuliskan 23 di antaranya yang paling sering kita dengar:

Istilah Ibadah Haji dan Umroh

1. Haji adalah berkunjung ke Baitullah (Ka’bah) dan melakukan beberapa amalan antara lain : Wukuf, Tawaf, Sa’i serta amalan lainya pada masa tertentu, demi memenuhi pangilan Allah SWT. dan mengharap Ridla-Nya.

2. Umroh adalah berkunjung ke – Baitullah, dan melakukan Tawaf, Sa’i serta bertahallul demi mengharap Ridho Allah.

Baca juga: PERBEDAAN IBADAH HAJI DAN UMROH

3. Rukun Haji artinya serangkaian amalan yang harus dilakukan dalam ibadah Haji dan tidak dapat diganti dengan yang lain, walaupun dengan dam (denda). Jika ditingalkan maka hajinya tidak sah.

4. Wajib Haji ialah rangkaian amalan yang harus dikerjakan dalam ibadah Haji, bila tidak dikerjakan sah Hajinya, akan tetapi harus membayar dam (denda).

5. Miqat Zamani adalah batas waktu Haji. Menurut Jumhur (sebagaian besar) Ulama’, Miqat Zamani mulai tanggal 01 Syawal sampai terbit fajar tangal 10 Dzul Hijah

6. Miqat Makani adalah Tempat untuk memulai niat mengerjakan ibadah Haji / Umroh.
7. Ihram adalah niat mulai mengerjakan ibadah Haji / Umroh

Baca juga: LARANGAN-LARANGAN DALAM IHRAM

8. Thawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali (Ka’bah selalu berada di sebelah kiri) Dimulai dan diakhiri pada garis sejajar Hajar Aswad

9. Sa’i adalah berjalan dari bukit Shafa ke bukit Marwah, dan sebaliknya sebanyak 7 kali dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah. Perjalanan dari bukit Shafa ke bukit Marwah atau sebaliknya masing – masing dihitung 1 kali.

10. Wukuf adalah keberadaan diri seseorang di padang Arafah walau sejenak dalam waktu antara tergelincir matahari tanggal 9 Dzul Hijjah (hari Arafah) sampai terbit fajar hari Nahar (tanggal 10 Dzul Hijjah)

11. Mabit adalah Bermalam / istirahat.
Mabit terbagi menjadi dua :

a. Mabit di Muzdalifah adalah bermalam di Muzdalifah setelah Wukuf di Arafah. Ketentuan Mabit di Muzdalifah adalah keberadaan jamaah dianggap sah walaupun sesaat setelah lewat tengah malam.
b. Mabit di Mina adalah bermalam di Mina pada hari – hari Tasyriq (tanggal 11,12,13 Dzul Hijjah). Ketentuan Mabit di Mina adalah keberadaan jamaah Haji dianggap sah apabila melewati lebih separuh malam.

12. Melempar Jumrah adalah melempar dengan batu kerikil yang mengenai marma (lubang Ula, Wustha dan Aqabah) dan batu kerikil harus masuk ke dalam lubang Marma tersebut pada hari Nahar dan hari – hari Tasyrik.

13. Tahallul adalah keadaan seseorang yang dihalalkan (dibolehkan) melakukan perbuatan yang sebelumnya dilarang selama berihram.

Tahallul ada dua macam :
a. Tahallul awal adalah keadaan seseorang yang telah melakukan dua diantara tiga perbuatan, misalnya melempar Jumrah Aqobah dan bercukur atau melempar Jumrah Aqabah dan Thawaf Ifadlah serta Sa’i dan bercukur. Sesudah Tahallul awal seseorang boleh berganti pakaian biasa dan memakai wangi – wangian, dan boleh mengerjakan semua yang dilarang selama Ihram kecuali bersetubuh.
b. Tahallul Tsani adalah keadaan seseorang yang telah melakukan ketiga perbuatan : melontar Jumrah Aqadah, bercukur dan Thawaf Ifadlah serta Sa’i. Bagi yang telah melakukan Sa’i setelah Thawaf Qudum tidak perlu melakukan Sa’i setelah Thawaf Ifadah. Sesudah Tahallul Tsani seseorang baru boleh bersetubuh dengan isterinya.

14. Dam menurut bahasa artinya darah, sedangkan menurut istilah adalah : mengalirkan darah (menyembelih ternak yang sudah memenuhi syarat untuk berkorban yaitu Kambing, Unta atau Sapi di tanah Haram dalam rangka memenuhi ketentuan manasik Haji)

15. Nafar menurut bahasa artinya rombongan. Sedangkan menurut istilah adalah : keberangkatan jamaah Haji meninggalkan Mina pada hari – hari Tasyrik.

Nafar terbagi dua bagian :
a. Nafar Awal adalah keberangkatan jamaah Haji meninggalkan Mina lebih awal, paling lambat sebelum terbenam matahari tanggal 12 Dzul Hijjah dan setelah melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqobah.
b. Nafar Tsani adalah keberangkatan jamaah Haji meninggalkan Mina pada tanggal 13 Dzul Hijjah setelah melontar 3 Jumrah tersebut.

16. Hari Tarwiyah yaitu : hari tanggal 8 Dzul Hijjah. Dinamakan hari Tarwiyah (pembekalan) karena jamaah Haji pada Zaman Rosulullah mulai mengisi perbekalan air di Mina untuk perjalanan ke Arafah.

17. Hari Arafah yaitu : hari tanggal 9 Dzul Hijjah. Dinamakan hari Arafah karena semua jamaah Haji harus berada di padang Arafah untuk Wukuf.

18. Hari Nahr yaitu : hari tanggal 10 Zul Hijjah. Dinamakan hari Nahr (penyembelihan) karena pada hari itu dilaksanakannya pemyembelihan dam dan Qurban.

19. Hari tasyrik yaitu : hari tanggal 11,12,13 Dzull Hijjah. Pada hari – hari itu Jamaah haji berada di Mina untuk melontar Jumrah dan Mabit.

20. Shalat Qashar dan Jama’

a. Shalat Qashar. Qashar artinya memendekkan Shalat yang 4 rekaat menjadi 2 rekaat (Dhuhur, Ashar dan Isya) ketentuan ini hanya diperbolehkan untuk keadaan tertentu saja.
b. Shalat Jama‘. Jama’ artinya mengumpulkan Shalat, yaitu mengumpulkan 2 Shalat Wajib yang dikerjakan dalam satu waktu yang sama. Shalat yang dapat dijama’ yaitu Shalat Maghrib dengan Isya, Dhuhur dengan Ashar.
Shalat Jama’ Qoshor adalah 2 shalat fardu dikerjakan bersama dengan memendekkan reka’at – reka’atnya menjadi dua reka’at (Dhuhur, Ashar dan Isya) dan Shalat Jama’ Qoshor dapat saja menjadi Taqdim atau Ta’khir.

21. Shalat jenazah adalah : Shalat yang dikerjakan untuk Jenazah orang Islam. Shalat jenazah merupakan salah satu fardlu kifayah yang hampir selalu dilaksanakan setiap usai Shalat berjamaah, baik di Masjid Nabawi atau Masjid Haram

Shalat Jenazah terdiri dari empat takbir, yaitu :

  1. Takbiratul Ikhrom dengan niat dalam hati menshalatkan Jenazah. Selesai Takbir kemudian membaca Al – Fatihah
  2. Takbir kedua
    Setelah itu membaca Sholawat pada Nabi Muhammad SAW.
  3. Takbir ketiga
    Lalu membaca do’a bagi orang yang dishalati dan kaum muslimin yang telah wafat.
  4. Takbir keempat
    Setelah takbir keempat boleh langsung salam, boleh juga membaca do’a pendek.

Shalat jenazah diakhiri dengan membaca salam. Sunnah hukumnya untuk menyempurnakan salam sampai akhir, yaitu : Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokaatuh.

22. Shalat Li Hurmatil Waqti
Ketika kita akan melakukan Shalat Fardlu namun kita tidak menemukan alat bersuci (air / debu), maka kita melakukan Shalat Li Hurmati Waqti, seperti misalnya kita sedang berada di kapal terbang.
Artinya jika melakukan Shalat tanpa bersuci (karena tidak ada alat bersuci) maka setelah kita sampai tujuan dan mendapatkan air atau debu, maka kita harus Shalat I’adah, yaitu mengulang Shalat yang kita lakukan tadi.

23. Intiqolul Madzhab / pindah Madzhab
Artinya kita mengikuti Madzhab lain. Umpamanya kita menganut madzhab Syafi’i, kemudian kita pindah ke madzhab Maliki. Perihal pindah Madzhab ini ada Syarat – Syaratnya, antara lain harus satu qodliyah (masalah), misalnya dalam hal wudlu, jika kita pindah ke madzhab Maliki maka semua yang berkaitan dengan wudlu harus mengikuti madzhab Maliki, yaitu tentang Syarat, rukun dan yang membatalkan wudlu.

Demikianlah sebagian kecil tentang istilah-istilah seputar ibadah haji dan umroh. Semoga bermanfaat.

Haji Mabrur: Pengertian dan Ciri-Ciri Haji Mabrur

Haji Mabrur: Pengertian dan Ciri-Ciri Haji Mabrur

Haji mabrur sering disebut juga dengan sebutan haji makbul (haji yang diterima). Pengertian haji mabrur kami ulas di bawah. Kata makbul itu sendiri merupakan lawan kata dari mardud (ditolak).

Haji Mabrur, surga adalah imbalannya. Tentu semua orang mendambakan kenikmatan yang dijanjikan oleh-Nya. Sebaik-baik haji adalah haji mabrur. Lantas, apakah sebenarnya haji mabrur dan apa tanda-tandanya serta bagaimana mencapainya? Berikut ini ulasan singkat mengenai hal tersebut. Sebelumnya mohon maaf bila ada kekurangan dan kesalahan.

Haji Mabrur

Keutamaan di Balik Haji Mabrur

Tidak seorangpun di antara kita yang tidak berkeinginan untuk berkunjung ke baitullah. Masing-masing jiwa yang mukmin sungguh sangat mendambakan untuk bisa memandang ka’bah di Mekkah Al Mukarromah. Setiap individu muslim pun ingin menggenapkan kemuslimannya yakni menunaikan rukun Islam yang terakhir. Saat impian itu menjadi nyata dan telah menuntaskan ibadah haji dengan segala manasiknya, idealnya setiap individu meningkat keimanan dan kemuslimannya sebagai pertanda bahwa ia mencapai derajat haji mabrur. Akan tetapi, pada kenyataannya, banyak yang seusai pergi haji yang kondisi iman dan islamnya tidak mengalami perubahan atau bahkan (na’udzubillah) kualitas iman dan islamnya lebih merosot dari sebelumnya. Yang terakhir ini bukan haji mabrur yang diperoleh melainkan haji mardud (tertolak).

Dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri” (HR. Ibnu Majah no 2893. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dalam hadits Ibnu ‘Umar yang lainnya disebutkan,

Adapun keluarmu dari rumah untuk berhaji ke Ka’bah maka setiap langkah hewan tungganganmu akan Allah catat sebagai satu kebaikan dan menghapus satu kesalahan. Sedangkan wukuf di Arafah maka pada saat itu Allah turun ke langit dunia lalu Allah bangga-banggakan orang-orang yang berwukuf di hadapan para malaikat.

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Mereka adalah hamba-hambaKu yang datang dalam keadaan kusut berdebu dari segala penjuru dunia. Mereka mengharap kasih sayangKu, merasa takut dengan siksaKu padahal mereka belum pernah melihatKu. Bagaimana andai mereka pernah melihatKu?!

Andai engkau memiliki dosa sebanyak butir pasir di sebuah gundukan pasir atau sebanyak hari di dunia atau semisal tetes air hujan maka seluruhnya akan Allah bersihkan.

Lempar jumrohmu merupakan simpanan pahala. Ketika engkau menggundul kepalamu maka setiap helai rambut yang jatuh bernilai satu kebaikan. Jika engkau thawaf, mengelilingi Ka’bah maka engkau terbebas dari dosa-dosamu sebagaimana ketika kau terlahir dari rahim ibumu” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Kabir no 1339o. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam Shahihul Jaami’ no. 1360).

 

Haji Mabrur: Doa Minta Haji Mabrur

doa haji mabrur

Ya Allah, semoga Engkau berkenan menghadirkan kami ke Mekah, Arafah dan Madinah, dan berikanlah kami (pahala) haji mabrur, dan ridhailah kami, ampunilah kami, dan sayangilah kami. Engkaulah kekasih kami, maka tolonglah kami atas golongan orang yang kafir.

Haji Mabrur, Jihad yang Paling Utama

Mengenai haji mabrur, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Amalan apa yang paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yang bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yang bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519)

Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

Wahai Rasulullah, kami memandang bahwa jihad adalah amalan yang paling afdhol. Apakah berarti kami harus berjihad?” “Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520)

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang berhaji ke Ka’bah lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).

Ibnu Hajar Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Haji disebut jihad karena di dalam amalan tersebut terdapat mujahadah (jihad) terhadap jiwa.”[1]

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah mengatakan, “Haji dan umroh termasuk jihad. Karena dalam amalan tersebut seseorang berjihad dengan harta, jiwa dan badan. Sebagaimana Abusy Sya’tsa’ berkata, ‘Aku telah memperhatikan pada amalan-amalan kebaikan. Dalam shalat, terdapat jihad dengan badan, tidak dengan harta. Begitu halnya pula dengan puasa. Sedangkan dalam haji, terdapat jihad dengan harta dan badan. Ini menunjukkan bahwa amalan haji lebih afdhol’.”[2]

 

Pengertian Haji Mabrur

Ibnu Kholawaih mendefinikan haji mabrur sebagai berikut: “Haji mabrur adalah haji yang maqbul (haji yang diterima).” Ulama yang lainnya mengatakan, “Haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri dengan dosa.” Pendapat ini dipilih oleh An Nawawi.[3]

Para pakar fiqh mengatakan bahwa yang dimaksud haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori dengan kemaksiatan pada saat melaksanakan rangkaian manasiknya. Sedangkan Al Faro’ berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi hobi bermaksiat. Dua pendapat ini disebutkan oleh Ibnul ‘Arabi.

Haji mabrur menurut Al Hasan Al Bashri rahimahullah, beliau mengatakan, “Haji mabrur adalah jika sepulang haji menjadi orang yang zuhud dengan dunia dan merindukan akherat.”

Haji mabrur menurut Al Qurthubi rahimahullah, beliau menyimpulkan, “Haji mabrur adalah haji yang tidak dikotori oleh maksiat saat melaksanakan manasik dan tidak lagi gemar bermaksiat setelah pulang haji.”[4]

An Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang paling kuat dan yang paling terkenal, haji mabrur adalah haji yang tidak ternodai oleh dosa, diambil dari kata-kata birr yang bermakna ketaatan. Ada juga yang berpendapat bahwa haji mabrur adalah haji yang diterima. Di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari pergi haji dan tidak membiasakan diri melakukan berbagai maksiat. Ada pula yang mengatakan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri unsur riya’. Ulama yang lain berpendapat bahwa haji mabrur adalah jika sepulang haji tidak lagi bermaksiat. Dua pendapat yang terakhir telah tercakup dalam pendapat-pendapat sebelumnya.”[5]

Jika telah dipahami apa yang dimaksudkan dengan haji mabrur, maka orang yang berhasil menggapai predikat tersebut akan mendapatkan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud, ‘tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga’, bahwasanya haji mabrur tidak cukup jika pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.”[6]

Di antara bukti dari haji mabrur adalah gemar berbuat baik terhadap sesama. Dari Jabir, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang haji yang mabrur. Jawaban beliau,

“Suka bersedekah dengan bentuk memberi makan dan memiliki tutar kata yang baik” (HR. Hakim no. 1778. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ no. 2819).

Demikianlah kriteria haji mabrur. Kriteria penting pada haji mabrur adalah haji tersebut dilakukan dengan ikhlas dan bukan atas dasar riya’, hanya ingin mencari pujian, seperti ingin disebut “Pak Haji”. Ketika melakukan haji pun menempuh jalan yang benar, bukan dengan berbuat curang atau menggunakan harta yang haram, dan ketika melakukan manasik haji pun harus menjauhi maksiat, ini juga termasuk kriteria mabrur. Begitu pula disebut mabrur adalah sesudah menunaikan haji tidak hobi lagi berbuat maksiat dan berusaha menjadi yang lebih baik. Sehingga menjadi tanda tanya besar jika seseorang selepas haji malah masih memelihara maksiat yang dulu sering ia lakukan, seperti seringnya bolong shalat lima waktu, masih senang mengisap rokok atau malah masih senang berkumpul untuk berjudi. Jika demikian keadaannya, maka sungguh sia-sia haji yang ia lakukan. Biaya puluhan juta dan tenaga yang terkuras selama haji, jadi sia-sia belaka.

Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari-Nya. Oleh karenanya, senantiasalah memohon kepada Allah agar kita yang telah berhaji dimudahkan untuk meraih predikat haji mabrur. Yang tentu saja ini butuh usaha, dengan senantiasa memohon pertolongan Allah agar tetap taat dan menjauhi maksiat. Semoga Allah menganugerahi kita haji yang mabrur. Amin Yaa Mujibas Saailin.

Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal


[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 3/382.

[2] Lathoif Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, cetakan pertama, 1428 H, hal. 403.

[3] Lihat Fathul Bari, 3/382.

[4] Lihat Tafsir Al Qurthubi, Muhammad bin Ahmad Al Anshori Al Qurthubi, Mawqi’ Ya’sub, 2/408.

[5] Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, 1392, 9/118-119.

[6] Syarh Shahih Muslim, 9/119.

 

13 Larangan Dalam Ihram Bagi Laki-Laki dan Perempuan

13 Larangan Dalam Ihram Bagi Laki-Laki dan Perempuan

Larangan Ihram

Pengertian Larangan Ihram

Larangan ihram adalah amalan (perbuatan) yang tidak boleh dilakukan selama kegiatan berihram. Namun, seandainya jika terpaksa dilakukan oleh orang yang berhaji atau umroh, maka ibadah haji dan umrahnya tetap sah dan pelakunya wajib membayar denda (dam) yang telah ditetapkan.

Ada 13 hal yang dilarang ketika sedang Ihram, antara lain :

1. Bagi setiap laki-laki tidak boleh memakai pakaian yang ada jahitannya.

Ibnu Umar r.a. berkata seorang sahabat telah bertanya (kepada Nabi Saw.), ”Wahai utusan Allah, pakaian apa yang boleh dikenakan bagi orang yang berihram?” Jawab beliau, ”Tidak boleh mengenakan baju, sorban, celana topi dan khuf (sarung kaki yang terbuat dari kulit), kecuali seseorang yang tidak mendapatkan sandal, maka pakailah khuf, namun hendaklah ia memotongnya dari bawah dua mata kakinya; dan janganlah kamu mengenakan pakaian yang dicelup dengan pewarna atau warna merah.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari III:401 no:1542, Muslim II:834 no:1177, ’Aunul Ma’bud V:269 no:1806, dan Nasa’i V:129).

Dan diberi keringanan bagi orang yang tidak memiliki kecuali celana panjang dan khuf agar mengenakan keduanya tanpa harus memotong. Ini didasarkan pada hadits dari Ibnu Abbas r.a. bertutur, saya pernah mendengar Nabi saw. berkhutbah di ’Arafah, ”Barangsiapa yang tidak mendapatkan sandal, maka pakailah khuf; dan barangsiapa yang tidak mendapatkan kain panjang maka pakailah celana [beliau mengucapkan hal ini untuk orang yang berihram].”
(Bukhari wa Muslim: Fathul Bari IV:57 no:1841, Nasa’i V:132, Muslim II:835 no:1178, Tirmidzi II:165 no:835, dan ‘Aunul Ma’bud V:275 no:1812).

2. Bagi setiap laki – laki tidak boleh memakai sepatu yang sampai menutupi mata kakinya.

3. Bagi setiap laki-laki tidak boleh menutupi kepala baik sebagian ataupun seluruhnya.

Hal ini mengacu kepada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a., ”Tidak boleh memakai baju dan tidak (pula) sorban.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no:1012).

Namun boleh berteduh di bawah kemah dan semisalnya, karena dalam hadits riwayat Jabir ra yang telah dimuat dalam beberapa halaman sebelumnya bahwa Nabi saw. menyuruh (seorang sahabat) menyediakan kemah, lalu dipasanglah kemah untuk beliau di Namirah, kemudian beliau singgah di dalamnya).

4. Bagi setiap wanita tidak boleh menutup wajahnya.

Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Nabi Muhammad bersabda, ”Janganlah seorang perempuan yang berihram mengenakan cadar dan jangan (pula) menggunakan kaos tangan.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no:1022, Fathul Bari IV:52 no:1838, ’Aunul Ma’bud V:271 no:1808, Nasa’i V:133, dan Tirmidzi II:164 no:834).

Namun boleh bagi perempuan menutup wajahnya bila ada sejumlah laki-laki yang lewat di dekatnya.

Dari Hisyam bin ‘Urwah dari Fathimah binti al-Mundzir bahwa ia pernah bertutur, “Kami pernah menutup wajah kami sewaktu kami berihram, dan kami bersama Asma’ binti Abu Bakar Ash-Shiddiq.” (Shahih: Urwa-ul Ghalil no:1023, Muwattha’ Imam Malik hal.224 no:724, dan Mustadrak Hakim I:454).

5. Bagi setiap wanita tidak boleh memakai kaos tangan.
6. Bagi setiap wanita tidak boleh membuka tutup kepala baik sebagian atau seluruhnya.
7. Memakai wewangian
berdasarkan hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a., “Dan, janganlah kamu mengenakan pakaian yang dicelup dengan ra’faran (kumkuka) atau dengan waras (sebangsa celupan berwarna merah).” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari III:401 no: 1542, Muslim II:834 no: 117, ‘Aunul Ma’bud V:269 no:1806, dan Nasa’i V:129)

Dan, sabda Rasulullah saw. tentang seorang yang berihram yang terlempar dari atas untanya hingga wafat, ”Janganlah kalian memulurinya (dengan balsam) agar tetap awet dan jangan (pula) menutup kepalanya; karena sesungguhnya dia akan dibangkitkan pada hari kiamat (kelak) dalam keadaan membaca talbiyah.” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari III:135 no:265, Muslim II:865 no:1206, ’Aunul Ma’bud IX:63 no:3222-3223, dan Nasa’i V:196).

8. Memotong kuku dan rambut / bulu badan.
Allah SWT berfirman, “…Dan janganlah kamu mencukur rambutmu, sebelum binatang hadyu sampai di lokasi penyembelihannya….” (Al-Baqarah:196).

Di samping itu, para ‘ulama sepakat atas haramnya memotong kuku bagi orang yang sedang berihram. (al-Ijma’ oleh Ibnul Mundzir hal. 57).

Boleh saja menghilangkan rambut bagi orang yang merasa terganggu dengan adanya rambut tersebut, namun ia harus membayar fidyah, Allah SWT menegaskan, “… Jika ada diantar kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya bayar fidyah, yaitu berpuasa atau berhadaqah atau berkorban….” (Al-Baqarah:196).

Dari Ka’ab bin ’Ujrah r.a. bahwa Nabi saw. melewatinya ketika ia berada di daerah Hudaibiyah sebelum masuk Mekkah dan ia sedang berihram ketika menyalakan api di bawah kualinya, sementara kutunya berkeliaran di wajahnya, lalu beliau bertanya, ”Apakah kutumu ini mengganggumu?” Jawabnya, ”Ya, (menggangu),” Sabda beliau (lagi), ”Maka cukurlah rambutmu dan berilah makan tiga sha’ makanan (yang dibagi bagi) antara enam orang miskin, atau berpuasalah tiga hari atau berkurban seekor binatang kurban!” (Muttafaqun ’alaih: Muslim II”861 no:83 dan 1201 dan lafadz ini baginya, Fathul Bari IV:12 no:1814 ’Aunul Ma’bud V:309 no:1739, Nasa’i V:194, Tirmidzi II:214 no:960 dan Ibnu Majah II:1028 no:3079).

9. Membunuh atau memburu binatang darat.

Allah SWT berfirman, “Dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat selama kamu dalam keadaan ihram.” (Al-Ma-idah:96).

Di samping itu, ada sabda Nabi saw, yaitu tatkala beliau ditanya oleh para sahabat yang sedang berihram perihal seekor keledai betina yang ditangkap dan disembelih oleh Ibu Qatadah yang tidak ikut berihram. Maka jawab beliau, “Adakah seorang di antara kamu sekalian yang menyuruh dia (Abu Qatadah) agar menangkapnya, atau memberi isyarat ke tempat binatang itu?” Maka jawab mereka, “Tidak ada.” Sabda beliau (lagi), “Maka makanlah!” (Muttafaqun ’alaih: Fathul Bari V:28 no:1824, Muslim II:853 no:60 dan 1196, Nasa’i V:186 sema’na).

10. Memotong atau mencabut tanaman di tanah Haram.
11. Nikah atau menikahkan.

Berdasarkan hadits Utsman dari Usman r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, ”Orang yang berihram tidak boleh menikahi, tidak boleh dinikahi, dan tidak boleh melamar.” (Shahih: Mukhtashar Muslim no:814, Muslim II:1030 no:1409, ’Aunul Ma’bud V:296 no:1825, Tirmidzi II:167 no:842, dan Nasa’i V:192).

12. Bercumbu rayu dan bersetubuh.
13. Mencaci-maki atau mengucapkan kata-kata kotor.

Demikian ke-13 larangan ketika ihram agar bisa diingat-ingat dan dihindari. Semoga bermanfaat.